Keselamatan dan Evakuasi Penyakit Menular di Laut

Oleh : Dr. dr. Arif Rahman Nurdianto, M.Imun., M.H.
Dosen : dr. Pandu Harijono, Sp.An., TI., Subs.TI (K)
Residen PPDS Spesialis Kedokteran Kelautan Universitas Hang Tuah Surabaya

Abstrak

Penyakit menular di laut merupakan tantangan besar bagi keselamatan pelaut, mengingat terbatasnya akses ke fasilitas medis dan keterisolasian di kapal. Penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC), demam berdarah, dan infeksi saluran pernapasan akut dapat menyebar dengan cepat di lingkungan tertutup, memperburuk kondisi kesehatan para pelaut. Artikel ini membahas pentingnya keselamatan, pencegahan, dan prosedur evakuasi medis untuk pelaut yang terinfeksi penyakit menular, serta contoh-contoh penyakit yang sering ditemui di kapal. Penekanan akan diberikan pada penanganan medis awal, pengobatan selama evakuasi, dan langkah-langkah yang perlu diambil untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Kata Kunci: penyakit menular, evakuasi medis, keselamatan pelaut, tuberkulosis, infeksi saluran pernapasan, evakuasi laut

1. Pendahuluan

Penyakit menular di laut menjadi perhatian serius bagi industri pelayaran, terutama dalam menghadapi kondisi lingkungan yang memfasilitasi penyebaran infeksi, seperti ruang tertutup dan komunikasi terbatas dengan fasilitas medis di daratan. Selama pelayaran, perawatan medis terbatas, sehingga penanganan penyakit menular pada tahap awal menjadi krusial untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Prosedur evakuasi medis harus dipersiapkan dengan baik, termasuk identifikasi penyakit, langkah-langkah pencegahan, dan pengobatan yang dapat diberikan selama evakuasi menuju fasilitas medis terdekat.

2. Penyakit Menular yang Sering Ditemui di Laut

Beberapa penyakit menular yang umum ditemui di laut antara lain:

2.1 Tuberkulosis (TBC)

Tuberkulosis adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyebar melalui udara. Di kapal, terutama pada kapal yang mengangkut banyak orang dalam waktu lama, penularan bisa sangat cepat. Gejalanya meliputi batuk berkepanjangan, demam, dan penurunan berat badan. Untuk penanganan awal, pemberian obat antituberkulosis seperti rifampicin dan isoniazid harus segera dimulai. Selama evakuasi, isolasi pasien di ruang tertutup sangat penting untuk mencegah penularan lebih lanjut (Jasmer et al., 2019).

2.2 Demam Berdarah

Demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini dapat menyebabkan gejala yang parah seperti demam tinggi, ruam, dan perdarahan. Jika infeksi berkembang menjadi bentuk yang lebih parah, seperti demam berdarah berat, pelaut harus segera dievakuasi. Pengobatan utama adalah manajemen cairan dan pemantauan tekanan darah, serta pencegahan infeksi sekunder (Bhatt et al., 2013).

2.3 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

Infeksi saluran pernapasan akut, seperti pneumonia atau influenza, dapat dengan cepat menyebar di ruang tertutup pada kapal. Penanganan awal melibatkan pemberian antibiotik untuk pneumonia bakterial atau obat antivirus untuk influenza. Evakuasi medis penting untuk memberikan perawatan lanjutan, seperti ventilasi mekanis atau oksigen tambahan jika diperlukan (Lloyd et al., 2019).

2.4 COVID-19

Pandemi COVID-19 menunjukkan tantangan besar dalam penanganan penyakit menular di laut. Virus ini sangat menular dan dapat menyebabkan penyakit parah pada pelaut yang berisiko tinggi. Penanganan awal yang sangat penting meliputi isolasi pasien, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan disinfeksi kapal secara menyeluruh. Evakuasi medis untuk pasien COVID-19 harus dilakukan dengan prosedur yang ketat untuk mencegah penyebaran lebih lanjut (Tay et al., 2020).

3. Prosedur Evakuasi Medis di Laut

Evakuasi medis penyakit menular di laut memerlukan prosedur yang sistematis dan terkoordinasi. Berikut adalah langkah-langkah yang harus diikuti:

3.1 Identifikasi Kasus Penyakit Menular

Identifikasi dini sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit. Petugas medis kapal harus memiliki pengetahuan tentang gejala penyakit menular umum dan mengadakan pemeriksaan rutin. Pada kasus-kasus penyakit menular yang terdeteksi, pengisolasi pasien di ruang tertutup atau kabin terpisah harus segera dilakukan.

3.2 Pengobatan Awal dan Pemantauan

Pengobatan awal bergantung pada jenis penyakit yang terdeteksi. Pada penyakit pernapasan seperti TBC atau pneumonia, pemberian antibiotik atau obat antivirus harus segera dimulai. Pasien dengan demam berdarah memerlukan pengelolaan cairan secara intensif. Selama evakuasi, pemantauan ketat terhadap kondisi medis pasien harus dilakukan untuk memastikan stabilitas mereka.

3.3 Prosedur Evakuasi

Evakuasi pasien harus dilakukan dengan memperhatikan risiko penularan ke kru lainnya. Penggunaan ambulans medis atau helikopter adalah pilihan utama untuk mengevakuasi pasien ke rumah sakit di daratan. Evakuasi harus mematuhi protokol kesehatan dan keselamatan, seperti penggunaan APD oleh kru dan pengaturan transportasi yang minim kontak.

3.4 Koordinasi dengan Pusat Medis Daratan

Sebelum evakuasi, penting untuk berkoordinasi dengan pusat medis daratan untuk memastikan persiapan yang tepat, baik untuk penerimaan pasien maupun untuk pengobatan lebih lanjut. Pasien harus diberikan informasi medis yang relevan, seperti jenis penyakit, pengobatan yang telah diberikan, dan kondisi kesehatan saat evakuasi (Wang et al., 2019).

4. Langkah Pencegahan di Kapal

  1. Untuk mencegah penyebaran penyakit menular di kapal, langkah-langkah berikut harus diterapkan:
  2. Vaksinasi: Vaksinasi terhadap penyakit tertentu, seperti influenza dan hepatitis B, dapat mengurangi risiko penyakit di kapal.
  3. Perawatan Kebersihan: Peningkatan kebersihan, terutama sanitasi tangan dan pembersihan permukaan yang sering disentuh, dapat mengurangi penyebaran infeksi.
  4. Penggunaan APD: Penggunaan alat pelindung diri yang tepat oleh kru kapal dan pelaut yang sakit untuk mencegah penularan.
  5. Penyuluhan Kesehatan: Program penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit menular dan cara-cara pencegahannya.

5. Kesimpulan

Penyakit menular di laut merupakan ancaman serius yang membutuhkan prosedur evakuasi medis yang cepat dan tepat. Pengelolaan penyakit seperti tuberkulosis, demam berdarah, dan infeksi saluran pernapasan harus dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan keselamatan pelaut lainnya. Evakuasi medis yang tepat dan koordinasi dengan pusat medis daratan sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Langkah pencegahan dan pengobatan yang tepat dapat membantu mengurangi risiko penyebaran penyakit di kapal dan memastikan kesehatan serta keselamatan pelaut selama pelayaran.

Referensi

Bhatt, S., Gething, P. W., & Brady, O. J. (2013). The global distribution and burden of dengue. Nature, 496(7446), 504-507.

Jasmer, R. M., Saukkonen, J. J., & Cohn, D. L. (2019). Tuberculosis: A clinical overview. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, 190(8), 953-964.

Lloyd, L. K., Peiris, J. M., & Nelson, M. R. (2019). Acute respiratory infections and their management in seafarers. International Maritime Health, 70(3), 159-167.

