Dampak Stress atau Mental Health Dalam Sistem Organ Muskuluskletal

Oleh: dr Anis Dwi Anita Rini, M.H Perfusionist
Residen Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan, Universitas Hang Tuah, Surabaya

Pendahuluan

  • Sistem muskuloskeletal

Sistem muskuloskeletal merupakan salah satu sistem penting dalam tubuh manusia yang berperan dalam menjaga kestabilan dan memberikan dukungan struktural pada tubuh. Sistem muskuloskeletal manusia (juga dikenal sebagai sistem lokomotor manusia, sebelumnya sistem aktifitas), adalah sebuah system organ yang memberi manusia kemampuan untuk bergerak menggunakan otot dan rangka. Sistem muskuluskeletal memberi bentuk, tunjangan, keseimbangan dan pergerakan tubuh. [2]

Sistem ini terdiri dari tulang, otot, dan sendi yang bekerja secara bersama-sama untuk memungkinkan gerakan tubuh dan melindungi organ-organ vital di dalamnya. Pengertian sistem muskuloskeletal meliputi struktur, fungsi, dan peran pentingnya dalam menjaga kesehatan dan kualitas hidup seseorang.[1]

Sistem ini terdiri dari rangka yang terdiri dari tulang, otot, tulang rawan,[2] tendon, ligament, sendi dan jaringan ikat lainnya yang menunjang tubuh, memberi kemampuan gerak, dan menggabungkan jaringan-jaringan beserta organ Bersama. Fungsi utama dari system ini mencakup menunjang tubuh, memberi kemampuan gerak, dan melindungi organ-organ penting.[3] Bagian rangka dari sistem ini memjdi sistem penyimpanan utama untuk kalsium dan fosfor pada tubuh manusia dan mengandung komponen penting untuk sistem hematopoietik (pembentukan darah).[4]

Fungsi utama system Muskuloskeletal adalah sebagai berikut : [4]

  1. Memberikan bentuk dan dukungan pada tubuh manusia.
  2. Memungkinkan gerakan tubuh, baik gerakan besar seperti berjalan, berlari, atau melompat, maupun gerakan halus seperti menggerakkan jari.
  3. Melindungi organ-organ tubuh yang penting, seperti jantung, paru-paru, dan otak.
  4. Membantu dalam proses produksi sel darah di sumsum tulang.

Beberapa cara untuk menjaga kesehatan Sistem Muskuloskeletal adalah : [1]

  1. Melakukan olahraga secara teratur, seperti berjalan, berlari, atau berenang, untuk memperkuat otot dan tulang.
  2. Mengonsumsi makanan yang kaya kalsium dan vitamin D, seperti susu, keju, ikan, dan sayuran hijau.
  3. Menghindari posisi duduk atau berdiri dalam waktu yang lama, dengan sering mengubah posisi tubuh.
  4. Menggunakan perlengkapan pelindung saat berolahraga atau melakukan aktivitas yang berisiko cedera pada sistem muskuloskeletal.

Beberapa penyakit atau gangguan yang dapat terjadi pada Sistem Muskuloskeletal meliputi:[1]

  1. Osteoporosis: Penyakit di mana tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
  2. Arthritis: Peradangan pada sendi yang menyebabkan nyeri dan keterbatasan gerakan.
  3. Cedera otot atau tulang: Seperti patah tulang, terkilir, atau cedera ligamen atau tendon.
  4. Skoliosis: Kelainan pada tulang belakang yang menyebabkan lengkungan pada tulang belakang.
  • STRES

Stres adalah reaksi fisik atau emosional tubuh terhadap situasi atau kejadian yang dianggap menantang atau mengancam. Stres dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk pekerjaan, hubungan pribadi, masalah keuangan, atau masalah kesehatan. Ada dua jenis stres utama: [8]

  1. Stres Akut

adalah respon stres jangka pendek yang terjadi ketika menghadapi situasi yang menekan, seperti ujian, presentasi, atau keadaan darurat. Stres akut biasanya bersifat sementara dan dapat membantu tubuh untuk merespons dan mengatasi tantangan dengan cepat.

  • Stres Kronis

adalah jenis stres yang berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama. Stres kronis dapat disebabkan oleh masalah yang berkelanjutan, seperti tekanan pekerjaan yang konstan, masalah keluarga, atau masalah kesehatan yang tidak kunjung sembuh. Stres kronis dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.

Gejala Stres :

  • Fisik: Sakit kepala, sakit otot, kelelahan, gangguan tidur, dan masalah pencernaan.
  • Emosional: Kecemasan, depresi, mudah marah, dan perubahan suasana hati.
  • Perilaku: Perubahan nafsu makan, perilaku menghindar, peningkatan konsumsi alkohol atau rokok, dan pengurangan aktivitas fisik.

Pengelolaan Stres: [8]

Untuk mengelola stres dengan efektif, penting untuk mengenali penyebabnya dan menerapkan strategi yang dapat membantu mengurangi dampaknya.

