DAMPAK STRES TERHADAP GANGGUAN NEUROLOGIS PADA PELAUT
Oleh : dr Anita Devi, M.Si Residen PPDS Kedokteran Kelautan FK UHT
Dosen : dr. Hesti Ekawati SpKL, M.MTr.
Stres dapat terjadi pada berbagai profesi, termasuk juga pada pelaut. Pelaut seringkali berhadapan dengan lingkungan kerja yang unik dengan berbagai tantangan, tentunya menyebabkan tingkat stres yang tinggi, yang dapat berkontribusi pada berbagai masalah neurologis. Lingkungan kerja penuh risiko, seperti cuaca buruk, kecelakaan kapal, atau kecelakaan kerja lainnya. Risiko ini berpotensi meningkatkan kecemasan dan ketegangan pada pelaut. Di samping itu, kebisingan dan getaran kapal, beban fisik yang berat, tuntutan jam kerja yang panjang, tidak teratur dan waktu istirahat yang minim dapat menyebabkan gangguan tidur dan kelelahan kronis, yang berperan penting dalam peningkatan risiko gangguan neurologis. Kesempatan cuti singkat dan tekanan untuk memenuhi deadline, lingkungan kerja yang terbatas, rasa kesepian, jauh dari keluarga, kurangnya dukungan sosial, konsumsi alkohol dan zat berbahaya lainnya dapat memperburuk perasaan terisolasi mengakibatkan beban psikologis pada pelaut lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja di darat. Penelitian Wadsworth et al. (2008), menunjukkan bahwa 25% pelaut mengalami depresi, lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Sampson & Ellis (2019) mengemukakan bahwa 20% pelaut melaporkan ide bunuh diri dalam dua minggu sebelum survei. Penelitian ini juga menyoroti hubungan antara kesehatan mental dan risiko cedera serta penyakit di tempat kerja.
Ketika seorang pelaut mengalami stres, tubuhnya akan mengalami beberapa respon biologis yang menimbulkan gejala fisik dan mental. Beberapa perubahan yang berpotensi terjadi jika seseorang mengalami stres:
- Respon Biologis
Pelepasan Hormon Adrenalin dan Kortisol: Pada kondisi stres, hipotalamus akan melepaskan hormon adrenokortikotropik, yang kemudian mengaktivasi kelenjar adrenal untuk melepaskan adrenalin dan kortisol (glukokortikoid). Perubahan Sistem Saraf: Respon “fight or flight” ini meningkatkan aktivitas sistem saraf, membuat individu lebih siaga dan bersedia menghadapi ancaman. Jika respons ini berlangsung lama, dapat menyebabkan perubahan dalam sistem saraf pusat, termasuk peningkatan risiko gangguan neurologis seperti sakit kepala, migrain, dan bahkan masalah neurologis jangka panjang
- Respon Fisik:
Gejala fisik dapat timbul karena stres seperti nyeri kepala/migrain akibat kontraksi otot kepala yang berlangsung lama, nyeri otot/kram gangguan muskuloskeletal karena ketegangan otot. Insomnia/gangguan tidur karena stres, gangguan pencernaan beruapa nyeri perut, sembelit, atau diare, peningkatan denyut jantung oleh adrenalin untuk meningkatkan suplai oksigen ke otot, meningkatkan tekanan darah, risiko hipertensi karena peningkatan tekanan darah. frekuensi napas meningkat untuk meningkatkan oksigenasi otot, otot menjadi tegang untuk siap beraksi.
- Gejala Mental
Gejala mental yang mungkin muncul saat stres meliputi: Depresi/Kecemasan akibat Emosi negatif yang kuat. Gangguan Kepribadian Perubahan perilaku dan suasana hati. Komplikasi jangka panjang : stres berkepanjangan dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang lebih serius, seperti masalah jantung berupa gangguan irama jantung, hipertensi, dan serangan jantung. Obesitas berupa gangguan pola makan /Binge eating disorder. Keluhan kulit berupa jerawat, dermatitis atopik, Psoriasis, rambut rontok. Masalah organ reproduksi dan hormonal seperti infertilitas dan masalah siklus menstruasi.
Pada dasarnya stres merupakan respons tubuh terhadap ancaman atau tantangan, baik berupa fisiologis maupun psikologis. Tubuh mengaktifkan sistem saraf simpatik untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi berbahaya, dikenal sebagai respons “fight or flight” saat merasa terancam. Stres kronis yang berlangsung lama dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam sistem saraf, yang berpotensi menimbulkan gangguan neurologis. Stres dapat menyebabkan gangguan Sistem Saraf Pusat (SSP) maupun gangguan Sistem Saraf Tepi (SST). Pada gangguan SSP, stres dapat mempengaruhi otak, peningkatan kadar hormon kortisol, jika berlebihan dapat mengganggu fungsi hippocampus, bagian penting dalam pengaturan emosi dan memori. Stres yang mempengaruhi otak dapat mengarah pada gejala gangguan mood, kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Sedangkan pada SST, gejala yang sering timbul berupa nyeri otot, kesemutan, atau bahkan mati rasa pada tangan dan kaki. Gejala tersebut timbul karena stres dapat meningkatkan ketegangan otot.