Tay, E. L., Lim, W. H., & Tan, H. K. (2020). Managing COVID-19 on ships: Guidelines and lessons learned. Journal of Travel Medicine, 27(7), 1-4.

Wang, J., Wei, H., & Liu, Z. (2019). A systematic review of evacuation procedures for medical emergencies in maritime environments. International Journal of Disaster Risk Reduction, 41, 101315.

Gangguan Stres pada Pelaut: Tinjauan Psikoneuroimunologi

Oleh : Dr. dr. Arif Rahman Nurdianto, M.Imun., M.H.
Pembimbing : dr. Hesti Ekawati, Sp.KL., M.MTr
Residen PPDS Spesialis Kedokteran Kelautan Universitas Hang Tuah Surabaya

Pelaut sering kali menghadapi lingkungan kerja yang penuh tekanan yang berpotensi mengakibatkan gangguan stres. Stres yang dialami tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat mempengaruhi sistem imun dan kesehatan fisik secara keseluruhan. Psikoneuroimunologi (PNI) merupakan disiplin ilmu yang mempelajari hubungan antara sistem psikologis, saraf, dan imun, memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana stres dapat mempengaruhi pelaut.

Gangguan Stres pada Pelaut

Stres yang dialami oleh pelaut dapat dipicu oleh berbagai faktor, antara lain isolasi sosial, tekanan kerja yang tinggi, dan kurangnya kontrol terhadap lingkungan sekitar. Wu et al. (2020) mengungkapkan bahwa stres berkepanjangan pada pelaut berpotensi menyebabkan gangguan kecemasan, depresi, serta berbagai masalah kesehatan fisik lainnya.

Patofisiologi

  1. Respon Stres
    Ketika pelaut mengalami stres, tubuh mereka merespons dengan meningkatkan produksi hormon stres, seperti kortisol. Peningkatan kadar kortisol dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi sistem imun, memperbesar risiko penyakit, dan berkontribusi pada gangguan kesehatan (McEwen, 2007).
  • Imunomodulasi
    Stres memengaruhi sistem imun melalui jalur neuroendokrin. Hormon stres dapat menurunkan aktivitas sel imun seperti limfosit T dan sel natural killer (NK), yang berfungsi untuk melawan infeksi dan penyakit (Segerstrom & Miller, 2004). Akibatnya, pelaut yang mengalami stres tinggi memiliki risiko lebih besar terhadap infeksi dan penyakit.
  • Gangguan Kesehatan Mental
    Stres yang berlangsung lama dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan dan depresi. Pelaut dengan gangguan kesehatan mental seringkali mengalami masalah tidur, yang semakin memperburuk kondisi fisik dan mental mereka (Vink et al., 2014).

Dampak pada Kesehatan

Kombinasi stres psikologis dan perubahan imunologis dapat menghasilkan dampak negatif yang besar pada kesehatan. Pelaut yang mengalami stres berkepanjangan berisiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit kardiovaskular, gangguan pencernaan, dan penyakit infeksi (Kleiner et al., 2018).

Gangguan Stres pada Pelaut: Pengaruh pada Aksis HPA, Hormonal, dan Sel Imun

Pelaut sering terpapar pada kondisi yang penuh tekanan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dapat memicu gangguan stres. Salah satu dampak utama dari stres adalah aktivasi sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA), yang memengaruhi sekresi hormon dan respons imun. Pemahaman tentang bagaimana stres memengaruhi sumbu HPA, hormonal, dan sel imun sangat penting dalam upaya menjaga kesehatan pelaut.

Gangguan Stres dan Aksis HPA

Sumbu HPA memainkan peran kunci dalam respons stres. Ketika pelaut mengalami stres, hipotalamus akan melepaskan corticotropin-releasing hormone (CRH), yang selanjutnya merangsang kelenjar pituitari untuk memproduksi adrenocorticotropic hormone (ACTH). ACTH kemudian merangsang kelenjar adrenal untuk memproduksi kortisol, hormon utama yang terlibat dalam respons terhadap stres (Hauger et al., 2006).

Dampak Peningkatan Kortisol

Peningkatan kadar kortisol yang berlangsung lama dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh. Kortisol berfungsi untuk mengatur metabolisme dan respons imun, namun dalam kadar yang tinggi, ia dapat menyebabkan imunosupresi dan meningkatkan risiko infeksi (Sapolsky et al., 2000).

Pengaruh Hormonal dan Sitokin

Stres juga memengaruhi keseimbangan hormonal lainnya, termasuk hormon seks dan sitokin. Peningkatan kadar kortisol dapat mengurangi produksi hormon seks, seperti testosteron dan estrogen, yang penting untuk kesehatan reproduksi dan kesejahteraan mental (Meyer et al., 2014).

Sitokin dan Respons Inflamasi

Stres dapat merubah pola produksi sitokin, yang merupakan protein yang mengatur komunikasi antara sel-sel imun. Penelitian menunjukkan bahwa stres dapat meningkatkan produksi sitokin pro-inflamasi, seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), yang berkontribusi pada peradangan sistemik (Kiecolt-Glaser et al., 2003).

Sel Imun yang Terlibat

Berbagai sel imun terlibat dalam respons terhadap stres, antara lain:

  • Limfosit T: Stres dapat mengurangi jumlah dan fungsi limfosit T, yang penting dalam melawan infeksi (Glaser et al., 1999).
  • Sel Natural Killer (NK): Aktivitas sel NK, yang berfungsi melawan sel kanker dan infeksi virus, juga dapat menurun akibat stres (Miller et al., 2005).
  • Makrofag: Stres dapat memengaruhi aktivitas makrofag, yang berperan dalam mengatur respons imun dan inflamasi.

Gangguan Stres pada Pelaut: Hubungan dengan Aksis HPA dan Risiko Bunuh Diri

Pelaut sering kali menghadapi berbagai tantangan dan stresor, baik dari lingkungan kerja yang keras maupun dari keterasingan sosial. Gangguan stres ini dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik mereka. Salah satu mekanisme utama yang berperan dalam respons terhadap stres adalah aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA) serta perubahan hormonal yang terjadi akibat stres tersebut.

Gangguan Stres dan Aksis HPA

Aksis HPA adalah jalur neuroendokrin yang mengatur respons tubuh terhadap stres. Ketika pelaut mengalami stres, hipotalamus melepaskan corticotropin-releasing hormone (CRH). CRH ini merangsang kelenjar pituitari untuk mengeluarkan adrenocorticotropic hormone (ACTH), yang pada gilirannya merangsang kelenjar adrenal untuk memproduksi kortisol (Hauger et al., 2006). Peningkatan kortisol merupakan bagian dari respons tubuh terhadap stres yang berfungsi untuk meningkatkan energi dan mengatur proses metabolisme.

Dampak Peningkatan Kortisol

Kadar kortisol yang tinggi dapat menyebabkan berbagai gangguan klinis, seperti gangguan kecemasan, depresi, dan masalah fisik seperti hipertensi dan diabetes. Stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan disfungsi sumbu HPA, yang berdampak pada kesehatan mental dan fisik pelaut (Sapolsky et al., 2000). Ismail et al. (2020) melaporkan bahwa pelaut yang mengalami stres tinggi menunjukkan peningkatan signifikan dalam gejala kecemasan dan depresi.

Kondisi Klinis Terkait Stres

Gangguan Kesehatan Mental
Pelaut yang mengalami stres sering kali juga menghadapi gangguan kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan dan depresi. Penelitian menunjukkan bahwa pelaut memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum, sering kali terkait dengan faktor stres yang unik dalam pekerjaan mereka (Harris et al., 2018). Gangguan ini sering kali mengarah pada perasaan putus asa dan peningkatan risiko bunuh diri.

