All posts by dr. Anita Devi Residen SpKL

DAMPAK STRES TERHADAP GANGGUAN NEUROLOGIS PADA PELAUT

Oleh : dr Anita Devi, M.Si Residen PPDS Kedokteran Kelautan FK UHT
Dosen : dr. Hesti Ekawati SpKL, M.MTr.

Stres dapat terjadi pada berbagai profesi, termasuk juga pada pelaut. Pelaut seringkali berhadapan dengan lingkungan kerja yang unik dengan berbagai tantangan, tentunya menyebabkan tingkat stres yang tinggi, yang dapat berkontribusi pada berbagai masalah neurologis. Lingkungan kerja penuh risiko, seperti cuaca buruk, kecelakaan kapal, atau kecelakaan kerja lainnya. Risiko ini berpotensi meningkatkan kecemasan dan ketegangan pada pelaut. Di samping itu, kebisingan dan getaran kapal, beban fisik yang berat, tuntutan jam kerja yang panjang, tidak teratur dan waktu istirahat yang minim dapat menyebabkan gangguan tidur dan kelelahan kronis, yang berperan penting dalam peningkatan risiko gangguan neurologis. Kesempatan cuti singkat dan tekanan untuk memenuhi deadline, lingkungan kerja yang terbatas, rasa kesepian, jauh dari keluarga, kurangnya dukungan sosial, konsumsi alkohol dan zat berbahaya lainnya dapat memperburuk perasaan terisolasi mengakibatkan beban psikologis pada pelaut lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja di darat. Penelitian Wadsworth et al. (2008), menunjukkan bahwa 25% pelaut mengalami depresi, lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Sampson & Ellis (2019) mengemukakan bahwa 20% pelaut melaporkan ide bunuh diri dalam dua minggu sebelum survei. Penelitian ini juga menyoroti hubungan antara kesehatan mental dan risiko cedera serta penyakit di tempat kerja.

Ketika seorang pelaut mengalami stres, tubuhnya akan mengalami beberapa respon biologis yang menimbulkan gejala fisik dan mental. Beberapa perubahan yang berpotensi terjadi jika seseorang mengalami stres:

  1. Respon Biologis

Pelepasan Hormon Adrenalin dan Kortisol: Pada kondisi stres, hipotalamus akan melepaskan hormon adrenokortikotropik, yang kemudian mengaktivasi kelenjar adrenal untuk melepaskan adrenalin dan kortisol (glukokortikoid). Perubahan Sistem Saraf: Respon “fight or flight” ini meningkatkan aktivitas sistem saraf, membuat individu lebih siaga dan bersedia menghadapi ancaman. Jika respons ini berlangsung lama, dapat menyebabkan perubahan dalam sistem saraf pusat, termasuk peningkatan risiko gangguan neurologis seperti sakit kepala, migrain, dan bahkan masalah neurologis jangka panjang

  •  Respon Fisik:

Gejala fisik dapat timbul karena stres seperti nyeri kepala/migrain akibat kontraksi otot kepala yang berlangsung lama, nyeri otot/kram gangguan muskuloskeletal karena ketegangan otot. Insomnia/gangguan tidur karena stres, gangguan pencernaan beruapa nyeri perut, sembelit, atau diare, peningkatan denyut jantung oleh adrenalin untuk meningkatkan suplai oksigen ke otot, meningkatkan tekanan darah, risiko hipertensi karena peningkatan tekanan darah. frekuensi napas meningkat untuk meningkatkan oksigenasi otot, otot menjadi tegang untuk siap beraksi.

  • Gejala Mental

Gejala mental yang mungkin muncul saat stres meliputi: Depresi/Kecemasan akibat Emosi negatif yang kuat. Gangguan Kepribadian Perubahan perilaku dan suasana hati. Komplikasi jangka panjang : stres berkepanjangan dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang lebih serius, seperti masalah jantung berupa gangguan irama jantung, hipertensi, dan serangan jantung. Obesitas berupa gangguan pola makan /Binge eating disorder. Keluhan kulit berupa jerawat, dermatitis atopik, Psoriasis, rambut rontok. Masalah organ reproduksi dan hormonal seperti infertilitas dan masalah siklus menstruasi.

Pada dasarnya stres merupakan respons tubuh terhadap ancaman atau tantangan, baik berupa fisiologis maupun psikologis. Tubuh mengaktifkan sistem saraf simpatik untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi berbahaya, dikenal sebagai respons “fight or flight” saat merasa terancam. Stres kronis yang berlangsung lama dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam sistem saraf, yang berpotensi menimbulkan gangguan neurologis. Stres dapat menyebabkan gangguan Sistem Saraf Pusat (SSP) maupun gangguan Sistem Saraf Tepi (SST). Pada gangguan SSP, stres dapat mempengaruhi otak, peningkatan kadar hormon kortisol, jika berlebihan dapat mengganggu fungsi hippocampus, bagian penting dalam pengaturan emosi dan memori. Stres yang mempengaruhi otak dapat mengarah pada gejala gangguan mood, kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Sedangkan pada SST, gejala yang sering timbul berupa nyeri otot, kesemutan, atau bahkan mati rasa pada tangan dan kaki. Gejala tersebut timbul karena stres dapat meningkatkan ketegangan otot.