Pengaruh Stres terhadap Gangguan Saraf pada Pelaut
- Gangguan Mental, Emosional dan Neuropsikologis: Stres berkepanjangan dapat menyebabkan berbagai gangguan mental, seperti kecemasan, depresi, dan insomnia. Perasaan terisolasi, kelelahan mental, dan penurunan konsentrasi akibat stres, emosi yang tidak stabil, kesulitan dalam mengatasi perubahan mood dan gangguan kecemasan dapat dialami pelaut dengan stres kronis yang tidak diatasi dengan baik. Studi dari Chao, Y., & Lee, S. menemukan bahwa stres dapat mempengaruhi kesehatan mental pelaut, termasuk meningkatkan risiko depresi dan kecemasan. Studi Li, Q., et al. menemukan bahwa stres dapat mempengaruhi fungsi neuropsikologis pelaut, termasuk kemampuan kognitif, emosi, dan perilaku. Studi dari Zhang, Y., et al. menemukan bahwa stres dapat mempengaruhi kinerja kognitif pelaut, termasuk perhatian, memori, dan pengambilan keputusan.
- Gangguan neuropati perifer: stres akan memicu ketegangan otot yang berlebihan, seperti :
– Hypertonia (tonus otot yang terlalu tegang)
– Spasme (kontraksi otot yang tidak terkendali)
– Tetani (kontraksi otot yang berkelanjutan)
– Rigidity (kekakuan otot) yang kemudian menekan saraf perifer.
Stres dapat memperburuk kondisi neuropati perifer, dengan gejala sebagai berikut :
- Paresthesia (kesemutan, mati rasa), nyeri yang berat di tangan dan kaki,
- Stiffness (rasa kaku), kesulitan bergerak,
- Spastisitas (otot yang terlalu tegang dan kaku)
- Dystonia (otot yang tidak terkendali dan mengalami kontraksi)
- Miopati (otot yang lemah dan tidak berfungsi dengan baik)
- Gangguan Saraf Pusat : studi dari Wang et al. menemukan bahwa pelaut memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan saraf, termasuk stroke, kejang, dan neuropati.
- Penyakit jantung dan gangguan saraf otonom: stres kronis juga dapat mempengaruhi sistem saraf otonom, yang bertanggung jawab mengatur fungsi tubuh yang tidak disengaja seperti detak jantung, tekanan darah, pernafasan dan pencernaan. Stres dapat menyebabkan gangguan pada sistem ini, meningkatkan risiko penyakit jantung dan gangguan lainnya.
- Sindrom kelelahan kronis: pelaut yang mengalami stres berkepanjangan rentan terhadap sindrom kelelahan kronis, yang berdampak terhadap fungsi saraf secara keseluruhan, termasuk menyebabkan penurunan konsentrasi, kelelahan ekstrem, dan gangguan pola tidur. Gangguan tidur berdampak negatif pada kesehatan otak dan meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif di kemudian hari. Studi dari Oldernburg et al. menemukan bahwa stres kerja dapat mempengaruhi kelelahan pelaut, yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan dan gangguan saraf.
- Gangguan seksual : dampak stres terhadap gangguan seksual pada pelaut dapat dilihat dari beberapa aspek yang berkaitan dengan kesehatan mental dan hubungan interpersonal. Pelaut sering mengalami stres akibat kondisi kerja yang unik, termasuk lamanya waktu terpisah dari keluarga dan ketidakpastian yang terkait dengan pekerjaan mereka di laut. Hal ini dapat berkontribusi pada masalah seksual, baik bagi pelaut itu sendiri maupun pasangan mereka. Pelaut yang mengalami stres berlebih dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Penelitian menunjukkan bahwa stres yang tinggi dapat mengganggu fungsi seksual, menyebabkan disfungsi ereksi, ejakulasi dini, dan penurunan libido. Rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual, kepuasan seksual yang rendah juga dapat timbul akibat kecemasan. Waktu yang lama di laut menyebabkan pelaut terpisah dari pasangan mereka, yang bisa memicu perasaan kesepian dan ketidakpuasan dalam hubungan. Penelitian menunjukkan bahwa istri-istri pelaut sering mengalami kecemasan terkait dengan kepuasan pernikahan, yang dapat berdampak negatif pada kehidupan seksual mereka. Penanganan stres melalui dukungan psikologis dan peningkatan komunikasi antara pasangan sangat penting untuk menjaga kesehatan seksual dan kepuasan pernikahan.
