Gangguan Stres pada Pelaut: Tinjauan Psikoneuroimunologi

Oleh : Dr. dr. Arif Rahman Nurdianto, M.Imun., M.H.
Pembimbing : dr. Hesti Ekawati, Sp.KL., M.MTr
Residen PPDS Spesialis Kedokteran Kelautan Universitas Hang Tuah Surabaya

Pelaut sering kali menghadapi lingkungan kerja yang penuh tekanan yang berpotensi mengakibatkan gangguan stres. Stres yang dialami tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat mempengaruhi sistem imun dan kesehatan fisik secara keseluruhan. Psikoneuroimunologi (PNI) merupakan disiplin ilmu yang mempelajari hubungan antara sistem psikologis, saraf, dan imun, memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana stres dapat mempengaruhi pelaut.

Gangguan Stres pada Pelaut

Stres yang dialami oleh pelaut dapat dipicu oleh berbagai faktor, antara lain isolasi sosial, tekanan kerja yang tinggi, dan kurangnya kontrol terhadap lingkungan sekitar. Wu et al. (2020) mengungkapkan bahwa stres berkepanjangan pada pelaut berpotensi menyebabkan gangguan kecemasan, depresi, serta berbagai masalah kesehatan fisik lainnya.

Patofisiologi

  1. Respon Stres
    Ketika pelaut mengalami stres, tubuh mereka merespons dengan meningkatkan produksi hormon stres, seperti kortisol. Peningkatan kadar kortisol dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi sistem imun, memperbesar risiko penyakit, dan berkontribusi pada gangguan kesehatan (McEwen, 2007).
  • Imunomodulasi
    Stres memengaruhi sistem imun melalui jalur neuroendokrin. Hormon stres dapat menurunkan aktivitas sel imun seperti limfosit T dan sel natural killer (NK), yang berfungsi untuk melawan infeksi dan penyakit (Segerstrom & Miller, 2004). Akibatnya, pelaut yang mengalami stres tinggi memiliki risiko lebih besar terhadap infeksi dan penyakit.
  • Gangguan Kesehatan Mental
    Stres yang berlangsung lama dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan dan depresi. Pelaut dengan gangguan kesehatan mental seringkali mengalami masalah tidur, yang semakin memperburuk kondisi fisik dan mental mereka (Vink et al., 2014).

Dampak pada Kesehatan

Kombinasi stres psikologis dan perubahan imunologis dapat menghasilkan dampak negatif yang besar pada kesehatan. Pelaut yang mengalami stres berkepanjangan berisiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit kardiovaskular, gangguan pencernaan, dan penyakit infeksi (Kleiner et al., 2018).

Gangguan Stres pada Pelaut: Pengaruh pada Aksis HPA, Hormonal, dan Sel Imun

Pelaut sering terpapar pada kondisi yang penuh tekanan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dapat memicu gangguan stres. Salah satu dampak utama dari stres adalah aktivasi sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA), yang memengaruhi sekresi hormon dan respons imun. Pemahaman tentang bagaimana stres memengaruhi sumbu HPA, hormonal, dan sel imun sangat penting dalam upaya menjaga kesehatan pelaut.

Gangguan Stres dan Aksis HPA

Sumbu HPA memainkan peran kunci dalam respons stres. Ketika pelaut mengalami stres, hipotalamus akan melepaskan corticotropin-releasing hormone (CRH), yang selanjutnya merangsang kelenjar pituitari untuk memproduksi adrenocorticotropic hormone (ACTH). ACTH kemudian merangsang kelenjar adrenal untuk memproduksi kortisol, hormon utama yang terlibat dalam respons terhadap stres (Hauger et al., 2006).

Dampak Peningkatan Kortisol

Peningkatan kadar kortisol yang berlangsung lama dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh. Kortisol berfungsi untuk mengatur metabolisme dan respons imun, namun dalam kadar yang tinggi, ia dapat menyebabkan imunosupresi dan meningkatkan risiko infeksi (Sapolsky et al., 2000).

Pengaruh Hormonal dan Sitokin

Stres juga memengaruhi keseimbangan hormonal lainnya, termasuk hormon seks dan sitokin. Peningkatan kadar kortisol dapat mengurangi produksi hormon seks, seperti testosteron dan estrogen, yang penting untuk kesehatan reproduksi dan kesejahteraan mental (Meyer et al., 2014).

Sitokin dan Respons Inflamasi

Stres dapat merubah pola produksi sitokin, yang merupakan protein yang mengatur komunikasi antara sel-sel imun. Penelitian menunjukkan bahwa stres dapat meningkatkan produksi sitokin pro-inflamasi, seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), yang berkontribusi pada peradangan sistemik (Kiecolt-Glaser et al., 2003).

Sel Imun yang Terlibat

Berbagai sel imun terlibat dalam respons terhadap stres, antara lain:

  • Limfosit T: Stres dapat mengurangi jumlah dan fungsi limfosit T, yang penting dalam melawan infeksi (Glaser et al., 1999).
  • Sel Natural Killer (NK): Aktivitas sel NK, yang berfungsi melawan sel kanker dan infeksi virus, juga dapat menurun akibat stres (Miller et al., 2005).
  • Makrofag: Stres dapat memengaruhi aktivitas makrofag, yang berperan dalam mengatur respons imun dan inflamasi.

Gangguan Stres pada Pelaut: Hubungan dengan Aksis HPA dan Risiko Bunuh Diri

Pelaut sering kali menghadapi berbagai tantangan dan stresor, baik dari lingkungan kerja yang keras maupun dari keterasingan sosial. Gangguan stres ini dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik mereka. Salah satu mekanisme utama yang berperan dalam respons terhadap stres adalah aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA) serta perubahan hormonal yang terjadi akibat stres tersebut.

