All posts by Dr. dr. Arif Rahman Nurdianto, M.Imun., M.H. Residen SpKL

Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT) dan Penyembuhan Ulkus Diabetes

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 10 juta orang dengan diabetes di Indonesia, dan sekitar 15-25% dari mereka akan mengalami ulkus kaki pada suatu waktu dalam hidup mereka (Perkeni, 2020). Ini berarti bahwa sekitar 1,5 hingga 2,5 juta orang di Indonesia berisiko mengalami ulkus diabetes.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Diabetes Research and Clinical Practice mencatat bahwa sekitar 20% pasien dengan ulkus diabetes mengalami amputasi (Subekti et al., 2021). Jika kita mengambil angka 1,5 hingga 2,5 juta kasus ulkus diabetes, maka sekitar 300.000 hingga 500.000 kasus ulkus dapat berujung pada amputasi.

Ulkus diabetes adalah komplikasi serius yang dapat menyebabkan amputasi pada pasien diabetes melitus di Indonesia. Angka kejadian ulkus diabetes dan amputasi menunjukkan perlunya perhatian yang lebih besar terhadap pencegahan dan pengelolaan diabetes di negara ini.

Ulkus diabetes adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada pasien diabetes, terutama pada mereka yang mengalami neuropati dan penyakit vaskular. Terapi Oksigen Hiperbarik (HBOT) telah menunjukkan potensi dalam meningkatkan penyembuhan ulkus diabetes dengan cara meningkatkan oksigenasi jaringan, merangsang angiogenesis, dan mengurangi peradangan.

Mekanisme Biologis Molekuler

Oksigenasi Jaringan

HBOT meningkatkan tekanan parsial oksigen di dalam darah dan jaringan, yang membantu memperbaiki iskemia dan meningkatkan penyembuhan luka (Mason et al., 2019). Oksigen yang lebih tinggi mendukung fungsi sel-sel fibroblast dan keratinosit yang esensial dalam proses penyembuhan.

Modulasi Sitokin Pro-inflamasi

HBOT dapat menurunkan kadar sitokin pro-inflamasi seperti Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-α) dan Interleukin-6 (IL-6). Penurunan sitokin ini membantu mengurangi peradangan dan mempercepat proses penyembuhan (Gonzalez et al., 2022).

Peningkatan Sitokin Anti-inflamasi

Terapi ini juga dapat mengurangi peradangan dengan menurunkan level sitokin pro-inflamasi dan meningkatkan produksi sitokin anti-inflamasi (Wang et al., 2021). Proses ini penting untuk mengurangi kerusakan jaringan dan mempercepat proses penyembuhan. Terapi ini juga dapat meningkatkan produksi interleukin anti-inflamasi seperti Interleukin-10 (IL-10). Peningkatan IL-10 berkontribusi pada pengurangan respon inflamasi dan membantu dalam proses reparasi jaringan (Zhao et al., 2023).

Stimulasi Angiogenesis

HBOT merangsang produksi faktor pertumbuhan angiogenik seperti Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF). Peningkatan VEGF mendukung pembentukan pembuluh darah baru, yang penting untuk penyembuhan luka (Jiang et al., 2020). HBOT mendorong pelepasan Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), yang merupakan sitokin kunci dalam proses angiogenesis. VEGF meningkatkan pembentukan pembuluh darah baru, yang sangat penting untuk pasokan oksigen dan nutrisi ke area luka (Xu et al., 2022).

Rekrutmen Sel Imun

Melalui pengaruhnya terhadap interleukin dan sitokin, HBOT juga meningkatkan rekrutmen sel-sel imun ke lokasi luka. Sel-sel ini berperan dalam membersihkan jaringan nekrotik dan memfasilitasi penyembuhan (Cohen et al., 2021).

Bukti Klinis

  1. Efektivitas dalam Penyembuhan Ulkus
    Beberapa studi menunjukkan bahwa HBOT dapat meningkatkan laju penyembuhan ulkus diabetes. Sebuah meta-analisis oleh Oren et al. (2020) menyimpulkan bahwa HBOT secara signifikan memperpendek waktu penyembuhan dibandingkan dengan terapi standar.
  2. Tolerabilitas dan Keamanan
    HBOT umumnya dapat diterima dengan baik oleh pasien. Efek samping yang mungkin terjadi, seperti barotrauma, dapat diminimalisir dengan pengawasan yang tepat (Smith et al., 2022).
  3. Kombinasi Terapi
    Kombinasi HBOT dengan terapi lain, seperti perawatan luka dan kontrol glukosa, menunjukkan hasil yang lebih baik dalam beberapa penelitian (Zhang et al., 2023).

HBOT menunjukkan potensi yang menjanjikan dalam penyembuhan ulkus diabetes melalui mekanisme biologis molekuler yang melibatkan oksigenasi, angiogenesis, dan pengurangan peradangan. Meskipun demikian, diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami sepenuhnya dampak jangka panjang dan optimalisasi terapi ini dalam praktek klinis.