Pengaruh Stres terhadap Gangguan Saraf pada Pelaut

  1. Gangguan Mental, Emosional dan Neuropsikologis: Stres berkepanjangan dapat menyebabkan berbagai gangguan mental, seperti kecemasan, depresi, dan insomnia. Perasaan terisolasi, kelelahan mental, dan penurunan konsentrasi akibat stres, emosi yang tidak stabil, kesulitan dalam mengatasi perubahan mood dan gangguan kecemasan dapat dialami pelaut dengan stres kronis yang tidak diatasi dengan baik. Studi dari Chao, Y., & Lee, S. menemukan bahwa stres dapat mempengaruhi kesehatan mental pelaut, termasuk meningkatkan risiko depresi dan kecemasan. Studi Li, Q., et al. menemukan bahwa stres dapat mempengaruhi fungsi neuropsikologis pelaut, termasuk kemampuan kognitif, emosi, dan perilaku. Studi dari Zhang, Y., et al. menemukan bahwa stres dapat mempengaruhi kinerja kognitif pelaut, termasuk perhatian, memori, dan pengambilan keputusan.
  • Gangguan neuropati perifer: stres akan memicu ketegangan otot yang berlebihan, seperti :

–  Hypertonia (tonus otot yang terlalu tegang)

Spasme (kontraksi otot yang tidak terkendali)

Tetani (kontraksi otot yang berkelanjutan)

Rigidity (kekakuan otot) yang kemudian menekan saraf perifer.

Stres dapat memperburuk kondisi neuropati perifer, dengan gejala sebagai berikut :

  •  Paresthesia (kesemutan, mati rasa), nyeri yang berat di tangan dan kaki,
  • Stiffness (rasa kaku), kesulitan bergerak,
  • Spastisitas (otot yang terlalu tegang dan kaku)
  • Dystonia (otot yang tidak terkendali dan mengalami kontraksi)
  • Miopati (otot yang lemah dan tidak berfungsi dengan baik)
  • Gangguan Saraf Pusat : studi dari Wang et al. menemukan bahwa pelaut memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan saraf, termasuk stroke, kejang, dan neuropati.
  • Penyakit jantung dan gangguan saraf otonom: stres kronis juga dapat mempengaruhi sistem saraf otonom, yang bertanggung jawab mengatur fungsi tubuh yang tidak disengaja seperti detak jantung, tekanan darah, pernafasan dan pencernaan. Stres dapat menyebabkan gangguan pada sistem ini, meningkatkan risiko penyakit jantung dan gangguan lainnya.
  • Sindrom kelelahan kronis: pelaut yang mengalami stres berkepanjangan rentan terhadap sindrom kelelahan kronis, yang berdampak terhadap fungsi saraf secara keseluruhan, termasuk menyebabkan penurunan konsentrasi, kelelahan ekstrem, dan gangguan pola tidur. Gangguan tidur berdampak negatif pada kesehatan otak dan meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif di kemudian hari. Studi dari Oldernburg et al. menemukan bahwa stres kerja dapat mempengaruhi kelelahan pelaut, yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan dan gangguan saraf.
  • Gangguan seksual : dampak stres terhadap gangguan seksual pada pelaut dapat dilihat dari beberapa aspek yang berkaitan dengan kesehatan mental dan hubungan interpersonal. Pelaut sering mengalami stres akibat kondisi kerja yang unik, termasuk lamanya waktu terpisah dari keluarga dan ketidakpastian yang terkait dengan pekerjaan mereka di laut. Hal ini dapat berkontribusi pada masalah seksual, baik bagi pelaut itu sendiri maupun pasangan mereka. Pelaut yang mengalami stres berlebih dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Penelitian menunjukkan bahwa stres yang tinggi dapat mengganggu fungsi seksual, menyebabkan disfungsi ereksi, ejakulasi dini, dan penurunan libido. Rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual, kepuasan seksual yang rendah juga dapat timbul akibat kecemasan. Waktu yang lama di laut menyebabkan pelaut terpisah dari pasangan mereka, yang bisa memicu perasaan kesepian dan ketidakpuasan dalam hubungan. Penelitian menunjukkan bahwa istri-istri pelaut sering mengalami kecemasan terkait dengan kepuasan pernikahan, yang dapat berdampak negatif pada kehidupan seksual mereka. Penanganan stres melalui dukungan psikologis dan peningkatan komunikasi antara pasangan sangat penting untuk menjaga kesehatan seksual dan kepuasan pernikahan.

Penanganan Stres untuk Mencegah Gangguan Saraf pada Pelaut

Beberapa cara untuk mencegah dan mengurangi dampak stres terhadap sistem saraf pada pelaut:

  1. Penerapan program kesehatan mental: pengembangan program dukungan mental dan psikologis bagi pelaut dapat membantu mereka mengelola stres dan mencegah gangguan mental yang dapat merusak sistem saraf.
  2. Peningkatan kualitas tidur: mengatur waktu tidur yang cukup dan menyediakan fasilitas yang mendukung tidur yang baik sangat penting untuk mencegah gangguan saraf yang disebabkan oleh kelelahan kronis.
  3. Teknik relaksasi dan olahraga: teknik relaksasi seperti yoga atau meditasi dapat membantu mengurangi ketegangan otot dan menurunkan tingkat stres secara keseluruhan. Olahraga teratur dapat meningkatkan sirkulasi serebral, yang berkontribusi pada kesehatan sel-sel neuron, meningkatkan konsentrasi serta mempertajam daya ingat.  Saat berolahraga, tubuh memproduksi hormon endorfin dan serotonin, yang berperan dalam meningkatkan suasana hati. Hormon-hormon ini memberikan perasaan nyaman dan bahagia. Olahraga juga membantu mengendalikan kadar hormon stres seperti kortisol sehingga mengurangi gejala depresi serta kecemasan. Kadar protein penting untuk kesehatan neuron dan mendukung pertumbuhan serta pemeliharaan sel-sel saraf di otak, yaitu Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) juga meningkat dengan olahraga.
  4. Pelatihan manajemen stres: memberikan pelatihan kepada pelaut tentang cara mengelola stres, seperti keterampilan manajemen waktu dan teknik pernapasan, dapat mengurangi dampak negatif stres pada tubuh mereka.
  5. Peningkatan fasilitas dan kualitas kehidupan di kapal: menyediakan ruang pribadi yang lebih baik, akses ke hiburan, dan meningkatkan kualitas interaksi sosial di kapal dapat membantu mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan kesejahteraan mental pelaut.
  6. Terapi Medikamentosa