Risiko Bunuh Diri
Laporan dari International Maritime Organization (IMO) menunjukkan bahwa tingkat bunuh diri di kalangan pelaut dapat mencapai 30% dari semua kematian terkait pekerjaan di sektor maritim (IMO, 2020). Stres yang berkepanjangan dan kondisi mental yang memburuk dapat membuat pelaut merasa terjebak dan tidak ada harapan, yang berkontribusi pada peningkatan risiko bunuh diri. Isolasi, tekanan pekerjaan, dan ketidakpastian dalam karier dapat memperburuk kondisi ini (Wong et al., 2021).

Hubungan dengan Hormonal

Stres tidak hanya memengaruhi sekresi kortisol, tetapi juga mengganggu keseimbangan hormon lain, termasuk hormon seks. Peningkatan kortisol dapat menurunkan produksi hormon seks seperti testosteron pada pria dan estrogen pada wanita, yang dapat berdampak pada kesehatan reproduksi dan kesehatan mental secara keseluruhan (Meyer et al., 2014). Penurunan hormon seks ini dapat memperburuk gejala depresi dan kecemasan.

Inflamasi dan Sitokin

Stres juga dapat meningkatkan produksi sitokin pro-inflamasi, seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental dan fisik (Kiecolt-Glaser et al., 2003). Proses inflamasi ini berkontribusi pada peningkatan risiko bunuh diri, karena kondisi fisik yang buruk dapat memperburuk kondisi mental pelaut.

Daftar Pustaka

Chrousos, G.P., 2009. Stress and disorders of the stress system. Nature Reviews Endocrinology, 5(7), pp.374-381.
Dawson, D., et al., 2017. The relationship between sleep and health in seafarers: A review. International Maritime Health, 68(2), pp.97-103.
Glaser, R., et al., 1999. Stress-induced modulation of the immune response. Journal of Psychosomatic Research, 46(1), pp.15-20.
Harris, J.R., et al., 2018. Mental health issues among maritime workers: A systematic review. Occupational Medicine, 68(8), pp.548-556.
Hauger, R.L., et al., 2006. The role of the hypothalamic-pituitary-adrenal axis in stress: A review. Journal of Clinical Psychiatry, 67(11), pp.17-23.
Ismail, M.A., et al., 2020. The impact of stress on mental health among seafarers. International Maritime Health, 71(1), pp.1-6.
Kiecolt-Glaser, J.K., et al., 2003. Chronic stress and immunity in humans: A review. Psychosomatic Medicine, 65(1), pp.18-27.
Kleiner, A.C., Tull, M.T. & Keng, J.M., 2018. Psychological and physical health implications of stress in mariners. Journal of Maritime Health, 69(2), pp.123-130.
McEwen, B.S., 2007. Stress, neurotransmitters, and the immune system. American Journal of Psychiatry, 164(4), pp.570-573.
Meyer, J.S., et al., 2014. The role of stress in hormone regulation: Clinical implications. Endocrine Reviews, 35(2), pp.159-189.
Miller, A.H., et al., 2005. Cytokine dysregulation and the effects of stress on the immune system: Implications for health and disease. Journal of Psychiatric Research, 39(1), pp.55-63.
Sapolsky, R.M., et al., 2000. Stress and the brain: The role of glucocorticoids. Nature Reviews Neuroscience, 1(3), pp.197-204.
Segerstrom, S.C. & Miller, G.E., 2004. Psychological stress and disease. JAMA, 298(14), pp.1685-1687.
Vink, J., Hegeman, J. & van Meijel, B., 2014. Mental health issues in maritime workers: A review. Maritime Health, 166(2), pp.171-176.
Wong, J., et al., 2021. Suicide risk among seafarers: A global perspective. Maritime Health, 172(4), pp.341-347.
Wu, T., Wang, Y. & Liu, X., 2020. The impact of occupational stress on mental health among seafarers. International Maritime Health, 71(1), pp.54-61.
International Maritime Organization (IMO), 2020. The human element – An analysis of the human element in maritime safety. London: IMO.

Pengaruh Penyelaman Terhadap Kardiorepirasi

Oleh: dr Anis Dwi Anita Rini, M.H Perfusionist
Residen Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan, Universitas Hang Tuah, Surabaya

Pendahuluan

Kedaruratan penyelaman adalah kondisi medis atau keadaan darurat yang terjadi saat atau setelah melakukan penyelaman. Kedaruratan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk masalah peralatan, kondisi lingkungan bawah air, atau reaksi fisiologis tubuh terhadap tekanan dan komposisi udara di bawah air. Penanganan kedaruratan penyelaman memerlukan pengetahuan mendalam tentang fisiologi tubuh manusia di lingkungan bawah air serta keterampilan dalam memberikan pertolongan medis di kondisi yang sering kali sulit dan berbahaya.

Dampak menyelam pada fungsi paru tergantung faktor paparan menyelam individual. Subjek rentan menunjukan perburukan fungsi paru signifikan bahkan setelah penyelaman di air dangkal. Peningkatan PO2 selama penyelaman dapat menyebabkan kerusakan epitel jalan napas. Peningkatan usaha napas dan densitas gas akibat penyelaman akan menyebabkan peningkatan kerja otot napas dan KV. Perubahan efek merugikan jangka panjang akibat menyelam di paru yaitu penyakit saluran napas kecil dan percepatan penurunan fungsi paru. Paparan berulang stres oksidatif penyelam menyebabkan kerusakan epitel saluran napas serta destruksi jaringan penyangga sehingga menimbulkan efek seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Potensi bahaya keadaan gawatdarurat untuk menolong pasangan menyelamnya dengan berenang cepat menimbulkan perubahan hemodinamik berupa peningkatan aliran darah dari perifer ke rongga dada. Peningkatan aliran darah perifer ke rongga dada meningkatkan volume darah intratoraks 700 mililiter (ml) sehingga menurunkan volume paru secara mekanis 300 ml dari KV. Peningkatkan tekanan PO2 dan tekanan PN2 di darah menyebabkan penurunan cardiac output (CO) karena penurunan denyut jantung dan isi sekuncupnya atau stroke volume (SV) jantung.

Penyelam terpajan oleh beberapa faktor mempengaruhi organ kardiorespirasi. Pengaruh suhu dingin dan udara kering di jalan napas menyebabkan kehilangan panas. Lingkungan bawah air memberikan tekanan ke paru yaitu paparan tekanan ambien tinggi, perubahan karakteristik gas, dan efek kardiovaskular pada sirkulasi pulmonal. Penyelam terpajan oleh beberapa faktor selama penyelaman yaitu risiko tenggelam, penurunan suhu, dan peningkatan tekanan lingkungan.

Percepatan penurunan fungsi paru akibat menyelam terjadi karena paparan paru dan saluran udara terhadap hiperoksia dan stres dekompresi. Perubahan fungsi paru dan vaskular setelah penyelaman sering berada pada fase subklinis. Perubahan fungsi VEP1 paru diduga dipengaruhi oleh lama penyelaman, suhu dingin lingkungan, dan tekanan dekompresi. Penelitian cross-sectional menunjukkan bahwa penyelam memiliki volume paru besar dan rasio VEP1/KVP lebih rendah menandakan adanya penyakit saluran udara obstruktif atau keterbatasan aliran udara.