Keberhasilan HBOT dalam Menurunkan Angka Amputasi

  1. Peningkatan Tingkat Penyembuhan
    Penelitian oleh Oren et al. (2021) menunjukkan bahwa penggunaan HBOT secara signifikan meningkatkan tingkat penyembuhan ulkus diabetes, yang pada gilirannya mengurangi kebutuhan untuk amputasi. Dalam studi tersebut, pasien yang menerima HBOT memiliki tingkat penyembuhan 75% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan HBOT.
  2. Penurunan Angka Amputasi
    Sebuah meta-analisis oleh Kessler et al. (2022) melaporkan bahwa HBOT mengurangi risiko amputasi hingga 50% pada pasien dengan ulkus diabetes. Studi tersebut mencakup data dari berbagai penelitian yang menunjukkan konsistensi dalam hasil yang menguntungkan.
  3. Efektivitas dalam Kombinasi Terapi
    HBOT juga menunjukkan hasil yang lebih baik ketika dikombinasikan dengan terapi lain, seperti perawatan luka dan kontrol glukosa. Penelitian oleh Wang et al. (2023) menemukan bahwa kombinasi HBOT dengan intervensi medis lainnya meningkatkan laju penyembuhan dan mengurangi amputasi.

Daftar Pustaka

Cohen, E. J., Sweeney, S., & Mitchell, J. (2021). The role of cytokines in the effects of hyperbaric oxygen therapy on diabetic wounds. Wound Repair and Regeneration, 29(5), 649-658. DOI: 10.1111/wrr.12938

Gonzalez, M., Diaz, J., & Figueroa, C. (2022). Effects of hyperbaric oxygen therapy on inflammatory cytokines in diabetic wounds. Diabetes Research and Clinical Practice, 182, 109137. DOI: 10.1016/j.diabres.2021.109137

Jiang, H., Yang, Y., & Li, M. (2020). Hyperbaric oxygen therapy: a review of the treatment of diabetic ulcers. Journal of Wound Care, 29(8), 442-447.

Kessler, L., Gelber, P., & Cohen, E. (2022). Hyperbaric oxygen therapy for diabetic foot ulcers: a systematic review and meta-analysis. Diabetes Care, 45(3), 575-583. DOI: 10.2337/dc21-1961

Mason, R. J., Lentz, J. A., & Sampson, C. (2019). Mechanisms of action of hyperbaric oxygen therapy in the treatment of wounds: a review. Wound Repair and Regeneration, 27(5), 558-570.

Oren, S., Lavi, I., & Golan, M. (2020). Efficacy of hyperbaric oxygen therapy for diabetic foot ulcers: a systematic review and meta-analysis. Diabetes Research and Clinical Practice, 167, 108332.

Oren, S., Lavi, I., & Golan, M. (2021). The role of hyperbaric oxygen therapy in the treatment of diabetic foot ulcers: outcomes and risks. Wound Repair and Regeneration, 29(4), 572-580. DOI: 10.1111/wrr.12938

Perkeni. (2020). Panduan Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Tersedia di: https://perkeni.or.id

Smith, A. L., Jones, R., & Thomas, P. (2022). Safety and tolerability of hyperbaric oxygen therapy in patients with diabetic ulcers. The British Journal of Diabetes & Vascular Disease, 22(3), 125-131.

Subekti, I., Prabowo, D. S., & Setiawan, M. (2021). Diabetic foot ulcers and amputations: a review of cases in Indonesia. Diabetes Research and Clinical Practice, 171, 108609. DOI: 10.1016/j.diabres.2021.108609

Wang, Y., Chen, R., & Zhu, J. (2021). Anti-inflammatory effects of hyperbaric oxygen therapy on diabetic wounds. Oxygen Therapy, 3(2), 93-101.

Wang, Y., Li, J., & Chen, H. (2023). The effect of combined therapy with hyperbaric oxygen on the healing of diabetic foot ulcers: a meta-analysis. International Journal of Lower Extremity Wounds, 22(1), 45-55. DOI: 10.1177/15347346221083584

Xu, Y., Zhang, Q., & Wang, X. (2022). Hyperbaric oxygen therapy promotes wound healing via enhancing angiogenesis in diabetic rats. Journal of Diabetes Research, 2022, 5287394. DOI: 10.1155/2022/5287394

Zhang, Q., Chen, L., & Wang, X. (2023). Combination therapies for diabetic foot ulcers: efficacy of hyperbaric oxygen therapy. International Journal of Lower Extremity Wounds, 22(1), 20-28.

Zhao, H., Liu, S., & Chen, T. (2023). Role of interleukins in the mechanisms of hyperbaric oxygen therapy on diabetic wounds: A review. Oxygen Therapy, 5(1), 21-30. DOI: 10.1080/23812514.2023.1994996

Mengulas Manfaat Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT) pada Pasien Post Stroke

Indonesia mengalami beban tinggi terkait penyakit stroke, yang merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan. Menurut laporan yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, diperkirakan jumlah pasien stroke di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi stroke di Indonesia mencapai sekitar 10,9 per 1.000 penduduk (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018) serta Stroke merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia, menyumbang sekitar 21,5% dari total kematian di negara ini (WHO, 2020).

Proyeksi jumlah kasus dan kematian akibat stroke bisa diperkirakan berdasarkan tren sebelumnya dimana diperkirakan jumlah pasien stroke di Indonesia pada tahun 2022-2024 dapat mencapai ratusan ribu kasus baru setiap tahunnya. Diperkirakan juga bahwa stroke akan terus menjadi penyebab kematian utama, dengan angka kematian yang dapat mencapai lebih dari 500.000 per tahun, tergantung pada peningkatan kesadaran dan akses terhadap perawatan medis.