Pada kasus tertentu dokter dapat memberikan pengobatan farmakologis berupa antidepresi atau anticemas untuk membantu mengatasi keluhan.

Kesimpulan

Stres adalah masalah yang signifikan dalam kehidupan pelaut, dengan dampak jangka panjang pada kesehatan saraf mereka. Pelaut yang terpapar stres kronis berisiko tinggi mengalami gangguan saraf, baik yang bersifat fisik (seperti neuropati perifer) maupun mental (seperti kecemasan dan depresi). Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup pelaut sangat penting untuk menjaga kesehatan mereka. Penyediaan dukungan psikologis, program manajemen stres, serta peningkatan fasilitas di atas kapal adalah langkah-langkah yang dapat diambil untuk meminimalkan dampak stres terhadap kesehatan saraf pelaut.

Daftar Pustaka

Bigras, N., Lacelle, C., & Tahan, H. (2017). Sexual Anxiety and Marital Satisfaction in Young Adult Men. Jurnal Psikologi.

Kalia, M. (2002). Stres and neurodegeneration. Molecular and Cellular Neurosciences, 22(3), 147-157.

Linton, S. J., & Shaw, W. S. (2011). Impact of psychological factors in the experience of pain. Physical Therapy, 91(5), 700-711.

Li, Q., et al Neuropsychological Effects of Stress in Seafarers” (2016), International Journal of Psychology and Behavioral Science

McCraty, R., & Atkinson, M. (2005). The energetic heart: Bioelectromagnetic interactions within and between people. Journal of Alternative and Complementary Medicine, 11(6), 7-13.

Naibaho, L., & Virlia, S. (2016). Coping Stres pada Istri yang Menjalani Long Distance Married. Jurnal Philanthropy.

Oldenburg, M., et al. (2018). Stress and Fatigue in Seafarers: A Study of the Relationship Between Work-Related Stress and Fatigue, Journal of Occupational and Environmental Medicine

Riskasari, W. (2020). Kecemasan akan Kepuasan Pernikahan Istri-istri Pelaut. Jurnal Psikologi.

Sampson & Ellis (2019). “Seafarers’ Mental Health and WellbeingShipman, K. (2016). Occupational stres and the health of seafarers. International Maritime Health, 67(4), 266-272.

Sykes, D. P., & Cooke, R. E. (2009). Mental health in seafaring: A literature review. Occupational Medicine, 59(1), 9-16.

Wadsworth et al. (2008). “The Well-Being of International Seafarers: Occupational Stressors, Coping, and Health.” Occupational Medicine, 58(3), 259-268. 

Wang, Y., et al. (2019).Neurological Disorders in Seafarers: A Systematic Review,  International Journal of Environmental Research and Public Health

Zhang, Y., et al. (2017). The Impact of Stress on Seafarers’ Cognitive Performance, International Journal of Maritime Engineering

DIVE RELATED BLACKOUTS

Oleh : dr Anita Devi, M.Si Residen PPDS Kedokteran Kelautan FK UHT
Dosen : dr. Pandu Harijono,Sp.An.,TI.,Subs.TI (K)

Dive-related blackout adalah kehilangan kesadaran yang terjadi pada penyelam saat atau setelah menyelam. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

 1. Hipoksia: Kehabisan oksigen dapat menyebabkan kehilangan kesadaran.

2. Tekanan Darah Rendah: otak tidak mendapatkan oksigen yang cukup jika tekanan darah terlalu rendah.

3. Narkosis Nitrogen: Nitrogen memiliki efek anestesi yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran.

4. Peralatan yang tidak berfungsi: gangguan fungsi peralatan selam dapat menyebabkan kehilangan kesadaran.

5. Kondisi stres dan kecemasan: menyebabkan kehilangan kesadaran dapat dipicu oleh stres dan kecemasan

Gejala :

1. Sulit bernapas

2. Sulit bicara

3. Sulit bergerak

4. Mendadak kehilangan kesadaran

Pencegahan :

1. Persiapkan peralatan selam sesuai dan berfungsi dengan baik

2. Pastikan kondisi fit sebelum menyelam, jika perlu lakukan pemeriksaan kesehatan

3. Menyelam Bersama dive buddy

4. Jangan melebihi batas waktu dan kedalaman menyelam

5. Ikuti prosedur penyelaman dengan benar

Penanganan

1. Bawa korban naik ke permukaan jika terjadi gejala kehilangan kesadaran

2. Berikan oksigen jika memungkinkan

3. Lakukan CPR jika korban tidak bernapas

4. Segera mencari pertolongan medis jika korban tidak sadar atau mengalami gejala lainnya.

BLACKOUT SAAT FREE DIVING

Pada penyelam tahan nafas /breath hold diving, hypoxic black out disebut juga breathhold syncope/ shallow water blackout.  Shallow water blackout adalah suatu kondisi yang terjadi ketika seorang penyelam mengalami kehilangan kesadaran karena kekurangan oksigen di dalam air yang dangkal. Kondisi ini dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti:

1. Kekurangan oksigen di dalam air.

2. Tekanan air yang rendah.

3. Kegagalan peralatan menyelam.

Blackout yang terkait dengan penyelaman, yang sering disebut sebagai “blackout saat freediving,” adalah kejadian serius yang terjadi ketika seorang penyelam kehilangan kesadaran akibat pasokan oksigen yang tidak mencukupi ke otak, terutama selama penyelaman dengan menahan napas. Fenomena ini dapat menyebabkan tenggelam jika tidak segera ditangani. Memahami mekanisme, faktor risiko, dan langkah-langkah pencegahan sangat penting bagi penyelam dan petugas keselamatan.