Perubahan patologis paru penyelam dapat berkembang menjadi pulmonary oxygen toxocity (POT) atau disebut juga toksisitas oksigen pulmonal. Pulmonary oxygen toxocity terjadi akibat hiperoksia jika PO2 adalah antara 50-300 kPa atau setara 375–2250 mmHg. Fase akut POT bersifat reversibel mengarah ke perubahan patologis ireversibel. Fase akut POT diikuti fase kronis disebut biphasic. Fase akut ditandai eksudasi dan edema interstisial serta alveolar. Perubahan patologis fase akut ditandai kehilangan sel epitel tipe 1 alveolar, penghancuran endotelium kapiler pulmonal, distensi limfatik, edema septum alveolar, dan infiltrat sel inflamasi. Fase eksudatif akut POT dimulai setelah 8 jam pernapasan oksigen dan berlangsung 5–12 hari jika paparan oksigen dilanjutkan. Perubahan patologis fase akut bersifat reversibel meskipun dapat mengancam nyawa. Fase kronis POT disebut juga fase proliferasi ditandai oleh peningkatan sel alveolar tipe 2. Fungsi sel alveolar tipe 2 adalah menggantikan semua sel alveolar tipe 1 yang rusak. Fase proliferasi mengaibatkan penghalang darah-udara meningkat karena peningkatan viskositas 4- 5 kali. Fase proloferasi POT bersifat ireversibel sehingga akan terus berlangsung meskipun paparan oksigen dihentikan.

PEMBAHASAN

PENYAKIT AKIBAT PENYELAMAN

       Penyakit berhubungan dengan penyelaman bermacam-macam. Penyebab penyakit penyelaman tersering adalah penyakit dekompresi. Barotrauma penyakit akibat tekanan, penurunan visibilitas, narkosis gas selam, serta emboli udara adalah gangguan akibat penyelaman. Penatalaksaan penyakit akibat penyelaman disesuaikan dengan proses patogenesis penyakit. Pencegahan kejadian penyakit akibat penyelaman adalah lebih baik karena sebagian besar korban tidak selamat akibat keterlambatan dan jarak jauh saat proses transpor ke fasilitas kesehatan.

  • Barotrauma

Barotrauma di organ paru menimbulkan peregangan yang berlebihan di jaringan paru. Proses barotrauma paru terjadi saat naik atau turun kedalaman. Barotrauma paru waktu turun jarang terjadi baik pada breath hold diving maupun penyelaman dengan alat selam. Breath hold diving selam tanpa alat tetap mempunyai resiko mengalami barotrauma paru descent karena penyelam tidak mempunyai suplai udara untuk mengequalisasi tekanan intrapulmonal dengan tekanan sekeliling. Tekanan intrapulmonal dipertahankan sama dengan sekeliling dengan menurunkan volume paru saat fase permulaan breath hold diving.53,54

Barotrauma paru waktu naik kepermukaan terjadi akibat penurunan tekanan sekeliling dan sesuai hukum Boyle. Volume udara didalam paru ikut mengembang ketika naik ke permukaan. Keterlambatan ekshalasi memicu udara terperangkap, pengembangan berlebih volume paru (overdistension of the lungs), serta peningkatan tekanan intrapulmonal. Ruptur paru (brust lung) terjadi ketika overdistensi melebihi batas elastisitas paru.

  • Emfisema paru

Penyelam terpapar gas padat di bawah kondisi hiperbarik dan hiperoksik sehingga berisiko terkena penyakit pernapasan. Efek jangka panjang gangguan fungsi pernafasan telah dilaporkan pada penyelam komersial yang melakukan penyelaman dalam. Paru penyelam terpapar gas hiperoksia di kedalaman dan terjadi dekompresi tekanan saat naik ke permukaan. Penyelaman meningkatkan reaksi stres oksidatif dan decompression sickness menyebabkan kerusakan dan menimbulkan reaksi inflamasi saluran nafas. Perubahan struktur jalan napas akibat inflamasi DCS. Malondialdehid (MDA) dan Leukotrien B4 (LTB4) digunakan sebagai biomarker stres oksidatif pada saluran nafas akibat penyelaman. Peningkatan MDA dan LTB4 menjadi penanda kelainan saluran nafas kecil atau small airway disease.

  • Emboli pembuluh darah

Mikroembolism gas didalam vena terjadi ketika peyelam naik kepermukaan terlalu cepat tanpa adaptasi cukup. Penurunan kedalaman, peningkatan densitas gas, dan alat bantu pernapasan penyelam mempengaruhi ventilasi secara mekanis. Penyelaman di perairan dangkal 0-50 meter (m) di air laut menggunakan perlatan scuba berisiko terkena penyakit dekompresi. Emboli udara terjadi akibat masuknya gas dari alveoli ke sistem vena paru.

Emboli gas terbawa ke jantung dan kemudian masuk ke dalam sistem sirkulasi arterial sehingga menimbulkan obstruksi emboli gas di pembuluh koroner, serebral dan lainya. Emboli udara terjadi ketika distensi hebat paru, pembuluh darah kecil, dan peregangan kapiler. Gejala klinis emboli udara yaitu kehilangan kesadaran, gelisah, konvulsi, gangguan penglihatan, vertigo, gangguan saraf sensorik, nyeri dada, aritmia. Emboli gas berpotensi menimbulkan cerebrovasscular accident (CVA) susunan saraf pusat (SSP) bila terjadi lebih dari 30 menit. Terapi emboli udara yaitu rekompresi dengan menggunakan ruang udara bertekanan tinggi atau hiperbarik chamber.

  • Edema Paru

Edema paru saat menyelam terjadi akibat peningkatan afterload hipereaktivitas vaskular dipicu oleh suhu dingin ditambah peningkatan preload lingkungan bawah air hiperbarik. Tiga mekanisme akumulasi cairan ekstravaskular edema paru penyelam yaitu imersi air bersuhu dingin menimbulkan gradien tekanan hidrostatik terhadap tubuh menyebabkan pergeseran darah vena perifer. Imersi air menyebabkan efek pengumpulan darah sehingga terjadi redistribusi darah ke vascular bed pembuluh darah paru. Mekansisme ketiga penyebab edema paru yaitu kontraksi intens diafragma otomatis selama fase menahan napas menghasilkan pergeseran darah dari kapiler paru ke alveoli. Kegagalan kapiler menahan tekanan menyebabkan akumulasi air di kapiler paru. Edema paru akut non-kardiogenik terjadi akibat permeabilitas kapiler paru meningkat, atau ketika tekanan hidrostatik kapiler paru melebihi tekanan plasma onkotik kardiogenik.

  • Emfisema Kutis

Peneliti Edmonds tahun 2006 membagi akibat barotrauma paru saat naik kepermukan menjadi empat yaitu kerusakan jaringan paru, emfisema subkutis, pneumotoraks, dan emboli udara. Emfisema subkutis terjadi akibat ruptur alveoli diikuti pelepasan gas ke jaringan interstitial paru. Gas menyebar disepanjang jaringan renggang di sekitar pembuluh darah besar dan jalan napas menuju hilus kemudian ke mediastinum dan leher menimbulkan emfisema mediastinalis dan subkutan.

Gejala klinis emfisema subkutis yaitu nyeri di bawah sternum, penyempitan batas jantung, peredupan suara jantung, atau krepitasi suara jantung. Pneumotoraks terjadi akibat robekan pleura visceralis sehingga udara masuk kedalam cavum pleura dan menimbulkan pneumotorak. Pneumotoraks disertai perdarahan disebut hemopneumotoraks. Udara terperangkap didalam cavum pleura terus mengembang dan menimbulkan kenaikan tekanan selama naik ke permukaan. Gejala klinis nyeri pleural mendadak di daerah cavum pleura terkena, dispneu dan takipneu.