Beberapa cara untuk mengelola stres meliputi:

  • Olahraga: Aktivitas fisik dapat membantu melepaskan ketegangan dan meningkatkan mood.
  • Relaksasi: Teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam dapat membantu menenangkan pikiran.
  • Pola Makan Sehat: Makan makanan bergizi dan seimbang.
  • Dukungan Sosial: Berbicara dengan teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental dapat memberikan dukungan emosional.
  • Dampak Stress atau Mental Health dalam sistem organ muskuluskletal

Gangguan muskuloskeletal” (MSD) mencakup berbagai kondisi yang mempengaruhi tulang, otot, jaringan ikat, dan persendian. Pada individu muda, beberapa faktor risiko terkait pekerjaan telah diidentifikasi, termasuk faktor fisik seperti beban kerja, posisi kerja yang buruk, dan aspek ergonomis, serta faktor psikososial, sosial ekonomi, lingkungan, dan individu seperti jenis kelamin. Stres adalah reaksi psikologis dan fisik terhadap tuntutan hidup yang terus meningkat. [7]

Dampak Stress atau Mental Health dalam sistem organ muskuluskletal :[5]

            1. Ketegangan Otot

Stres menyebabkan otot-otot tubuh menjadi tegang sebagai respons refleks terhadap situasi menantang. Ketegangan otot yang berkelanjutan dapat menyebabkan ketegangan otot kronis, yang sering terjadi pada area bahu, leher, dan punggung. Ketegangan otot ini dapat menyebabkan nyeri dan kelemahan otot.[5]

Ketegangan otot akibat stres adalah respons tubuh yang umum ketika seseorang menghadapi situasi yang menekan. Berikut respon mengenai ketegangan otot sebagai dampak dari stress :

  1. Respons “Fight or Flight”

Saat seseorang mengalami stres, tubuh merespons dengan aktivasi sistem saraf simpatis yang dikenal sebagai respons “fight or flight.” Dalam respons ini, tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Hormon-hormon ini menyebabkan otot-otot menjadi tegang sebagai persiapan untuk menghadapi ancaman.

  • Ketegangan Otot Jangka Pendek

Ketika stres bersifat sementara, ketegangan otot biasanya bersifat jangka pendek. Otot-otot yang paling sering terpengaruh adalah otot-otot di leher, bahu, dan punggung. Orang yang mengalami stres mungkin merasa kaku atau nyeri di area-area ini.

  • Ketegangan Otot Kronis

Jika stres berlanjut dalam jangka waktu yang lama, ketegangan otot dapat menjadi kronis. Ketegangan otot kronis dapat menyebabkan nyeri berkepanjangan dan masalah postur tubuh. Misalnya, seseorang yang mengalami stres berkepanjangan mungkin mengembangkan postur yang buruk, seperti membungkuk atau menegang, yang pada gilirannya memperburuk ketegangan otot.

2. Nyeri Punggung Bawah

Stres kronis dapat menyebabkan nyeri pada punggung bawah. Ketegangan otot yang berkelanjutan dapat memperburuk kondisi seperti sakit punggung bawah, yang sering kali disebabkan oleh postur tubuh yang tidak baik atau aktivitas fisik yang berlebihan.

Dampak Stres terhadap Nyeri Punggung Bawah: [8]

  • Ketegangan Otot: Stres menyebabkan otot-otot tubuh menjadi tegang sebagai respons “fight or flight.” Ketegangan otot yang berkelanjutan, terutama di area punggung bawah, dapat menyebabkan nyeri.
  • Postur Tubuh yang Tidak Baik: Saat stres, seseorang cenderung mengambil posisi tubuh yang tidak sehat, seperti membungkuk atau duduk terlalu lama. Postur tubuh yang buruk dapat memperburuk ketegangan otot dan menyebabkan nyeri punggung bawah.
  • Aktivitas Fisik yang Kurang: Stres dapat mengurangi motivasi untuk beraktivitas fisik, yang pada gilirannya dapat menyebabkan otot punggung menjadi lemah dan lebih rentan terhadap nyeri.
  • Gangguan Tidur: Stres dapat mengganggu pola tidur, yang pada gilirannya dapat memperburuk kondisi nyeri punggung. Tidur yang tidak cukup dapat menyebabkan otot semakin tegang dan memperburuk nyeri.

3. Penurunan Kekuatan Otot

Stres berkepanjangan dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot. Ketegangan otot yang berkelanjutan dapat mengakibatkan otot menjadi lemah dan kurang responsif terhadap rangsangan fisik.[5]

Dampak Stres terhadap Nyeri dan Penurunan Kekuatan Otot:[10]

  • Hormon Stres: Ketika seseorang mengalami stres, tubuh menghasilkan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Hormon-hormon ini dapat menyebabkan otot-otot menjadi tegang dan kaku, yang pada akhirnya dapat menyebabkan nyeri otot.
  • Ketegangan Otot: Stres yang berkelanjutan dapat menyebabkan otot-otot tetap dalam keadaan tegang dan kaku. Ketegangan otot yang berkepanjangan dapat menyebabkan nyeri dan mengurangi kemampuan otot untuk berkontraksi dengan baik.
  • Penurunan Kekuatan Otot: Stres kronis dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot. Otot yang tegang dan kaku tidak dapat berkontraksi dengan efisien, yang pada akhirnya dapat mengurangi kekuatan otot secara keseluruhan.
  • Gangguan Tidur: Stres dapat mengganggu pola tidur, yang pada gilirannya dapat memperburuk kondisi nyeri otot dan penurunan kekuatan otot. Tidur yang tidak cukup dapat menyebabkan otot semakin tegang dan lemah.