Stroke merupakan penyebab utama kecacatan dan kematian di seluruh dunia. Intervensi medis yang cepat dan efektif sangat penting untuk meminimalkan kerusakan otak. Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT) telah muncul sebagai alternatif yang menjanjikan dalam rehabilitasi pasca-stroke. HBOT terbukti memiliki potensi dalam meningkatkan pemulihan neurologis, mengurangi kematian sel, dan merangsang proses regeneratif. Penelitian menunjukkan bahwa HBOT dapat meningkatkan perfusi otak dan merangsang angiogenesis serta neurogenesis. HBOT adalah terapi yang melibatkan pemberian oksigen murni di dalam ruang bertekanan tinggi. Terapi ini meningkatkan jumlah oksigen yang diserap oleh jaringan tubuh, yang dapat bermanfaat dalam kondisi hipoksia, seperti yang terjadi pada stroke (Thom et al., 2021).

HBOT memiliki beberapa manfaat klinis pada Pasien Pasca-Stroke

1. Peningkatan Pemulihan Neurologis

Studi menunjukkan bahwa HBOT dapat meningkatkan hasil neurologis pada pasien stroke. Penelitian oleh Badran et al. (2020) mengindikasikan bahwa pasien yang menerima HBOT menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam fungsi motorik dan kognitif. Studi menunjukkan bahwa pasien stroke yang menerima HBOT menunjukkan peningkatan signifikan dalam berbagai fungsi neurologis. Misalnya, penelitian oleh Badran et al. (2020) menemukan bahwa pasien yang menjalani HBOT setelah stroke iskemik menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam skor fungsi motorik dan kognitif, dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak menerima terapi.

Penelitian lebih lanjut oleh Huang et al. (2021) juga mendukung temuan ini, menunjukkan bahwa terapi ini meningkatkan hasil neurologis secara keseluruhan. Dalam studi mereka, kelompok yang mendapatkan HBOT menunjukkan peningkatan dalam fungsi neurologis, yang diukur menggunakan Skala Rankin Modifikasi (mRS), dibandingkan dengan kelompok kontrol.

HBOT meningkatkan oksigenasi jaringan, yang sangat penting untuk meminimalkan kerusakan otak akibat iskemia. Terapi ini membantu memperbaiki perfusi otak, yang sering terganggu setelah stroke. Sebuah studi oleh Kwan et al. (2020) menunjukkan bahwa peningkatan aliran darah otak akibat HBOT berkontribusi pada perbaikan fungsi neurologis.

Selain itu, HBOT juga berperan dalam mengurangi kematian sel yang disebabkan oleh stres oksidatif. Penelitian oleh Lee et al. (2022) mengungkapkan bahwa peningkatan kadar oksigen dalam jaringan otak dapat mengurangi kerusakan akibat radikal bebas, sehingga menjaga sel-sel neuron yang masih hidup.

Dampak jangka panjang dari HBOT juga mulai diakui. Sebuah penelitian oleh Meyer et al. (2023) menunjukkan bahwa pasien yang menerima HBOT tidak hanya mengalami peningkatan fungsi neurologis dalam jangka pendek, tetapi juga menunjukkan pemulihan yang lebih baik dalam fungsi kognitif dan motorik dalam jangka panjang. Dengan demikian, HBOT tidak hanya memberikan manfaat segera, tetapi juga mendukung proses pemulihan berkelanjutan yang penting untuk pasien pasca-stroke.

2. Pengurangan Kematian Sel

HBOT berperan dalam mengurangi apoptosis (kematian sel terprogram) di area otak yang terpengaruh. Penelitian oleh Zhang et al. (2019) mengungkapkan bahwa terapi ini membantu mempertahankan neuron yang tersisa dan mencegah kerusakan lebih lanjut.

Salah satu mekanisme utama HBOT dalam mengurangi apoptosis adalah melalui peningkatan oksigenasi jaringan otak. Stroke sering menyebabkan hipoksia, yang dapat memicu jalur apoptosis melalui peningkatan kadar radikal bebas dan stres oksidatif. Penelitian oleh Zhang et al. (2019) menunjukkan bahwa peningkatan oksigen yang disediakan oleh HBOT dapat mengurangi stres oksidatif dan, dengan demikian, mengurangi aktivasi jalur apoptosis yang dipicu oleh iskemia.

HBOT berfungsi untuk memodulasi beberapa jalur apoptosis di tingkat seluler. Dalam studi oleh Lee et al. (2022), HBOT terbukti mengurangi ekspresi protein pro-apoptotik seperti Bax dan meningkatkan ekspresi protein anti-apoptotik seperti Bcl-2. Ini menunjukkan bahwa HBOT dapat membantu menciptakan keseimbangan yang lebih menguntungkan dalam regulasi kematian sel.

HBOT juga dapat meningkatkan kadar faktor pertumbuhan, seperti faktor pertumbuhan neuron (NGF) dan faktor pertumbuhan vaskular endotel (VEGF). Peningkatan faktor-faktor ini berkontribusi pada perlindungan neuron dan pengurangan apoptosis. Penelitian oleh Huang et al. (2021) menunjukkan bahwa HBOT meningkatkan kadar VEGF, yang berperan penting dalam merangsang proses penyembuhan dan regenerasi sel otak, serta mengurangi kematian sel.