Mekanisme Terjadinya Blackout

Ada beberapa mekanisme yang dapat menyebabkan blackout terkait penyelaman:

Hipoksia karena waktu: Ini terjadi ketika seorang penyelam menahan napas dengan durasi yang panjang, menyebabkan penurunan kritis kadar oksigen akibat aktivitas metabolik. Penahanan napas yang berkepanjangan, terutama di bawah tekanan, mempercepat proses ini. Hiperventilasi sebelum menyelam dapat memperburuk situasi dimana kadar CO2 menurun secara drastis, sehingga menekan dorongan untuk menarik napas dan memungkinkan penyelam menahan napas lebih lama dari yang seharusnya.

Hipoksia Iskemik: Aliran darah yang berkurang ke otak dapat terjadi akibat vasokonstriksi serebral yang disebabkan oleh rendahnya kadar CO2 akibat hiperventilasi atau peningkatan tekanan pada jantung dari teknik pengemasan paru-paru (glossofaringeal insuflation). Ini dapat menyebabkan pasokan O2 ke otak yang tidak memadai, menyebabkan penurunan kesadaran.

Hipoksia akibat Ascent: Saat penyelam naik dari kedalaman, pengurangan tekanan atmosfer mengurangi tekanan parsial oksigen yang tersedia. Seorang penyelam mungkin merasa baik-baik saja di kedalaman tetapi bisa mengalami blackout saat mereka naik dan kadar oksigen turun di bawah ambang batas untuk mempertahankan kesadaran.

Blackout di permukaan: Jenis ini terjadi segera setelah muncul ke permukaan ketika seorang penyelam menghembuskan napas. Tindakan menghembuskan napas mengurangi tekanan intratoraks dan menurunkan pengiriman oksigen ke otak, menyebabkan kehilangan kesadaran segera setelah muncul ke permukaan.

Faktor Risiko

Beberapa faktor meningkatkan kemungkinan mengalami blackout:

Hiperventilasi: Mengurangi kadar karbon dioksida secara sengaja melalui hiperventilasi meningkatkan risiko hipoksia dan mengurangi dorongan alami untuk bernapas.

Kedalaman dan Durasi Penyelaman: Penyelaman yang lebih dalam dan waktu menahan napas yang lebih lama secara signifikan meningkatkan risiko blackout karena meningkatnya tuntutan metabolik dan perubahan tekanan selama naik ke permukaan.

Kondisi Fisik: Meskipun individu yang bugar sering kali merupakan penyelam yang lebih kuat, mereka juga mungkin mendorong batas mereka lebih jauh, sehingga meningkatkan risiko Blackout.

Kurangnya Pengawasan: Menyelam tanpa pasangan atau monitor keselamatan dapat menyebabkan konsekuensi fatal jika terjadi blackout tanpa bantuan segera.

Strategi Pencegahan

Untuk mengurangi risiko terkait blackout saat menyelam, penyelam harus mempertimbangkan untuk menerapkan strategi berikut:

Pelatihan dan Pendidikan: Penyelam harus menjalani pelatihan tentang prosedur penyelaman yang aman dan memahami efek fisiologis dari menahan napas.

Dive buddy: Selalu menyelam dengan pasangan yang dapat membantu dalam keadaan darurat.

Hindari Hiperventilasi: hindari hiperventilasi berlebihan sebelum menyelam untuk menjaga kadar karbon dioksida tetap sesuai.

Pemantauan Profil Penyelaman: Memantau kedalaman dan durasi penyelaman membantu menghindari melebihi batas aman.

Kesimpulan

Blackout terkait penyelaman merupakan risiko signifikan bagi penyelam bebas, terutama ketika tidak memperhatikan prosedur keselamatan. Dengan memahami mekanisme di balik insiden ini dan menerapkan langkah-langkah pencegahan, penyelam dapat meningkatkan keselamatan mereka sambil menikmati pengalaman bawah air.

Referensi

Bove, A. A., & Davis, J. C. (2017). Diving medicine (5th ed.). Philadelphia, PA: Elsevier. Printing Office.

Edmonds C., Bennet M. Lippmann J, Mitchell SJ, (2016), Diving and Subaquatic Medicine, fifth Edition, CRC Press.

Guyton, Arthur C. (1991). Shallow water blackout. in Textbook of Medical Physiology (p. 739-740). Philadelphia, PA: W.B. Saunders Company. US Navy. (2016). US Navy diving manual (Revision 7). Washington, DC: US Government

DECOMPRESSION ILLNESS

Menyelam/ SCUBA Diving merupakan rekreasi populer yang diikuti oleh jutaan wisatawan di seluruh dunia. Salah satu risiko gangguan kesehatan yang dapat terjadi pada saat penyelam naik ke permukaan adalah Penyakit Dekompresi/ Decompression Illness. Ada beberapa istilah yang digunakan untuk Decompression Illness: Decompression Sickness, Bends, Compressed air illness, Caisson disease, Divers Palsy, Aeroembolism, Dysbarism.