4. Gangguan Muskuloskeletal

Stres dapat memicu atau memperburuk kondisi muskuloskeletal seperti arthritis, fibromyalgia, dan sindrom piriformis. Kondisi-kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, kelemahan, dan kekakuan otot.[5]

5. Gangguan Pola Tidur

Stres dapat mengganggu pola tidur, yang pada gilirannya dapat memperburuk kondisi muskuloskeletal. Kurang tidur yang berkualitas dapat menyebabkan peningkatan ketegangan otot dan nyeri.[6]

Dampak Stres terhadap Gangguan Pola Tidur:[11]

  • Insomnia: Stres dapat menyebabkan kesulitan untuk tidur atau mempertahankan tidur, yang dikenal sebagai insomnia. Orang yang stres mungkin merasa sulit untuk tidur, sering terbangun di malam hari, atau merasa tidak segar setelah bangun tidur.
  • Kurang Tidur: Stres dapat mengurangi kualitas tidur secara keseluruhan, menyebabkan tidur yang tidak cukup atau tidur yang tidak berkualitas. Kurang tidur dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.
  • Gangguan Tidur Kronis: Stres yang berkelanjutan dapat menyebabkan gangguan tidur kronis, seperti apnea tidur (gangguan pernapasan saat tidur) atau sindrom kaki tidak nyaman (restless legs syndrome). Gangguan-gangguan ini dapat memperburuk kondisi tidur dan kesehatan secara keseluruhan.
  • Gangguan Kesehatan Mental: Stres dapat memicu atau memperburuk gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, yang pada gilirannya dapat mengganggu pola tidur. Gangguan kesehatan mental dapat menyebabkan insomnia atau tidur yang tidak berkualitas.

6. Perilaku Tidak Sehat

Stres sering kali mendorong orang untuk mengambil perilaku yang tidak sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, dan kebiasaan tidur yang buruk. Perilaku-perilaku ini dapat memperburuk kondisi musculoskeletal.[6]

Konsultasi dengan dokter jika mengalami gejala-gejala berikut :[1]

  1. Nyeri yang berkepanjangan pada otot atau sendi.
  2. Kesulitan dalam melakukan gerakan atau aktivitas sehari-hari.
  3. Pembengkakan, kemerahan, atau panas pada area otot atau sendi.
  4. Cedera atau trauma pada tulang atau otot.

Kesimpulan :

Sistem muskuloskeletal merupakan sistem penting dalam tubuh manusia yang terdiri dari tulang, otot, dan sendi. Dengan kerjasama ketiga komponen ini, sistem muskuloskeletal memungkinkan manusia untuk bergerak dengan bebas dan menjaga stabilitas tubuh. Namun stres akan mempengaruhi dan berdampak pada organ system dan fungsi dari muskuloskletal. Oleh karena itu hindari stress dan selalu berbahagia.

Daftar Referensi :

  1.  Pengertian Sistem Muskuloskeletal: Definisi dan Penjelasan Lengkap Menurut Ahli – Geograf
  2.  MeSH Musculoskeletal+System
  3. Mooar, Pekka (2007). “Muscles”. Merck Manual. Diakses tanggal 12 November 2008.
  4. Kahn, Cynthia; Scott Line (2008). Musculoskeletal System Introduction: Introduction. New Jersey, US: Merck & Co., Inc.
  5. https://voi.id/lifestyle/416868 : Dampak Stres Ternyata Mempengaruhi 7 Sistem pada Tubuh
  6. https://psikologi.uma.ac.id/Pengaruh Stres terhadap Kesehatan Mental dan Fisik
  7. Fares J, Al Tabosh H, Saadeddin Z, El Mouhayyar C, Aridi H. Stress, burnout and coping strategies in preclinical medical students. N Am J Med Sci 2016;8:75–81.
  8. https://pji.uma.ac.id/index.php/2022/06/14:Mengenal Jenis-Jenis Stres dan Cara Mengatasinya!!! – Pusat Jurnal Ilmiah Universitas Medan Area – Pusat Jurnal Ilmiah Terbaik di Sumatera Utara
  9. Beautynesia (2024): Artikel yang menjelaskan bagaimana stres dapat memicu sakit punggung dan memberikan tips untuk mengelolanya
  10. Hansaplast (2022): Artikel yang menjelaskan hubungan antara stres dan nyeri otot, serta dampaknya pada tubuh.
  11. Riviera Publishing (2022): Tinjauan literatur tentang pengaruh pola tidur terhadap kesehatan mental mahasiswa, termasuk dampak stress.