Penanganan Stres untuk Mencegah Gangguan Saraf pada Pelaut
Beberapa cara untuk mencegah dan mengurangi dampak stres terhadap sistem saraf pada pelaut:
- Penerapan program kesehatan mental: pengembangan program dukungan mental dan psikologis bagi pelaut dapat membantu mereka mengelola stres dan mencegah gangguan mental yang dapat merusak sistem saraf.
- Peningkatan kualitas tidur: mengatur waktu tidur yang cukup dan menyediakan fasilitas yang mendukung tidur yang baik sangat penting untuk mencegah gangguan saraf yang disebabkan oleh kelelahan kronis.
- Teknik relaksasi dan olahraga: teknik relaksasi seperti yoga atau meditasi dapat membantu mengurangi ketegangan otot dan menurunkan tingkat stres secara keseluruhan. Olahraga teratur dapat meningkatkan sirkulasi serebral, yang berkontribusi pada kesehatan sel-sel neuron, meningkatkan konsentrasi serta mempertajam daya ingat. Saat berolahraga, tubuh memproduksi hormon endorfin dan serotonin, yang berperan dalam meningkatkan suasana hati. Hormon-hormon ini memberikan perasaan nyaman dan bahagia. Olahraga juga membantu mengendalikan kadar hormon stres seperti kortisol sehingga mengurangi gejala depresi serta kecemasan. Kadar protein penting untuk kesehatan neuron dan mendukung pertumbuhan serta pemeliharaan sel-sel saraf di otak, yaitu Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) juga meningkat dengan olahraga.
- Pelatihan manajemen stres: memberikan pelatihan kepada pelaut tentang cara mengelola stres, seperti keterampilan manajemen waktu dan teknik pernapasan, dapat mengurangi dampak negatif stres pada tubuh mereka.
- Peningkatan fasilitas dan kualitas kehidupan di kapal: menyediakan ruang pribadi yang lebih baik, akses ke hiburan, dan meningkatkan kualitas interaksi sosial di kapal dapat membantu mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan kesejahteraan mental pelaut.
- Terapi Medikamentosa
Pada kasus tertentu dokter dapat memberikan pengobatan farmakologis berupa antidepresi atau anticemas untuk membantu mengatasi keluhan.
Kesimpulan
Stres adalah masalah yang signifikan dalam kehidupan pelaut, dengan dampak jangka panjang pada kesehatan saraf mereka. Pelaut yang terpapar stres kronis berisiko tinggi mengalami gangguan saraf, baik yang bersifat fisik (seperti neuropati perifer) maupun mental (seperti kecemasan dan depresi). Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup pelaut sangat penting untuk menjaga kesehatan mereka. Penyediaan dukungan psikologis, program manajemen stres, serta peningkatan fasilitas di atas kapal adalah langkah-langkah yang dapat diambil untuk meminimalkan dampak stres terhadap kesehatan saraf pelaut.
Daftar Pustaka
Bigras, N., Lacelle, C., & Tahan, H. (2017). Sexual Anxiety and Marital Satisfaction in Young Adult Men. Jurnal Psikologi.
Kalia, M. (2002). Stres and neurodegeneration. Molecular and Cellular Neurosciences, 22(3), 147-157.
Linton, S. J., & Shaw, W. S. (2011). Impact of psychological factors in the experience of pain. Physical Therapy, 91(5), 700-711.
Li, Q., et al Neuropsychological Effects of Stress in Seafarers” (2016), International Journal of Psychology and Behavioral Science
McCraty, R., & Atkinson, M. (2005). The energetic heart: Bioelectromagnetic interactions within and between people. Journal of Alternative and Complementary Medicine, 11(6), 7-13.
Oldenburg, M., et al. (2018). Stress and Fatigue in Seafarers: A Study of the Relationship Between Work-Related Stress and Fatigue, Journal of Occupational and Environmental Medicine
Riskasari, W. (2020). Kecemasan akan Kepuasan Pernikahan Istri-istri Pelaut. Jurnal Psikologi.
Sampson & Ellis (2019). “Seafarers’ Mental Health and WellbeingShipman, K. (2016). Occupational stres and the health of seafarers. International Maritime Health, 67(4), 266-272.
Sykes, D. P., & Cooke, R. E. (2009). Mental health in seafaring: A literature review. Occupational Medicine, 59(1), 9-16.
Wadsworth et al. (2008). “The Well-Being of International Seafarers: Occupational Stressors, Coping, and Health.” Occupational Medicine, 58(3), 259-268.
Wang, Y., et al. (2019).Neurological Disorders in Seafarers: A Systematic Review, International Journal of Environmental Research and Public Health
Zhang, Y., et al. (2017). The Impact of Stress on Seafarers’ Cognitive Performance, International Journal of Maritime Engineering