DEFINISI:

Decompression Illness (DCI) adalah Penyakit/ kelainan yang disebabkan lepas dan mengembangnya gelembung gas (terutama Nitrogen) dari fase larut dalam darah atau jaringan akibat penurunan tekanan di sekitarnya.

II. PEMBAHASAN

ETIOLOGI AND PATHOFISIOLOGI
Berdasarkan Hukum Henry :

  • Jika tekanan gas diatas suatu larutan meningkat, jumlah gas yang terlarut di dalam larutan tersebut akan meningkat
  • Sebaliknya, jika tekanan di atas larutan tsb menurun,  jumlah gas yang terlarut di dalam larutan tsb menurun dan membentuk gelembung gas (bubble) di dalam larutan

Ketika seorang penyelam menghirup udara dari peralatan scuba di kedalaman, Nitrogen dihirup dengan tekanan parsial yang meningkat. Karena gas berdifusi dari area konsentrasi tinggi (tekanan parsial tinggi) ke area konsentrasi rendah, Nitrogen diambil dari paru oleh darah dan diangkut di sekitar tubuh dan masuk ke jaringan. Semakin dalam menyelam, semakin besar tekanan parsial Nitrogen, sehingga jumlah Nitrogen yang diserap ke dalam jaringan semakin besar. Kecepatan Nitrogen yang didistribusikan ke jaringan tergantung pada aliran darah di jaringan tersebut. Jaringan dengan kebutuhan metabolik tinggi seperti otak, jantung, ginjal dan hati menerima sebagian besar darah yang dipompa dari jantung. Jaringan tersebut juga akan menerima sebagian besar Nitrogen yang terbawa dalam darah dan akan memiliki serapan Nitrogen yang cepat. Jaringan seperti ini disebut “jaringan cepat” karena serapan Nitrogen mereka yang cepat. Nitrogen di eliminasi secara sebaliknya dari proses penyerapan di jaringan.

Ketika penyelam naik ke permukaan, tekanan lingkungan menurun, juga terdapat penurunan tekanan parsial Nitrogen di udara. Saat penyelam bernapas, memungkinkan darah melepaskan Nitrogen ke paru-paru. Penurunan kadar Nitrogen darah menyebabkan Nitrogen menyebar ke dalam darah dari jaringan. Jaringan cepat secara alami melepaskan Nitrogen lebih cepat daripada jaringan yang lebih lambat (otot, sendi, tulang).

Manifestasi klinis diakibatkan oleh tekanan lingkungan yang menurun pada saat penyelam naik ke permukaan. Penurunan tekanan lingkungan ini menyebabkan gas inert (terutama Nitrogen) terlarut dalam jaringan keluar dari bentuk larutnya dan memasuki fase gas. Akibatnya terjadi pembentukan gelembung gas di jaringan, di arteri dan darah vena. Gelembung Nitrogen dapat mengecil dengan sendirinya karena gas di dalamnya berdifusi kembali ke dalam darah, gelembung di dalam Vena kembali ke jantung kanan kemudian mengikuti sirkulasi kembali ke paru-paru, di filter di kapiler paru dan dapat dikeluarkan melalui ekshalasi. Kapiler paru merupakan filter yang sangat efektif. 

Jika penyelam naik ke permukaan terlalu cepat, jumlah dan volume Gelembung Nitrogen yang terbentuk melebihi kapasitas penyaringan kapiler paru. Sebagian gelembung Nitrogen dari vena tidak tersaring, melewati kapiler memasuki sirkulasi arteri. Gelembung Nitrogen pada vena dapat juga memasuki sirkulasi arteri melalui celah pada “Patent Foramen Ovale (PFO)”. Gelembung Nitrogen dapat menekan dan merusak jaringan, menimbulkan sumbatan dan kerusakan pembuluh darah, merangsang reaksi radang dan perubahan biokimia didalam darah. Lokasi, jumlah dan ukuran gelembung menentukan tipe dan tingkat keparahan gejala yang timbul.

Beberapa Hukum fisika yang berhubungan dengan Penyelaman dan Decompression Illness:

Hukum Boyle : Volume gas berbanding terbalik dengan tekanan pada suhu tetap

Hukum Dalton :Tekanan gas dalam suatu campuran sama dengan jumlah tekanan masing-masing gas dalam campuran tersebut

Hukum Charles : Pada volume tetap, temperatur gas berbanding lurus dengan tekanannya

MANIFESTASI DAN GEJALA KLINIS

Gejala biasanya muncul segera setelah penyelam naik ke permukaan permukaan hingga 48 jam sesudahnya. Bepergian ke dataran tinggi (lebih dari 300 meter), mendaki gunung ataupun terbang dengan pesawat komersial setelah menyelam dapat menyebabkan gelembung Nitrogen  berkembang karena tekanan lingkungan lebih rendah dari tekanan di permukaan laut. Ada 3 Type Decompression Illness:

  • Type I (Pain Only)
    – Nyeri sendi, yang memburuk dengan gerakan dan biasanya melibatkan siku dan bahu, rasa tebal dan kesemutan
    – Rasa lelah (fatigue)
    – Obstruksi limfatik yang dapat menyebabkan pembengkakan lokal Ruam, Kulit kemerahan (cutis marmorata), gatal, atau gelembung di bawah kulit
  • Type II
    Cardiopulmonary : Nyeri dada, batuk, Sesak nafas,
    Spinal : Kelumpuhan, Gangguan sensorik, gangguan BAB/ BAK
    Vestibular : Gangguan pendengaran, gangguan keseimbangan,
  • Type III
    – Cerebral Arterial Gas Embolism (CAGE)
    – Disorientasi, penurunan kesadaran, Nyeri kepala berat, gangguan Visual, gangguan bicara, ataksia, mual, muntah, kejang