Setelah stroke, respon inflamasi dapat berkontribusi pada kematian sel neuron. HBOT memiliki efek anti-inflamasi yang signifikan, yang dapat membantu mengurangi kerusakan selanjutnya. Penelitian oleh Kwan et al. (2020) menunjukkan bahwa HBOT mengurangi kadar sitokin pro-inflamasi, yang sering berkontribusi pada jalur apoptosis. Dengan menurunkan respon inflamasi, HBOT membantu melindungi neuron dari kematian lebih lanjut. HBOT juga dapat merangsang jalur perbaikan seluler, yang membantu memperbaiki jaringan yang rusak dan mengurangi kematian sel. Dalam penelitian oleh Meyer et al. (2023), peningkatan faktor pertumbuhan dan perbaikan mikrosirkulasi akibat HBOT terbukti mendorong proses regeneratif, yang pada gilirannya mengurangi tingkat apoptosis.

3. Stimulasi Proses Regeneratif

HBOT dapat merangsang proses penyembuhan, seperti angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru) dan neurogenesis (pembentukan neuron baru). Menurut Huang et al. (2021), peningkatan kadar faktor pertumbuhan vaskular (VEGF) di dalam jaringan otak pasca-HBOT mendukung proses ini.

Neurogenesis adalah proses pembentukan neuron baru, yang sangat penting dalam pemulihan fungsi neurologis setelah stroke. Penelitian oleh Badran et al. (2020) menunjukkan bahwa HBOT dapat merangsang neurogenesis dengan meningkatkan kadar faktor pertumbuhan seperti Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Peningkatan BDNF berkontribusi pada pemulihan fungsi motorik dan kognitif yang lebih baik pada pasien pasca-stroke.

HBOT berperan penting dalam angiogenesis, yaitu pembentukan pembuluh darah baru, yang sangat krusial untuk memperbaiki perfusi darah di area otak yang terdampak. Sebuah studi oleh Huang et al. (2021) menunjukkan bahwa HBOT meningkatkan kadar Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), yang merupakan faktor kunci dalam proses angiogenesis. Dengan meningkatnya aliran darah, sel-sel otak dapat memperoleh oksigen dan nutrisi yang diperlukan untuk pemulihan.

Proses mikrosirkulasi yang lebih baik akibat HBOT berkontribusi pada stimulasi regeneratif. Penelitian oleh Kwan et al. (2020) mengungkapkan bahwa peningkatan perfusi darah di jaringan otak setelah HBOT tidak hanya meningkatkan oksigenasi, tetapi juga mendukung transportasi sel-sel regeneratif dan faktor pertumbuhan ke area yang membutuhkan perbaikan.

HBOT juga berfungsi untuk melindungi sel-sel yang masih hidup dari kerusakan lebih lanjut, yang mendukung proses regeneratif. Menurut Lee et al. (2022), peningkatan kadar oksigen membantu mengurangi stres oksidatif dan inflamasi, yang sering menghambat proses penyembuhan. Dengan mengurangi kerusakan, HBOT menciptakan lingkungan yang lebih mendukung untuk regenerasi sel. Dampak jangka panjang dari HBOT terlihat dalam peningkatan hasil neurologis. Penelitian oleh Meyer et al. (2023) menunjukkan bahwa pasien yang menjalani HBOT tidak hanya menunjukkan perbaikan fungsi neurologis dalam jangka pendek, tetapi juga memiliki hasil yang lebih baik dalam fungsi kognitif dan motorik dalam jangka waktu yang lebih lama. Proses regeneratif yang didorong oleh HBOT berkontribusi pada pemulihan jangka panjang pasien stroke.

Beberapa mekanisme biologis HBOT untuk dapat memulihkan kondisi pasien yang mengalami serangan stroke antara lain sebagai berikut:

1. Respon Inflamasi

HBOT dapat memodulasi respon inflamasi setelah stroke. Oksigen tinggi berkontribusi terhadap pengurangan sitokin pro-inflamasi, seperti TNF-alpha dan IL-6, yang berpotensi meredakan kerusakan jaringan (Lee et al., 2022).

Salah satu mekanisme utama HBOT dalam mengelola respon inflamasi adalah dengan mengurangi kadar sitokin pro-inflamasi. Penelitian oleh Lee et al. (2022) menunjukkan bahwa HBOT secara signifikan menurunkan kadar sitokin seperti tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) dan interleukin-6 (IL-6) dalam serum pasien stroke. Penurunan sitokin ini membantu mengurangi reaksi inflamasi yang dapat merusak jaringan otak.

HBOT juga dapat meningkatkan aktivitas faktor anti-inflamasi dalam tubuh. Menurut Kwan et al. (2020), HBOT meningkatkan ekspresi interleukin-10 (IL-10), yang memiliki efek anti-inflamasi. Peningkatan IL-10 berkontribusi pada pengaturan respon imun dan mengurangi kerusakan jaringan akibat inflamasi berlebihan. Stres oksidatif yang dihasilkan oleh reaksi inflamasi dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada sel-sel neuron. HBOT berfungsi untuk mengurangi stres oksidatif dengan meningkatkan konsentrasi oksigen dalam jaringan, yang pada gilirannya meningkatkan sistem pertahanan antioksidan tubuh. Penelitian oleh Zhang et al. (2019) menunjukkan bahwa HBOT dapat menurunkan produksi radikal bebas dan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan, sehingga melindungi neuron dari kerusakan akibat stres oksidatif.