EFEK MENYELAM PADA FUNGSI PARU

Nilai faal paru dipengaruhi berbagai faktor yaitu umur, TB, jenis kelamin dan latihan fisik. Nilai faal paru tertinggi dicapai umur 19-21 tahun karena fungsi pernapasan dan sirkulasi darah meningkat dari masa usia anak menjadi optimal pada umur 20-30 tahun kemudian menurun karena penuaan. Difusi, ventilasi, ambilan oksigen dan semua parameter faal paru akan turun sesuai pertambahan umur setelah mencapai titik maksimal pada umur dewasa muda. Tes fungsi paru menggunakan spirometri dilakukan secara teratur terhadap penyelam. Fungsi paru optimal penting untuk meminimalkan risiko penyelaman.

  1. Efek Jangka Pendek

Resistensi jalan napas berbanding lurus dengan densitas gas ketika aliran laminar. Peningkatan kepadatan rongga toraks pada kondisi tekanan tinggi dibawah permukaan air akan meningkatkan resistensi jalan napas. Tekanan ambien tinggi menghasilkan peningkatan densitas gas menghasilkan aliran di saluran napas besar menjadi turbulen dan meningkat secara substansial. Kapasitas pernapasan berbanding terbalik dengan akar kuadrat kerapatan gas sehingga pada kedalaman 30 m ventilasi volunter maksimum berkurang 50% dibandingkan dengan nilai permukaan laut. Keterbatasan ventilasi di kedalaman terjadi karena peningkatan kepadatan gas membatasi kapasitas paru. Kapasitas paru di lingkungan menyelam lebih rendah dari kapasitas sistem kardiovaskular. Peningkatan usaha pernapasan di bawah air menyebabkan penurunan ventilasi alveolar berakibat hiperkarbia. Hipoventilasi penyelam diperparah oleh pencampuran gas paru buruk akibat difusi gas rendah di lingkungan padat.83,84

Penelitian menunjukkan menyelam di ruang kering RUBT menggunakan udara sebagai gas pernapasan menunjukan perubahan aliran ekspirasi atau volume paru hingga 24 jam serta penurunan sementara dalam diffusion capacity of the lung for carbon monoxide (DLCO) setelah kedalaman simulasi 39-87 m. Penurunan fungsi paru mencapai maksimum pada 20 menit setelah penyelaman berkorelasi dengan microbubbles gas vena yang terdeteksi menggunakan ultrasonografi Doppler. Subjek menghirup oksigen murni selama dekompresi tidak menunjukkan mikrobubbles atau penurunan DLCO signifikan. Microbubbles gas vena mikro menyebabkan perubahan DLCO setelah menyelam. Penurunan kapasitas difusi secara signifikan lebih tinggi pada subjek yang memiliki microbubbles gas vena dibandingkan dengan subyek tanpa microbubbles gas vena.

Penurunan kapasitas difusi pada kedalaman dangkal tidak berhubungan dengan tekanan dekompresi tetapi karena edema paru subklinis atau atelektasis.84,85,86

Toksisitas oksigen memicu perubahan fungsi paru setelah saturation dives dengan paparan O2 konsentrasi tinggi. Penyelam saturation dives mengalami perubahan setelah 21 hari menunjukan peningkatan KVP dan APE, serta penurunan DLCO. Tanda-tanda klinis toksisitas oksigen paru dan penurunan DLCO terjadi pada tekanan parsial oksigen yang dianggap aman (<50 kPa). Terdapat korelasi kuat diperoleh antara penurunan kapasitas difusi paru dan paparan hiperoksia kumulatif. Perubahan fungsi paru setelah saturation dives disebabkan oleh mekanisme counteracting volume paru statis dan dinamis serta pertukaran gas paru.

  • Efek Jangka Panjang

Lingkungan menyelam memberikan tekanan ke paru akibat paparan tekanan tinggi, perubahan karakteristik gas, dan efek kardiovaskular sirkulasi paru. Multifaktor penyelaman mempengaruhi fungsi paru secara akut dan berpotensi menyebabkan efek berkepanjangan terakumulasi secara bertahap dengan paparan penyelaman berulang. Bukti eksperimen penyelaman penelitian longitudinal menunjukkan efek buruk jangka panjang dari menyelam terhadap paru penyelam komersial, yaitu penyakit saluran napas kecil dan percepatan penurunan fungsi paru. Bukti penelitian menunjukkan bahwa menyelam dengan SCUBA memungkinkan perubahan pada fungsi paru setelah berhubungan dengan immersion, suhu dingin sekitar, dan stres dekompresi, perubahan fungsi paru-paru meskipun tidak bermakna. Dampak penyelaman pada fungsi paru sangat tergantung faktor paparan menyelam individu. Subjek rentan secara klinis maka perburukan fungsi paru dapat terjadi bahkan setelah penyelaman scuba air dangkal.

Peneliti Lorrain-Smith di tahun 1899 menunjukkan menghirup oksigen dengan tekanan parsial lebih tinggi dari 50 kPa penyelam menyebabkan kerusakan paru, edema paru dan inflamasi saluran napas. Inflamasi paru akibat PO2 tinggi meningkatkan konsentrasi oksida nitrat yang dihembuskan. Penyelam mengalami proses peningkatan konsentrasi darah di rongga toraks. Konsentrasi darah rongga toraks meningkakan perbaikan ventilasi.

Penyelam profesional terlatih memiliki volume paru lebih besar dibandingkan orang biasa. Kapasitas vital paksa penyelam bernilai lebih besar dibanding VEP1 yang menyebabkan penurunan rasio VEP1/KVP akibat efek menahan napas dan tahanan selama penyelaman. Penelitian faal paru penyelam menunjukan penurunan forced expiratory flow 25-50 (FEF25-50) berhubungan dengan lama menyelam. Penelitian Skogstad selama 3 tahun pada penyelam menunjukkan penurunan nilai VEP1 bermakna berhubungan dengan perubahan fungsi jalan napas kecil. Penurunan nilai VEP1 penyelam menunjukan nilai lebih bermakna dibanding orang normal. Penelitian Crosbie mendapatkan penurunan rasio nilai VEP1/KVP seiring peningkatan nilai KVP. Penurunan rasio VEP1/KVP penyelam disertai penurunan nilai transfer factor of the lung for carbon monoxide (TLCO).Peningkatan volume paru penyelam berhubungan rasio nilai VEP1/KVP mirip dengan kondisi PPOK disebut sebagai large lung. Penelitian Davey menunjukan hubungan bermakna antara kedalaman penyelaman dengan nilai KVP namun tidak berhubungan dengan VEP1.

Gambar 6. Volume dan kapasitas paru

Pengaruh penyelaman terhadap paru dijelaskan pada tabel dua.

PenyebabPerubahan patofisiologisEfek samping klinis
Peningkatan tekanan  
OksigenHiperoksiaStres oksidatif
  Inflamasi saluran napas
NitrogenMikrobubble gas venaPenurunan kapasitas difusi
  Hipertensi pulmonal
TenggelamPengumpulan darah sentralSesak napas
 Penurunan komplians paru 
SCUBA  
Gas napasGas kering dan dinginKehilangan suhu pernapasan
 Peningkatan densita gasInflamasi saluran napas
 Peningkatan resistensi saluran napasObstruksi saluran napas
  Sesak napas
Regulator tekananPeningkatan usaha napasSesak napas
  Pengeringan dan pendinginan mukosa saluran napas
Pengerahan tenagaPeningkatan kerja pernapasanSesak napas Retensi karbon
  dioksida (CO2)
  Exertion induces bronchoconstriction
  Kegagalan fungsi kapiler
  Edema paru
AirPeningkatan konduksi dan konveksi panasCold stress
 Peningkatan kehilangan panas saluran napasHipotermia Hipopnea Apnea

Cara Menghindari Risiko Kesehatan Saat Menyelam

Agar lebih aman dan terhindar dari penyakit penyelam, sebaiknya para penyelam memperhatikan aturan keamanan berikut ini:

  • Mengecek terlebih dahulu dengan saksama peralatan selam dan diperiksa ulang oleh orang yang berkompeten (sebelum dan sesudah menyelam)
  • Gunakan peralatan selam, termasuk baju menyelam, yang telah memenuhi standar
  • Jangan pernah menyelam sendirian
  • Ketahui cara mengatasi keadaan darurat di bawah air
  • Jangan mencoba menyelam lebih lama atau lebih dalam dari rencana awal sebelum menyelam
  • Naik ke permukaan dengan perlahan dan bertahap (berhenti sesaat di kedalaman tertentu).