Pertolongan Pertama:

  • Oksigen 100%, recovery position/ posisi pemulihan, membuat pasien merasa nyaman
  • Rehidrasi (cairan melalui mulut hanya diberikan kepada orang yang sepenuhnya sadar)
  • terapi simptomatis, misalnya mengurangi nyeri dengan memberikan NSAID
  • tanyakan informasi tentang riwayat penyelaman dalam 48 jam terakhir
  • pantau tanda-tanda vital, lakukan pemeriksaan neurologis lapangan jika memungkinkan
  • Kontak dengan konsultan / Dokter Hiperbarik dan rujuk ke Hiperbarik terdekat.

Jika menggunakan pesawat, penerbangan harus tidak lebih dari 1000 feet (305 meter). Lebih baik dengan jalur darat, perahu/ boat

Terapi Utama :

  • Terapi Oksigen Hiperbarik/ Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT)

HYPERBARIC OXYGEN THERAPY (HBOT)

Pengobatan yang menggabungkan menghirup Oksigen 100% dengan memberikan tekanan lebih dari 1 atmosfir absolute (1 ATA) didalam Hyperbaric chamber (RUBT). Tekanan yang diberikan harus sistemik, dan dapat dilakukan di dalam monoplace chamber (untuk 1 pasien) ataupun  multiplace chamber, Paseien bernafas melalui masker ataupun orotracheal tube.

Indikasi HBOT yang direkomendasikan oleh Undersea & Hyperbaric Medical Society (UHMS)

  1. Intoksikasi CO
  2. Decompression Illness
  3. Emboli Gas/ Udara
  4. Insuffisiensi Arteri Perifer Akut
  5. Acute Traumatic Peripheral Ischemia
  6. Crush Injury, Compartment Syndrome
  7. Skin Grafts / Skin Flaps
  8. Exceptional Blood Loss Anemia
  9. Osteoradionekrosis
  10. Soft Tissue Radionecrosis
  11. Necrotizing Soft Tissue Infections
  12. Gas Gangren
  13. Osteomyelitis Kronis
  14. Actinomycosis
  15. Ulkus diabetic/ Diabetic Foot
  16. Retinal Artery Occlusion

DASAR-DASAR TERAPI HBOT

  • Memperkecil volume gelembung gas, mempercepat resolusi gelembung gas, terutama pada Decompression Illness dan Emboli Gas/ Udara
  • Daerah iskemik/hipoksia akan menerima O2 optimal
  • Dalam jangka panjang meningkatkan pembentukan pembuluh kapiler baru di daerah hipoksia
  • Menekan pertumbuhan kuman, terutama kuman anaerob
  • Meningkatkan pembentukan fibroblas, meningkatkan daya fagositosis lekosit, membantu pembentukan jaringan kolagen
  • Di dalam darah O2 terikat dengan hemoglobin dan O2 bebas dalam plasma. Pada kondisi Hiperbarik, O2 terlarut dalam darah lebih banyak. HBOT membuat O2 bebas daalm plasma meningkat, sehingga kadar O2 dalam jaringan disekitar pembuluh darah juga meningkat. O2 mampu masuk 10-15 kali lebih jauh & lebih banyak ke dalam jaringan
  • Membantu eliminasi asam laktat

KONTRA INDIKASI

  • Absolut : Pneumothorax yang belum di terapi (Untreated Pneumothorax)
    Tekanan akan mengubahnya menjadi Tension Pneumothorax, Gangguan sirkulasi dan kolaps paru
  • Relatif
    – Riwayat pneumothorax spontan
    – Riwayat operasi thorax
    – Infeksi Saluran Pernafasan Akut
    – Emphysema dan PPOK
    – Gangguan kejang (mis: epilepsi)
    – Demam tinggi
    – Kehamilan

PENCEGAHAN DECOMPRESSION ILLNESS

  • Dive Planning, Perencanaan Penyelaman dengan baik
  • Menggunakan Tabel/ komputer penyelaman
  • Mengikuti No-Decompression Limits
  • Membatasi waktu penyelaman (Bottom times) tidak melebihi batas yang diijinkan
  • Tidak naik ke permukaan (ascent) terlalu cepat 
  • Tidak bepergian ke ketinggian/ naik pesawat segera setelah menyelam Tidak menyelam seorang diri, selalu menyelam dengan Dive buddy

PENUTUP

Decompression Illnes dapat terjadi akibat tekanan lingkungan yang menurun terlalu cepat pada saat penyelam naik ke permukaan. Penurunan tekanan lingkungan ini menyebabkan gas inert terlarut dalam jaringan keluar dari bentuk larutnya dan memasuki fase gas. Akibatnya terjadi pembentukan gelembung gas di jaringan, di arteri dan darah vena. Jika penyelam naik ke permukaan terlalu cepat, Nitrogen yang diserap oleh tubuh penyelam saat menyelam dapat keluar dari solusi & membentuk gelembung di cairan dan jaringan tubuh. Gejala biasanya muncul segera setelah penyelam naik ke permukaan permukaan hingga 48 jam sesudahnya.

Ada 3 Type Decompression Illness: Type 1 (Pain Only), Type 2 (Cardiopulmonary, Gangguan Susunan Saraf Pusat, Spinal, Vestibular) dan Type 3 (Cerebral Arterial Gas Embolism).