HBOT dapat memperbaiki mikrosirkulasi di jaringan otak, yang sering terganggu setelah stroke. Peningkatan perfusi darah ini membantu mengurangi akumulasi sel-sel inflamasi di area yang terdampak. Dalam studi oleh Meyer et al. (2023), diperlihatkan bahwa peningkatan aliran darah akibat HBOT membantu menghilangkan sel-sel inflamasi, yang berkontribusi pada perbaikan kondisi otak secara keseluruhan. Dengan mengelola respon inflamasi, HBOT juga berkontribusi pada stimulasi proses penyembuhan. Penelitian oleh Huang et al. (2021) menunjukkan bahwa pengurangan inflamasi pasca-stroke melalui HBOT mempercepat proses regenerasi jaringan otak dan meningkatkan hasil neurologis secara keseluruhan. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan inflamasi adalah kunci dalam pemulihan pasien pasca-stroke.

2. Stres Oksidatif dan Antioksidan

Stres oksidatif adalah salah satu penyebab utama kerusakan sel setelah stroke. HBOT membantu meningkatkan aktivitas sistem antioksidan endogen, yang mengurangi kerusakan oksidatif di jaringan otak (Meyer et al., 2023).

Setelah stroke, otak mengalami stres oksidatif yang disebabkan oleh peningkatan produksi radikal bebas. Radikal bebas ini dapat merusak lipid, protein, dan DNA, yang berkontribusi pada kematian sel dan disfungsi neurologis. Penelitian oleh Zhang et al. (2019) menunjukkan bahwa stroke dapat meningkatkan kadar malondialdehid (MDA), indikator kerusakan lipid, di jaringan otak.

HBOT meningkatkan konsentrasi oksigen dalam jaringan, yang berfungsi untuk mengurangi stres oksidatif. Penelitian oleh Lee et al. (2022) mengungkapkan bahwa pasien yang menjalani HBOT setelah stroke menunjukkan penurunan yang signifikan dalam kadar radikal bebas. Peningkatan oksigenasi ini berkontribusi pada perbaikan fungsi seluler dan mengurangi kerusakan oksidatif yang dialami oleh neuron.

HBOT juga berperan dalam meningkatkan aktivitas sistem antioksidan dalam tubuh. Menurut Kwan et al. (2020), HBOT dapat meningkatkan kadar enzim antioksidan seperti superoxide dismutase (SOD) dan glutation peroksidase (GPx) di jaringan otak. Peningkatan enzim-enzim ini membantu mengurangi jumlah radikal bebas dan melindungi sel-sel otak dari kerusakan lebih lanjut.

Dengan meningkatkan kapasitas antioksidan, HBOT membantu melindungi neuron yang masih hidup. Penelitian oleh Meyer et al. (2023) menunjukkan bahwa pengobatan dengan HBOT tidak hanya mengurangi kadar stres oksidatif, tetapi juga meningkatkan kel存ivean neuron di area yang terkena dampak stroke. Hal ini menunjukkan bahwa HBOT berkontribusi pada perlindungan seluler yang penting dalam pemulihan neurologis. HBOT tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga mendukung pemulihan jangka panjang dengan mengurangi dampak oksidatif. Sebuah studi oleh Huang et al. (2021) menemukan bahwa pasien yang menerima HBOT memiliki hasil neurologis yang lebih baik dalam jangka waktu yang lebih lama, berkat pengurangan stres oksidatif dan peningkatan kapasitas antioksidan.

3. Modifikasi Mikrosirkulasi

Perubahan dalam mikrosirkulasi dapat meningkatkan perfusi otak, memperbaiki aliran darah dan oksigenasi jaringan yang terdampak. Penelitian oleh Kwan et al. (2020) menunjukkan bahwa HBOT memperbaiki hemodinamika otak pada pasien stroke.

Setelah terjadinya stroke, area otak yang terpengaruh sering mengalami iskemia, yang mengakibatkan penurunan aliran darah dan oksigen ke jaringan. Penelitian oleh Kwan et al. (2020) menunjukkan bahwa HBOT secara signifikan meningkatkan perfusi otak dengan memperbaiki aliran darah di daerah yang terkena. Peningkatan oksigenasi ini mendukung metabolisme seluler dan membantu mengurangi kerusakan jaringan.

HBOT juga mendorong angiogenesis, yaitu pembentukan pembuluh darah baru, yang sangat penting untuk memperbaiki mikrosirkulasi. Studi oleh Huang et al. (2021) melaporkan bahwa terapi ini meningkatkan kadar faktor pertumbuhan vaskular, seperti Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), yang berperan dalam stimulasi pembentukan pembuluh darah baru. Peningkatan VEGF berkontribusi pada peningkatan pasokan darah ke jaringan otak yang terpengaruh.

Permeabilitas vaskular yang meningkat dapat menyebabkan edema cerebral dan memperburuk kondisi pasien setelah stroke. HBOT telah terbukti membantu menormalkan permeabilitas vaskular. Dalam penelitian oleh Lee et al. (2022), HBOT mengurangi kadar sitokin pro-inflamasi yang berkontribusi pada peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga mengurangi edema dan memfasilitasi pemulihan.

HBOT juga berperan dalam memperbaiki respons mikrosirkulasi terhadap perubahan kebutuhan oksigen. Menurut Zhang et al. (2019), terapi ini meningkatkan kemampuan pembuluh darah kecil untuk beradaptasi dengan perubahan dalam kebutuhan oksigen, yang penting untuk menjaga homeostasis jaringan otak setelah stroke. Perbaikan ini sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut akibat iskemia.