Gangguan Stres dan Aksis HPA

Aksis HPA adalah jalur neuroendokrin yang mengatur respons tubuh terhadap stres. Ketika pelaut mengalami stres, hipotalamus melepaskan corticotropin-releasing hormone (CRH). CRH ini merangsang kelenjar pituitari untuk mengeluarkan adrenocorticotropic hormone (ACTH), yang pada gilirannya merangsang kelenjar adrenal untuk memproduksi kortisol (Hauger et al., 2006). Peningkatan kortisol merupakan bagian dari respons tubuh terhadap stres yang berfungsi untuk meningkatkan energi dan mengatur proses metabolisme.

Dampak Peningkatan Kortisol

Kadar kortisol yang tinggi dapat menyebabkan berbagai gangguan klinis, seperti gangguan kecemasan, depresi, dan masalah fisik seperti hipertensi dan diabetes. Stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan disfungsi sumbu HPA, yang berdampak pada kesehatan mental dan fisik pelaut (Sapolsky et al., 2000). Ismail et al. (2020) melaporkan bahwa pelaut yang mengalami stres tinggi menunjukkan peningkatan signifikan dalam gejala kecemasan dan depresi.

Kondisi Klinis Terkait Stres

Gangguan Kesehatan Mental
Pelaut yang mengalami stres sering kali juga menghadapi gangguan kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan dan depresi. Penelitian menunjukkan bahwa pelaut memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum, sering kali terkait dengan faktor stres yang unik dalam pekerjaan mereka (Harris et al., 2018). Gangguan ini sering kali mengarah pada perasaan putus asa dan peningkatan risiko bunuh diri.

Risiko Bunuh Diri
Laporan dari International Maritime Organization (IMO) menunjukkan bahwa tingkat bunuh diri di kalangan pelaut dapat mencapai 30% dari semua kematian terkait pekerjaan di sektor maritim (IMO, 2020). Stres yang berkepanjangan dan kondisi mental yang memburuk dapat membuat pelaut merasa terjebak dan tidak ada harapan, yang berkontribusi pada peningkatan risiko bunuh diri. Isolasi, tekanan pekerjaan, dan ketidakpastian dalam karier dapat memperburuk kondisi ini (Wong et al., 2021).

Hubungan dengan Hormonal

Stres tidak hanya memengaruhi sekresi kortisol, tetapi juga mengganggu keseimbangan hormon lain, termasuk hormon seks. Peningkatan kortisol dapat menurunkan produksi hormon seks seperti testosteron pada pria dan estrogen pada wanita, yang dapat berdampak pada kesehatan reproduksi dan kesehatan mental secara keseluruhan (Meyer et al., 2014). Penurunan hormon seks ini dapat memperburuk gejala depresi dan kecemasan.

Inflamasi dan Sitokin

Stres juga dapat meningkatkan produksi sitokin pro-inflamasi, seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental dan fisik (Kiecolt-Glaser et al., 2003). Proses inflamasi ini berkontribusi pada peningkatan risiko bunuh diri, karena kondisi fisik yang buruk dapat memperburuk kondisi mental pelaut.

Daftar Pustaka

Chrousos, G.P., 2009. Stress and disorders of the stress system. Nature Reviews Endocrinology, 5(7), pp.374-381.
Dawson, D., et al., 2017. The relationship between sleep and health in seafarers: A review. International Maritime Health, 68(2), pp.97-103.
Glaser, R., et al., 1999. Stress-induced modulation of the immune response. Journal of Psychosomatic Research, 46(1), pp.15-20.
Harris, J.R., et al., 2018. Mental health issues among maritime workers: A systematic review. Occupational Medicine, 68(8), pp.548-556.
Hauger, R.L., et al., 2006. The role of the hypothalamic-pituitary-adrenal axis in stress: A review. Journal of Clinical Psychiatry, 67(11), pp.17-23.
Ismail, M.A., et al., 2020. The impact of stress on mental health among seafarers. International Maritime Health, 71(1), pp.1-6.
Kiecolt-Glaser, J.K., et al., 2003. Chronic stress and immunity in humans: A review. Psychosomatic Medicine, 65(1), pp.18-27.
Kleiner, A.C., Tull, M.T. & Keng, J.M., 2018. Psychological and physical health implications of stress in mariners. Journal of Maritime Health, 69(2), pp.123-130.
McEwen, B.S., 2007. Stress, neurotransmitters, and the immune system. American Journal of Psychiatry, 164(4), pp.570-573.
Meyer, J.S., et al., 2014. The role of stress in hormone regulation: Clinical implications. Endocrine Reviews, 35(2), pp.159-189.
Miller, A.H., et al., 2005. Cytokine dysregulation and the effects of stress on the immune system: Implications for health and disease. Journal of Psychiatric Research, 39(1), pp.55-63.
Sapolsky, R.M., et al., 2000. Stress and the brain: The role of glucocorticoids. Nature Reviews Neuroscience, 1(3), pp.197-204.
Segerstrom, S.C. & Miller, G.E., 2004. Psychological stress and disease. JAMA, 298(14), pp.1685-1687.
Vink, J., Hegeman, J. & van Meijel, B., 2014. Mental health issues in maritime workers: A review. Maritime Health, 166(2), pp.171-176.
Wong, J., et al., 2021. Suicide risk among seafarers: A global perspective. Maritime Health, 172(4), pp.341-347.
Wu, T., Wang, Y. & Liu, X., 2020. The impact of occupational stress on mental health among seafarers. International Maritime Health, 71(1), pp.54-61.
International Maritime Organization (IMO), 2020. The human element – An analysis of the human element in maritime safety. London: IMO.