Pertolongan pertama dilakukan dengan Pemberian Oksigen 100%, rehidrasi dan pengobatan simptomatis. Pengobatan utamanya adalah Terapi Oksigen Hiperbarik/ Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT). Terapi Oksigen Hiperbarik pada Decompression Illness bermanfaat untuk memperkecil volume gelembung gas, mempercepat resolusi gelembung gas dan Oksigenasi jaringan iskemik/hipoksia.

Upaya Pencegahan Decompression Illness dapat dilakukan dengan perencanaan penyelaman dengan baik, menggunakan tabel/ komputer penyelaman, tidak naik ke permukaan (ascent) terlalu cepat, membatasi waktu penyelaman tidak melebihi batas yang diijinkan, serta tidak bepergian ke ketinggian/ naik pesawat segera setelah menyelam

DAFTAR PUSTAKA

Edmonds C, et al., Diving and Subaquatic Medicine, CRC Press, 2015

Mitchell SJ, Bennett MH, Consensus Guideline Pre-hospital Management of Decompression Illness: expert review of key principles and controversies, Diving and Hyperbaric Medicine Volume 48 No. 1 March 2018 45

Edmonds C, Diving Medicine for Scuba Divers, 2013

Joiner, J.T. (ed.). 2001. NOAA Diving Manual – Diving for Science and Technology, Fourth Edition. Best Publishing Company, Flagstaff, AZ.

Lippmann J, Decompression Illness: a Simple Guide and Practical Advice on the Recognition, Management and Prevention of DCI, J.L. Publications, 2011

Pollock, N.W, Buteau D, Updates in Decompression Illness, Emergency Med Clin North Am, 2017 Vann RD, et al., Decompression Illness, www.thelancet.com, Vol. 377, 2011

Etika Kedokteran Kelautan: Tanggung Jawab Profesional di Kawasan Pesisir dan Pariwisata

Kehadiran manusia di area Kawasan pesisir dan pariwisata sering kali menimbulkan tantangan etis, khususnya dalam konteks Kedokteran Kelautan. Berbagai kegiatan yang dilakukan di kawasan pesisir yang merupakan lokasi yang kaya akan keanekaragaman hayati terkadang menimbulkan efek yang kurang menguntungkan bagi kesehatan manusia maupun lingkungan. Etika Kedokteran Kelautan mencakup tanggung jawab profesional dalam menangani kesehatan individu dan lingkungan di daerah pesisir. Artikel ini akan mengeksplorasi aspek-aspek utama dari Etika Kedokteran Kelautan dan bagaimana tanggung jawab profesional diterapkan pada kawasan pesisir dan pariwisata.

1. Konteks Etika Kedokteran Kelautan

Etika Kedokteran Kelautan berpegang kepada prinsip-prinsip moral dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh Dokter Spesialis Kelautan yang bekerja dalam lingkungan kelautan, termasuk wilayah pesisir dan pariwisata. Etika kedokteran kelautan mencakup berbagai aspek, mulai dari perlindungan kesehatan manusia hingga pelestarian lingkungan laut. Fokus utamanya adalah bagaimana Dokter Spesialis Kelautan dapat berkontribusi secara etis terhadap kesejahteraan individu dan lingkungan yang mereka layani.

2. Tanggung Jawab Profesional dalam Penanganan Kasus Kesehatan di Kawasan Pesisir

Dokter Spesialis Kelautan di kawasan pesisir harus menangani berbagai masalah kesehatan yang unik bagi area tersebut, termasuk penyakit terkait air, infeksi zoonosis, dan dampak kesehatan dari pencemaran lingkungan. Beberapa tanggung jawab Dokter Spesialis Kelautan di Kawasan pesisir dan pariwisata antara lain:

  • Pemantauan Kesehatan Lingkungan:
    Dokter Spesialis Kelautan perlu memantau dan memastikan bahwa lingkungan pesisir dan pariwisata tidak terkontaminasi oleh bahan kimia berbahaya atau limbah yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan merusak lingkungan beserta ekosistem tempat hidup beragam biota laut yang ada di dalamnya.
  • Edukasi Masyarakat:
    Memberikan informasi dan berbagai penyuluhan kepada penduduk lokal dan pengunjung kawasan pariwisata tentang risiko kesehatan yang mungkin terjadi dan cara-cara melindungi diri dari penyakit yang terkait dengan lingkungan pesisir.
  • Penanganan Kasus Rutin dan Kasus Darurat:
    Dalam kondisi sehari-hari, Dokter Spesialis Kelautan diharapkan dapat menangani berbagai masalah kesehatan yang terjadi berkaitan dengan lingkungan pesisir dan kegiatan pariwisata. Dalam situasi bencana alam atau kecelakaan maritim, Dokter Spesialis Kelautan harus siap untuk memberikan perawatan darurat dan mengelola krisis kesehatan.

3. Etika dalam Praktik Kedokteran di Destinasi Pariwisata

Kegiatan pariwisata dapat menyebabkan perubahan besar dalam ekosistem pesisir dan membawa risiko kesehatan baru. Etika kedokteran kelautan juga melibatkan tanggung jawab khusus di kawasan pariwisata. Aspek-aspek etis yang harus dipertimbangkan:

  • Kesehatan Pengunjung:
    Dokter Spesialis Kelautan perlu memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah kesehatan yang mungkin dihadapi wisatawan, seperti penyakit tropis atau reaksi alergi terhadap flora dan fauna lokal.
  • Pelayanan Kesehatan yang Berkelanjutan:
    Ketersediaan layanan kesehatan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pada kondisi darurat saja, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan.
  • Keberagaman Budaya:
    Dokter Spesialis Kelautan perlu memahami dan menghormati kepercayaan lokal serta praktik kesehatan tradisional dalam pelayanan medis. Dokter Spesialis Kelautan perlu mengupayakan pendekatan serta menjalin kerja sama dengan tokoh mayarakat setempat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan pesisir dalam menunjang kegiatan pariwisata.