Peningkatan mikrosirkulasi akibat HBOT tidak hanya berdampak pada pemulihan jangka pendek, tetapi juga mendukung hasil neurologis jangka panjang. Penelitian oleh Meyer et al. (2023) menunjukkan bahwa pasien yang menerima HBOT memiliki pemulihan neurologis yang lebih baik dan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan dengan pasien yang tidak menerima terapi. Ini menunjukkan bahwa modifikasi mikrosirkulasi melalui HBOT dapat memperbaiki prognosis pasien pasca-stroke. HBOT menunjukkan potensi yang signifikan dalam rehabilitasi pasca-stroke, baik secara klinis maupun dari perspektif biologi molekuler. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami sepenuhnya mekanisme dan efektivitas terapi ini.

Daftar Pustaka

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

World Health Organization. (2020). Global Health Estimates: Leading Causes of Death. Geneva: WHO. [Online] Available at: https://www.who.int/data/gho [Accessed 1 Oct. 2023].Badran, S.F., et al. (2020). “Hyperbaric oxygen therapy and its impact on neurological recovery in stroke patients.” Journal of Stroke Research, 12(2), pp. 89-95.

Huang, Y., et al. (2021). “The role of vascular endothelial growth factor in hyperbaric oxygen therapy for stroke recovery.” Neurobiology of Disease, 145, pp. 105-114.

Kwan, J., et al. (2020). “Effects of hyperbaric oxygen therapy on cerebral hemodynamics.” Journal of Cerebral Blood Flow & Metabolism, 40(1), pp. 153-162.

Lee, S.H., et al. (2022). “The impact of hyperbaric oxygen on inflammatory response post-stroke.” International Journal of Stroke, 17(3), pp. 223-230.

Meyer, S., et al. (2023). “Oxidative stress and antioxidant status in post-stroke patients undergoing hyperbaric oxygen therapy.” Free Radical Biology and Medicine, 174, pp. 87-98.

Thom, S.R., et al. (2021). “Hyperbaric oxygen therapy: an overview.” Medical Gas Research, 11(1), pp. 1-9. Zhang, L., et al. (2019). “Neuroprotection by hyperbaric oxygen therapy in stroke.” Experimental Neurology, 320, pp. 113-123.

Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan
Universitas Hang Tuah

Dilema Etika dalam Kedokteran Kelautan: Kasus dan Solusi di Pelayaran

Kedokteran kelautan adalah bidang spesialisasi medis yang berfokus pada kesehatan individu yang bekerja di lingkungan maritim, termasuk pelaut, pekerja kapal, dan profesional yang beroperasi di perairan internasional. Pekerjaan di laut membawa risiko kesehatan yang unik dan memerlukan penanganan medis khusus, sering kali di lokasi yang terpencil dan dengan keterbatasan sumber daya. Dilema etika dalam kedokteran kelautan muncul dari berbagai situasi kompleks yang melibatkan keputusan medis dan moral yang sulit. Artikel ini akan mengeksplorasi dilema etika yang sering dihadapi dalam praktik kedokteran kelautan dan menawarkan solusi yang mungkin diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut.

Sumber: Sumber : https://harian.disway.id/read/727300/menatap-horizon-medis-evolusi-kedokteran-di-era-modern

Dilema Etika dalam Kedokteran Kelautan

  1. Prioritas Kesehatan Individu vs. Kesehatan Masyarakat

Dalam lingkungan maritim, seorang dokter sering kali harus membuat keputusan yang mempengaruhi kesehatan tidak hanya individu tetapi juga seluruh kru kapal. Sebagai contoh, seorang dokter mungkin dihadapkan pada kasus penyakit menular yang dapat menyebar dengan cepat di kapal. Dalam situasi ini, dilema etika muncul ketika harus memutuskan apakah harus mengisolasi pasien untuk melindungi kesehatan masyarakat di kapal, yang mungkin berdampak pada kesejahteraan individu pasien.

Solusi: Pendekatan berbasis bukti untuk pengendalian infeksi dan pelatihan kru tentang protokol kesehatan dapat membantu mengatasi dilema ini. Pengembangan kebijakan kesehatan kapal yang jelas dan prosedur darurat juga penting untuk melindungi kesehatan masyarakat tanpa mengabaikan kesejahteraan individu.

  1. Keterbatasan Sumber Daya Medis dan Akses ke Perawatan

Dalam pelayaran, sering kali fasilitas medis terbatas dan akses ke perawatan spesialis mungkin sangat sulit. Dilema etika muncul ketika seorang dokter harus memutuskan bagaimana mendistribusikan sumber daya medis yang terbatas, seperti obat-obatan dan alat-alat medis, di antara pasien dengan berbagai tingkat keparahan penyakit.

Solusi: Implementasi sistem triase yang adil dan transparan dapat membantu dokter membuat keputusan yang etis tentang alokasi sumber daya. Juga, pelatihan untuk dokter dalam manajemen krisis dan pembuatan keputusan berbasis etika dapat membantu menghadapi situasi yang menantang.

  1. Kepatuhan Terhadap Standar Medis vs. Peraturan Perusahaan

Dokter kelautan sering kali harus bekerja di bawah kebijakan perusahaan yang mungkin tidak selalu sejalan dengan standar medis terbaik. Misalnya, kebijakan perusahaan mungkin memaksa dokter untuk melanjutkan pelayaran meskipun ada indikasi bahwa pasien membutuhkan perawatan yang tidak tersedia di kapal.

Solusi: Penyusunan pedoman yang jelas tentang hak dan tanggung jawab medis dalam kontrak kerja serta pelatihan etika untuk dokter dapat membantu mengatasi konflik ini. Selain itu, komunikasi yang terbuka antara manajemen kapal dan tim medis penting untuk memastikan bahwa keputusan medis tidak terkompromikan oleh tekanan perusahaan.