Berdasarkan fisiologi dan pertolongan medis yang diperlukan kedaruratan penyelaman dapat dibagi menjadi:

1.   Kedaruratan penyelaman yang tidak membutuhkan pengobatan rekompresi:

a. Kedaruratan sistem pernafasan

  1. Kekurangan gas oksigen (hipoksia)
  2. Kekurangan gas oksigen disertai meningginya kadar CO2 (asfiksia)
  3. Keracunan gas CO (carbon monoxide poisoning)
  4. Keracunan gas CO2 (carbon dioxide poisoning)
  5. Sumbatan (hambatan) saluran nafas
  6. Iritasi (rangsangan) oleh zat kimia (chemical iritation)
  7. Keracunan gas nitrogen (nitrogen narcosis)
  8. Keracunan gas oksigen (oxygen poisoning / toxicity)

Nomor 1) s.d. 7) dapat menimbulkan oxygen deficiency (kekurangan oksigen).

  b. Kedaruratan yang disebabkan oleh sifat-sifat fisik air sebagai media penyelaman (in water emergencies, kedaruratan dalam air)

1)   Tenggelam (drowning)

2)   Squeeze (barotrauma)

3)   Kehilangan panas tubuh yang berlebihan (kedinginan)

4)   Pengembangan gas (gas expansion)

c.   Gangguan teknis pelaksanaan penyelaman (operational hazard):

  1. Naik ke permukaan dengan cepat tanpa terkendali (blow up)
  2. Terbelit dan terperangkap (fouling and entrapment)
  3. Kerusakan alat (equipment failure)
  4. Suplai udara terputus (lost of air supply)
  5. Komunikasi kontak dengan penyelam terputus (lost of communication)
  6. Penyelam hilang (lost of diver)

2.    Kedaruratan penyelam yang memerlukan tindakan/ pengobatan- pengobatan rekompresi:

  1. Dekompresi yang tidak terlaksana atau terlaksana tetapi tidak memadai
  2. Emboli gas (emboli udara, gas emboli)
  3. Penyakit dekompresi (Decompression Sickness)

Tiga tahapan dalam penatalaksanaan penanganannya. Menurut modul PJOK Kelas XII (2020), tahapan ini terdiri dari:

  1. Bantuan hidup dasar

Langkah- Langkah BHD :

  • Cek respon , dengan menepuk-nepuk pasien
  • Panggil bantuan
  • Cek nadi dan pernapasan pasien, jika tidak teraba nadi lanjutkan CPR ( pijat jantung) lakukan CPR sampai tenaga medis datang. penanganan korban tenggelam diprioritaskan pada circulation dan berlanjut ke airway lalu breathing.

Langkah ini tidak berlaku pada bayi baru lahir karena umumnya penyebab pingsan dan tidak bernapas yaitu masalah jalan napas.

2. Membawa korban ke rumah sakit terdekat

Pada tahapan ini, menurut pedoman yang berlaku sebelumnya, ditangani dengan look, listen, dan feel.Look artinya melihat pergerakan dada, listen yakni mendengarkan jalan napas, dan feel adalah merasakan ada tidaknya hembusan napas. Namun, seiring perkembangan zaman, pedoman tersebut dikritisi karena kunci utama penyelamatan korban dengan henti jantung adalah bertindak, dan bukan menilai. Jika terdapat korban tenggelam tidak sadar dan tidak bernapas, segera hubungi ambulans yang umumnya didampingi tenaga paramedis untuk menolong korban. Pemberian kompresi intrinsik untuk mengeluarkan cairan tidak disarankan karena tidak terbukti mengeluarkan cairan dan berisiko muntah serta aspirasi.

3. Bantuan hidup lanjut

Bantuan hidup lanjut untuk korban tenggelam berupa pemberian oksigen bertekanan lebih tinggi. Pemberian oksigen ini dapat dilakukan dengan Bag Valve mask (BVM) atau tabung oksigen.

     Ada 3 macam resusitasi yaitu:

  • Resusitasi paru (pulmonary resucitation)
    Memberikan pernafasan buatan untuk mengembalikan fungsi pernafasan.
  • Resusitasi jantung (cardiac resucitation)
    Pemijatan jantung untuk mengembalikan fungsi jantung.
  • Resusitasi jantung dan paru (cardio pulmonary resucitation = CPR)

      Korban kecelakaan penyelaman sering ditemukan dalam keadaan tidak sadar disertai berhentinya pernafasan dan denyut jantung, untuk itu perlu diberikan pernafasan buatan bersama-sama pemijatan jantung (CPR). Untuk memudahkan resusitasi paru digunakan alat resusitasi, misal AMBU Type Resucitation, yang dapat digerakkan secara mekanis (dengan pompa karet) atau dihubungkan ke tabung oksigen.

KESIMPULAN

  1. Tekanan akan meningkat bila seseorang menyelam di bawah permukaan air karena perbedaan berat dari atmosfir dan berat air di atas penyelam.
  2. Perubahan respons paru bersifat reversibel dan ireversibel berupa penurunan ventilasi, peningkatan ruang rugi fisiologis dan volume cadangan ekspirasi. Peningkatan tekanan hidrostatik menyebabkan peningkatan perbedaan tekanan alveolar dengan dinding dada.
  3. Penatalaksaan penyakit akibat penyelaman disesuaikan dengan proses patogenesis penyakit. Pencegahan kejadian penyakit akibat penyelaman adalah lebih baik karena sebagian besar korban tidak selamat akibat keterlambatan dan jarak jauh saat proses transpor ke fasilitas kesehatan.
  4. Pertolongaan Pertama dan ketepatan dalam penatalaksanaan penyelaman kegawatdarutan pada penyelaman akan meningkatkan keselamatan penyelam.

DAFTAR REFERENSI

  1. Farrel P, Godden D, Curie G, Denison D, Ross J, Stephenson R, et al. British thoracic society guidelines on respiratory aspects of fitness for diving. Thorax 2003;58:3-13.
  2. Tetzlaff K,Theysohn J, Stahl C, Schlegel S, Koch A, Muth CM. Decline of FEV1 in scuba divers. Chest 2006;130:238-43.
  3. Adriano B, Sitepu BI, Kartarahardja S, Sutjiadi RH. Buku petunjuk one star scuba diver CMAS Indonesia. Dewan Instruktur Selam Indonesia 2005.
  4. Glen S, White S, Douglas J. Medical supervision of sport diving in Scotland: reassessing the need for routine medical examination. Br J Sports Med 2000;34:375-8.
  5. Boussuges A, Blanc F, Carturan D. Hemodynamic changes induced by recreational scuba diving. Chest 2006;129:1337-43.
  6. Sherwood L, The respiratory system. In: Sherwood L, editor. Textbook of medical physiology. 5th ed. Beldmont: Wadsworth Publishing. 1996. p.448- 50.
  7. Wilmshurst P. Diving and oxygen. BMJ 1998;317:996-9.
  8. Tetzlaff K, Friege L, Reuter M, Haber J, Mutzbauer T, Neubauer B. Expiratory flow limitation in compressed air divers and oxygen divers. Eur Respir J 1998;12:895–9
  9. Skogstad M, Thorsen E, Haldorsen T. Lung function over the first 3 years of a professional diving career. Occup Environ Med 2000;57:390–5.
  10. 10. Crosbie WA, Reed JW, Clarke MC. Functional characteristics of the large lungs found in comercial divers. J Appl Physiol 1979;46:639-45