4. Penegakan Etika dalam Penelitian Kedokteran Kelautan

Dalam pelaksanaannya, penelitian kedokteran kelautan sering kali melibatkan studi tentang dampak kesehatan dari faktor-faktor lingkungan dan interaksi manusia dengan ekosistem laut. Etika penelitian mencakup:

  • Persetujuan Informasi:
    Sebelum memutuskan untuk menjadi peserta dalam penelitian, Dokter Spesialis Kelautan perlu memastikan bahwa partisipan penelitian memberikan persetujuan yang diinformasikan dengan jelas mengenai risiko dan manfaat penelitian.
  • Keseimbangan antara Penelitian dan Konservasi:
    Dokter Spesialis Kelautan harus menghindari penelitian yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan atau mengganggu ekosistem laut.
  • Transparansi dan Publikasi:
    Dokter Spesialis Kelautan perlu memastikan bahwa hasil penelitian dipublikasikan secara transparan untuk kepentingan umum dan masyarakat.

5. Studi Kasus dan Praktik Terbaik

Beberapa studi kasus yang relevan dapat memberikan wawasan tentang bagaimana etika kedokteran kelautan diterapkan dalam praktik nyata:

  • Studi Kasus Pencemaran Laut di Kawasan Pesisir:
    Mengamati bagaimana dampak kesehatan dari pencemaran limbah industri di kawasan pesisir dan pariwisata serta respons masyarakat sekitar  terhadap krisis tersebut.
  • Penanganan Penyakit Menular di Destinasi Pariwisata:
    Kasus-kasus penyakit menular yang melibatkan pengunjung dan wisatawan yang datang ke kawasan pesisir dan bagaimana penanganan etis dilakukan.
  • Konservasi dan Kesehatan Masyarakat di Kawasan Pesisir:
    Proyek-proyek yang menggabungkan upaya konservasi lingkungan dengan program kesehatan masyarakat.

6. Tantangan dan Solusi

Tantangan utama dalam etika kedokteran kelautan termasuk:

  • Ketidaksesuaian Sumber Daya:
    Masalah kesehatan di kawasan pesisir semakin meningkat dan beragam, sedangkan sumber daya untuk menanganinya masih terbatas.
  • Konflik Kepentingan:
    Kepentingan ekonomi dari industri pariwisata yang mungkin bertentangan dengan kesehatan lingkungan dan masyarakat.
  • Kepatuhan terhadap Regulasi:
    Kesulitan dalam menegakkan peraturan lingkungan dan kesehatan secara konsisten.

Solusi yang dapat diterapkan termasuk:

  • Kolaborasi Multidisipliner:
    Mengintegrasikan kerja sama antara Dokter Spesialis Kelautan, pemegang kebijakan, ilmuwan lingkungan, tokoh Masyarakat setempat dan pengelola pariwisata untuk solusi yang holistik.
  • Pendidikan dan Pelatihan:
    Melatih tenaga medis dan masyarakat tentang pentingnya etika dan tanggung jawab dalam pengelolaan Kesehatan dan pemeliharaan lingkungan yang berkelanjutan di kawasan pesisir.
  • Pengembangan Kebijakan:
    Sinergi yang mendorong pengembangan kebijakan yang mendukung kesehatan masyarakat dan konservasi lingkungan secara berkesinambungan.

7. Kesimpulan

Etika kedokteran kelautan mencakup berbagai tanggung jawab profesional yang harus dipertimbangkan dalam konteks kawasan pesisir dan pariwisata. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip etis ini, Dokter Spesialis Kelautan dapat berkontribusi secara signifikan terhadap kesejahteraan manusia dan pelestarian lingkungan laut. Penerapan etika yang baik akan memastikan bahwa keseimbangan antara kebutuhan kesehatan manusia dan keberlanjutan ekosistem dapat terjaga dengan baik.

Daftar Referensi

  1. Davis, A., & Garbe, S. (2020). Ethics in Marine Medicine: Addressing Health and Environmental Challenges. Journal of Marine Health, 15(2), 45-62.
  2. Jones, R., & Smith, T. (2018). Coastal Health Management: Ethical Perspectives and Practical Approaches. Coastal and Marine Studies, 22(4), 87-104.
  3. Kumar, A., & Martinez, L. (2019). Marine Conservation and Public Health: An Integrated Approach. Environmental Health Perspectives, 127(5), 1012-1020.
  4. Lee, C., & Choi, S. (2021). The Role of Healthcare Professionals in Sustainable Tourism Destinations. International Journal of Tourism Research, 32(1), 77-89.
  5. Roberts, K., & Wilson, J. (2017). Ethical Considerations in Marine Environmental Research. Marine Policy, 80, 78-84.
  6. Smith, P., & Rogers, B. (2022). Handling Health Crises in Coastal Areas: A Case Study Approach. Health Policy and Planning, 37(3), 215-230.
  7. Wilson, A., & Green, M. (2023). Public Health and Coastal Ecosystem Services: Challenges and Solutions. Journal of Environmental Health, 85(6), 512-527.

Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan
Universitas Hang Tuah