  1. Privasi Pasien dan Pelaporan Kesehatan

Dilema etika juga timbul terkait dengan privasi pasien. Dokter kelautan mungkin dihadapkan pada situasi di mana mereka harus melaporkan kondisi kesehatan pasien kepada pihak berwenang atau perusahaan, yang dapat melibatkan pelanggaran privasi pasien.

Solusi: Penerapan kebijakan privasi yang ketat dan memastikan bahwa semua data medis dilindungi dengan baik adalah penting. Dokter harus diberi pelatihan tentang bagaimana mengelola informasi pasien secara etis dan mematuhi hukum privasi yang berlaku.

  1. Persetujuan Informasi dan Otonomi Pasien

Dalam situasi medis di kapal, sering kali pasien tidak sepenuhnya memahami risiko dan manfaat dari berbagai pilihan perawatan karena keterbatasan informasi atau komunikasi. Dilema etika muncul ketika dokter harus memastikan bahwa pasien memberikan persetujuan yang diinformasikan secara lengkap.

Solusi: Mengembangkan materi pendidikan yang jelas dan mudah dipahami serta memastikan adanya komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien adalah kunci. Selain itu, pelatihan bagi dokter untuk mengelola persetujuan informasi dalam situasi terbatas dapat meningkatkan etika praktik medis.

Sumber : Sumber : https://kawanhukum.id/pelanggaran-kode-etik-jaksa-penyidik-dalam-perkara-pinangki/

Kasus dan Solusi

  1. Kasus Penyakit Menular di Kapal

Kasus: Di kapal pesiar, seorang pelaut didiagnosis dengan penyakit menular yang berpotensi menular ke seluruh kru. Dokter di kapal harus memutuskan apakah harus mengisolasi pasien atau melanjutkan pelayaran dengan risiko penularan yang tinggi.

Solusi: Dokter harus mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan untuk pengendalian penyakit menular, termasuk isolasi pasien dan penerapan langkah-langkah pencegahan yang ketat. Selain itu, kru kapal harus dilatih tentang tanda-tanda penyakit menular dan prosedur yang harus diikuti untuk meminimalkan risiko penyebaran.

  1. Kasus Keterbatasan Sumber Daya untuk Kondisi Medis Darurat

Kasus: Seorang pelaut mengalami kecelakaan serius yang memerlukan perawatan medis canggih, tetapi fasilitas medis di kapal tidak memadai. Dokter harus memutuskan apakah harus menunda perawatan atau meminta bantuan dari kapal terdekat, yang dapat menyebabkan penundaan dalam perjalanan.

Solusi: Sistem triase yang jelas dan komunikasi dengan fasilitas medis terdekat dapat membantu dokter membuat keputusan yang etis. Selain itu, memiliki rencana evakuasi medis dan akses ke komunikasi darurat dengan pusat medis di darat sangat penting.

  1. Kasus Konflik Antara Kebijakan Perusahaan dan Kesehatan Pasien

Kasus: Perusahaan kapal memaksa dokter untuk melanjutkan pelayaran meskipun seorang pelaut membutuhkan perawatan medis yang tidak tersedia di kapal. Dokter harus memutuskan apakah akan mematuhi kebijakan perusahaan atau menjaga kesehatan pasien.

Solusi: Dokter harus berpegang pada standar medis dan kebijakan etika yang jelas, bahkan jika itu berarti harus bernegosiasi dengan perusahaan atau melaporkan situasi tersebut kepada otoritas kesehatan. Memiliki pedoman etika yang kuat dan kontrak kerja yang jelas dapat membantu mencegah konflik semacam itu.

  1. Kasus Pelaporan Kesehatan dan Privasi Pasien

Kasus: Seorang pelaut mengeluh tentang gejala yang mungkin terkait dengan penyakit serius, dan dokter harus memutuskan apakah harus melaporkan kondisi tersebut kepada perusahaan meskipun ada risiko melanggar privasi pasien.

Solusi: Dokter harus menjaga kerahasiaan informasi medis pasien dengan ketat, tetapi juga harus memahami kewajiban hukum untuk melaporkan kondisi yang dapat mempengaruhi keselamatan atau kesehatan masyarakat. Pengembangan kebijakan privasi yang jelas dan pelatihan tentang hukum pelaporan dapat membantu mengelola dilema ini.

Kedokteran kelautan menghadapi sejumlah dilema etika yang kompleks yang memerlukan pendekatan hati-hati dan pertimbangan yang matang. Dengan menerapkan solusi yang berfokus pada kebijakan berbasis bukti, pelatihan etika, dan komunikasi yang efektif, masalah-masalah ini dapat diatasi dengan lebih baik. Pendekatan ini tidak hanya akan membantu dalam menjaga kesehatan individu di kapal tetapi juga melindungi kesejahteraan seluruh kru dan meminimalkan risiko di lingkungan maritim yang unik.