Dampak Stress atau Mental Health Dalam Sistem Organ Muskuluskletal

Oleh: dr Anis Dwi Anita Rini, M.H Perfusionist
Residen Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan, Universitas Hang Tuah, Surabaya

Pendahuluan

  • Sistem muskuloskeletal

Sistem muskuloskeletal merupakan salah satu sistem penting dalam tubuh manusia yang berperan dalam menjaga kestabilan dan memberikan dukungan struktural pada tubuh. Sistem muskuloskeletal manusia (juga dikenal sebagai sistem lokomotor manusia, sebelumnya sistem aktifitas), adalah sebuah system organ yang memberi manusia kemampuan untuk bergerak menggunakan otot dan rangka. Sistem muskuluskeletal memberi bentuk, tunjangan, keseimbangan dan pergerakan tubuh. [2]

Sistem ini terdiri dari tulang, otot, dan sendi yang bekerja secara bersama-sama untuk memungkinkan gerakan tubuh dan melindungi organ-organ vital di dalamnya. Pengertian sistem muskuloskeletal meliputi struktur, fungsi, dan peran pentingnya dalam menjaga kesehatan dan kualitas hidup seseorang.[1]

Sistem ini terdiri dari rangka yang terdiri dari tulang, otot, tulang rawan,[2] tendon, ligament, sendi dan jaringan ikat lainnya yang menunjang tubuh, memberi kemampuan gerak, dan menggabungkan jaringan-jaringan beserta organ Bersama. Fungsi utama dari system ini mencakup menunjang tubuh, memberi kemampuan gerak, dan melindungi organ-organ penting.[3] Bagian rangka dari sistem ini memjdi sistem penyimpanan utama untuk kalsium dan fosfor pada tubuh manusia dan mengandung komponen penting untuk sistem hematopoietik (pembentukan darah).[4]

Fungsi utama system Muskuloskeletal adalah sebagai berikut : [4]

  1. Memberikan bentuk dan dukungan pada tubuh manusia.
  2. Memungkinkan gerakan tubuh, baik gerakan besar seperti berjalan, berlari, atau melompat, maupun gerakan halus seperti menggerakkan jari.
  3. Melindungi organ-organ tubuh yang penting, seperti jantung, paru-paru, dan otak.
  4. Membantu dalam proses produksi sel darah di sumsum tulang.

Beberapa cara untuk menjaga kesehatan Sistem Muskuloskeletal adalah : [1]

  1. Melakukan olahraga secara teratur, seperti berjalan, berlari, atau berenang, untuk memperkuat otot dan tulang.
  2. Mengonsumsi makanan yang kaya kalsium dan vitamin D, seperti susu, keju, ikan, dan sayuran hijau.
  3. Menghindari posisi duduk atau berdiri dalam waktu yang lama, dengan sering mengubah posisi tubuh.
  4. Menggunakan perlengkapan pelindung saat berolahraga atau melakukan aktivitas yang berisiko cedera pada sistem muskuloskeletal.

Beberapa penyakit atau gangguan yang dapat terjadi pada Sistem Muskuloskeletal meliputi:[1]

  1. Osteoporosis: Penyakit di mana tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
  2. Arthritis: Peradangan pada sendi yang menyebabkan nyeri dan keterbatasan gerakan.
  3. Cedera otot atau tulang: Seperti patah tulang, terkilir, atau cedera ligamen atau tendon.
  4. Skoliosis: Kelainan pada tulang belakang yang menyebabkan lengkungan pada tulang belakang.
  • STRES

Stres adalah reaksi fisik atau emosional tubuh terhadap situasi atau kejadian yang dianggap menantang atau mengancam. Stres dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk pekerjaan, hubungan pribadi, masalah keuangan, atau masalah kesehatan. Ada dua jenis stres utama: [8]

  1. Stres Akut

adalah respon stres jangka pendek yang terjadi ketika menghadapi situasi yang menekan, seperti ujian, presentasi, atau keadaan darurat. Stres akut biasanya bersifat sementara dan dapat membantu tubuh untuk merespons dan mengatasi tantangan dengan cepat.

  • Stres Kronis

adalah jenis stres yang berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama. Stres kronis dapat disebabkan oleh masalah yang berkelanjutan, seperti tekanan pekerjaan yang konstan, masalah keluarga, atau masalah kesehatan yang tidak kunjung sembuh. Stres kronis dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.

Gejala Stres :

  • Fisik: Sakit kepala, sakit otot, kelelahan, gangguan tidur, dan masalah pencernaan.
  • Emosional: Kecemasan, depresi, mudah marah, dan perubahan suasana hati.
  • Perilaku: Perubahan nafsu makan, perilaku menghindar, peningkatan konsumsi alkohol atau rokok, dan pengurangan aktivitas fisik.

Pengelolaan Stres: [8]

Untuk mengelola stres dengan efektif, penting untuk mengenali penyebabnya dan menerapkan strategi yang dapat membantu mengurangi dampaknya.

Beberapa cara untuk mengelola stres meliputi:

  • Olahraga: Aktivitas fisik dapat membantu melepaskan ketegangan dan meningkatkan mood.
  • Relaksasi: Teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam dapat membantu menenangkan pikiran.
  • Pola Makan Sehat: Makan makanan bergizi dan seimbang.
  • Dukungan Sosial: Berbicara dengan teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental dapat memberikan dukungan emosional.
  • Dampak Stress atau Mental Health dalam sistem organ muskuluskletal

Gangguan muskuloskeletal” (MSD) mencakup berbagai kondisi yang mempengaruhi tulang, otot, jaringan ikat, dan persendian. Pada individu muda, beberapa faktor risiko terkait pekerjaan telah diidentifikasi, termasuk faktor fisik seperti beban kerja, posisi kerja yang buruk, dan aspek ergonomis, serta faktor psikososial, sosial ekonomi, lingkungan, dan individu seperti jenis kelamin. Stres adalah reaksi psikologis dan fisik terhadap tuntutan hidup yang terus meningkat. [7]

Dampak Stress atau Mental Health dalam sistem organ muskuluskletal :[5]

            1. Ketegangan Otot

Stres menyebabkan otot-otot tubuh menjadi tegang sebagai respons refleks terhadap situasi menantang. Ketegangan otot yang berkelanjutan dapat menyebabkan ketegangan otot kronis, yang sering terjadi pada area bahu, leher, dan punggung. Ketegangan otot ini dapat menyebabkan nyeri dan kelemahan otot.[5]

Ketegangan otot akibat stres adalah respons tubuh yang umum ketika seseorang menghadapi situasi yang menekan. Berikut respon mengenai ketegangan otot sebagai dampak dari stress :

  1. Respons “Fight or Flight”

Saat seseorang mengalami stres, tubuh merespons dengan aktivasi sistem saraf simpatis yang dikenal sebagai respons “fight or flight.” Dalam respons ini, tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Hormon-hormon ini menyebabkan otot-otot menjadi tegang sebagai persiapan untuk menghadapi ancaman.

  • Ketegangan Otot Jangka Pendek

Ketika stres bersifat sementara, ketegangan otot biasanya bersifat jangka pendek. Otot-otot yang paling sering terpengaruh adalah otot-otot di leher, bahu, dan punggung. Orang yang mengalami stres mungkin merasa kaku atau nyeri di area-area ini.

  • Ketegangan Otot Kronis

Jika stres berlanjut dalam jangka waktu yang lama, ketegangan otot dapat menjadi kronis. Ketegangan otot kronis dapat menyebabkan nyeri berkepanjangan dan masalah postur tubuh. Misalnya, seseorang yang mengalami stres berkepanjangan mungkin mengembangkan postur yang buruk, seperti membungkuk atau menegang, yang pada gilirannya memperburuk ketegangan otot.

2. Nyeri Punggung Bawah

Stres kronis dapat menyebabkan nyeri pada punggung bawah. Ketegangan otot yang berkelanjutan dapat memperburuk kondisi seperti sakit punggung bawah, yang sering kali disebabkan oleh postur tubuh yang tidak baik atau aktivitas fisik yang berlebihan.

Dampak Stres terhadap Nyeri Punggung Bawah: [8]

  • Ketegangan Otot: Stres menyebabkan otot-otot tubuh menjadi tegang sebagai respons “fight or flight.” Ketegangan otot yang berkelanjutan, terutama di area punggung bawah, dapat menyebabkan nyeri.
  • Postur Tubuh yang Tidak Baik: Saat stres, seseorang cenderung mengambil posisi tubuh yang tidak sehat, seperti membungkuk atau duduk terlalu lama. Postur tubuh yang buruk dapat memperburuk ketegangan otot dan menyebabkan nyeri punggung bawah.
  • Aktivitas Fisik yang Kurang: Stres dapat mengurangi motivasi untuk beraktivitas fisik, yang pada gilirannya dapat menyebabkan otot punggung menjadi lemah dan lebih rentan terhadap nyeri.
  • Gangguan Tidur: Stres dapat mengganggu pola tidur, yang pada gilirannya dapat memperburuk kondisi nyeri punggung. Tidur yang tidak cukup dapat menyebabkan otot semakin tegang dan memperburuk nyeri.

3. Penurunan Kekuatan Otot

Stres berkepanjangan dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot. Ketegangan otot yang berkelanjutan dapat mengakibatkan otot menjadi lemah dan kurang responsif terhadap rangsangan fisik.[5]

Dampak Stres terhadap Nyeri dan Penurunan Kekuatan Otot:[10]

  • Hormon Stres: Ketika seseorang mengalami stres, tubuh menghasilkan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Hormon-hormon ini dapat menyebabkan otot-otot menjadi tegang dan kaku, yang pada akhirnya dapat menyebabkan nyeri otot.
  • Ketegangan Otot: Stres yang berkelanjutan dapat menyebabkan otot-otot tetap dalam keadaan tegang dan kaku. Ketegangan otot yang berkepanjangan dapat menyebabkan nyeri dan mengurangi kemampuan otot untuk berkontraksi dengan baik.
  • Penurunan Kekuatan Otot: Stres kronis dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot. Otot yang tegang dan kaku tidak dapat berkontraksi dengan efisien, yang pada akhirnya dapat mengurangi kekuatan otot secara keseluruhan.
  • Gangguan Tidur: Stres dapat mengganggu pola tidur, yang pada gilirannya dapat memperburuk kondisi nyeri otot dan penurunan kekuatan otot. Tidur yang tidak cukup dapat menyebabkan otot semakin tegang dan lemah.

4. Gangguan Muskuloskeletal

Stres dapat memicu atau memperburuk kondisi muskuloskeletal seperti arthritis, fibromyalgia, dan sindrom piriformis. Kondisi-kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, kelemahan, dan kekakuan otot.[5]

5. Gangguan Pola Tidur

Stres dapat mengganggu pola tidur, yang pada gilirannya dapat memperburuk kondisi muskuloskeletal. Kurang tidur yang berkualitas dapat menyebabkan peningkatan ketegangan otot dan nyeri.[6]

Dampak Stres terhadap Gangguan Pola Tidur:[11]

  • Insomnia: Stres dapat menyebabkan kesulitan untuk tidur atau mempertahankan tidur, yang dikenal sebagai insomnia. Orang yang stres mungkin merasa sulit untuk tidur, sering terbangun di malam hari, atau merasa tidak segar setelah bangun tidur.
  • Kurang Tidur: Stres dapat mengurangi kualitas tidur secara keseluruhan, menyebabkan tidur yang tidak cukup atau tidur yang tidak berkualitas. Kurang tidur dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.
  • Gangguan Tidur Kronis: Stres yang berkelanjutan dapat menyebabkan gangguan tidur kronis, seperti apnea tidur (gangguan pernapasan saat tidur) atau sindrom kaki tidak nyaman (restless legs syndrome). Gangguan-gangguan ini dapat memperburuk kondisi tidur dan kesehatan secara keseluruhan.
  • Gangguan Kesehatan Mental: Stres dapat memicu atau memperburuk gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, yang pada gilirannya dapat mengganggu pola tidur. Gangguan kesehatan mental dapat menyebabkan insomnia atau tidur yang tidak berkualitas.

6. Perilaku Tidak Sehat

Stres sering kali mendorong orang untuk mengambil perilaku yang tidak sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, dan kebiasaan tidur yang buruk. Perilaku-perilaku ini dapat memperburuk kondisi musculoskeletal.[6]

Konsultasi dengan dokter jika mengalami gejala-gejala berikut :[1]

  1. Nyeri yang berkepanjangan pada otot atau sendi.
  2. Kesulitan dalam melakukan gerakan atau aktivitas sehari-hari.
  3. Pembengkakan, kemerahan, atau panas pada area otot atau sendi.
  4. Cedera atau trauma pada tulang atau otot.

Kesimpulan :

Sistem muskuloskeletal merupakan sistem penting dalam tubuh manusia yang terdiri dari tulang, otot, dan sendi. Dengan kerjasama ketiga komponen ini, sistem muskuloskeletal memungkinkan manusia untuk bergerak dengan bebas dan menjaga stabilitas tubuh. Namun stres akan mempengaruhi dan berdampak pada organ system dan fungsi dari muskuloskletal. Oleh karena itu hindari stress dan selalu berbahagia.

Daftar Referensi :

  1.  Pengertian Sistem Muskuloskeletal: Definisi dan Penjelasan Lengkap Menurut Ahli – Geograf
  2.  MeSH Musculoskeletal+System
  3. Mooar, Pekka (2007). “Muscles”. Merck Manual. Diakses tanggal 12 November 2008.
  4. Kahn, Cynthia; Scott Line (2008). Musculoskeletal System Introduction: Introduction. New Jersey, US: Merck & Co., Inc.
  5. https://voi.id/lifestyle/416868 : Dampak Stres Ternyata Mempengaruhi 7 Sistem pada Tubuh
  6. https://psikologi.uma.ac.id/Pengaruh Stres terhadap Kesehatan Mental dan Fisik
  7. Fares J, Al Tabosh H, Saadeddin Z, El Mouhayyar C, Aridi H. Stress, burnout and coping strategies in preclinical medical students. N Am J Med Sci 2016;8:75–81.
  8. https://pji.uma.ac.id/index.php/2022/06/14:Mengenal Jenis-Jenis Stres dan Cara Mengatasinya!!! – Pusat Jurnal Ilmiah Universitas Medan Area – Pusat Jurnal Ilmiah Terbaik di Sumatera Utara
  9. Beautynesia (2024): Artikel yang menjelaskan bagaimana stres dapat memicu sakit punggung dan memberikan tips untuk mengelolanya
  10. Hansaplast (2022): Artikel yang menjelaskan hubungan antara stres dan nyeri otot, serta dampaknya pada tubuh.
  11. Riviera Publishing (2022): Tinjauan literatur tentang pengaruh pola tidur terhadap kesehatan mental mahasiswa, termasuk dampak stress.