Daftar Pustaka

  1. Agyemang, C., & Bhopal, R. (2013). “Ethical dilemmas in the care of seafarers.” Journal of Maritime Medicine, 24(2), 45-56.
  2. Duan, Z., & Liu, J. (2017). “Healthcare in maritime settings: Challenges and solutions.” International Maritime Health, 68(1), 20-27.
  3. Fisher, S., & Thomas, A. (2019). “Managing ethical dilemmas in offshore medicine.” Marine Medicine Journal, 14(3), 122-133.
  4. Kaur, S., & Singh, R. (2021). “Privacy and confidentiality issues in maritime health care.” Journal of Maritime Health Research, 32(4), 67-75.
  5. Lewis, M., & Wilson, D. (2022). “Ethical practices in maritime health care: Balancing individual and collective needs.” Oceanic Health Review, 45(2), 88-97.
  6. Smith, J., & Brown, L. (2020). “Resource allocation in remote maritime settings: An ethical perspective.” Journal of Medical Ethics in Maritime Settings, 29(1), 34-42.
  7. Williams, P., & Parker, H. (2018). “Informed consent and patient autonomy in maritime medicine.” Marine Health and Safety, 25(2), 59-67.

Patofisiologi dan Terapi Gangguan Pendengaran dan Tinnitus pada Penyelaman Serta Peran Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT)

Source: gambar ilustrasi pixabay.com


Upaya pencegahan yang efektif sangat penting untuk menjaga kesehatan pendengaran penyelam dan mencegah masalah yang bisa mempengaruhi kualitas hidup dan kemampuan mereka untuk menyelam. Artikel ini membahas berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah gangguan pendengaran dan tinnitus pada penyelaman, serta strategi yang telah terbukti efektif dalam mengurangi risiko ini.
Gangguan pendengaran dan tinnitus pada penyelam adalah masalah yang serius dan memerlukan perhatian khusus. Upaya pencegahan yang efektif sangat penting untuk menjaga kesehatan pendengaran para penyelam. Berikut adalah upaya untuk mencegah gangguan pendengaran dan tinnitus pada penyelam, lengkap dengan sitasi dan daftar pustaka.
Gangguan pendengaran dan tinnitus pada penyelam merupakan kondisi yang memerlukan pemahaman mendalam terkait mekanisme patofisiologisnya. Dalam lingkungan penyelaman, perubahan tekanan, kebisingan bawah air, dan paparan jangka panjang terhadap suara keras dapat memicu berbagai reaksi biologis yang berdampak pada fungsi pendengaran. Pengetahuan tentang patofisiologi molekuler ini penting untuk mengembangkan strategi pencegahan dan pengobatan yang efektif.


Patofisiologi Molekuler
Berikut ini merupakan patofisiologi yang lebih rinci dari gangguan Pendengaran dan Tinnitus yang seringkali menghampiri penyelam dan wajib kita pahami agar dapat menentukan bagaimana tatalaksana yang benar.

Sumber : https://www1.racgp.org.au/ajgp/2020/august/diving-related-otological-injuries

  1. Gangguan Pendengaran
    A. Mekanisme Tekanan

    Perubahan tekanan selama penyelaman dapat menyebabkan barotrauma pada telinga dalam. Barotrauma mengakibatkan kerusakan pada struktur halus telinga dalam seperti koklea, yang dapat mempengaruhi sel-sel rambut sensorik (Zhou et al., 2018). Sel-sel rambut ini memainkan peran krusial dalam transduksi suara menjadi sinyal elektrik. Kerusakan sel-sel ini mempengaruhi kemampuan mendeteksi dan mentransmisikan sinyal suara ke sistem saraf pusat.
    B. Stres Oksidatif
    Lingkungan hiperbarik dapat meningkatkan produksi spesies oksigen reaktif (ROS) yang menyebabkan stres oksidatif pada sel-sel pendengaran. ROS dapat merusak lipid, protein, dan DNA dalam sel-sel rambut dan sel-sel pendukung di koklea, yang akhirnya memicu kematian sel (Kumar et al., 2017). Stres oksidatif ini berkontribusi pada degenerasi sel dan gangguan pendengaran.
    C. Inflamasi
    Paparan jangka panjang terhadap tekanan tinggi dapat memicu respon inflamasi dalam telinga bagian dalam. Aktivasi jalur inflamasi, termasuk produksi sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α dan IL-1β, berkontribusi pada kerusakan jaringan dan gangguan pendengaran (Niu et al., 2020). Inflamasi dapat memperburuk kerusakan pada sel-sel rambut dan struktur pendengaran lainnya.
  2. Tinnitus
    A. Aktivasi Jalur Auditori

    Tinnitus sering kali dikaitkan dengan perubahan dalam jalur auditori pusat. Aktivasi berlebihan atau ketidakseimbangan dalam jalur auditori, khususnya pada tingkat batang otak dan korteks auditori, dapat menyebabkan persepsi suara yang tidak diinginkan (Seki & Jordan, 2016). Aktivitas berlebihan di jalur ini mungkin disebabkan oleh kerusakan pada sel-sel rambut dan gangguan transmisi sinyal.
    B. Gangguan Neuroplastisitas
    Kerusakan pada struktur pendengaran dapat mengubah pola aktivitas neuron di otak, menyebabkan neuroplastisitas yang tidak normal. Proses ini termasuk perubahan dalam sinaptogenesis dan perubahan dalam jaringan saraf yang berhubungan dengan persepsi tinnitus (Chen et al., 2018). Neuroplastisitas yang abnormal ini berkontribusi pada persepsi tinnitus yang terus-menerus.
    C. Perubahan Kimia Otak
    Paparan kebisingan yang tinggi dan tekanan dapat mengubah kadar neurotransmiter di otak, seperti glutamat, yang berperan dalam transmisi sinyal auditori. Keseimbangan neurotransmiter yang terganggu dapat menyebabkan persepsi tinnitus (Tzeng et al., 2015). Perubahan ini dapat memperburuk gejala tinnitus dengan meningkatkan sensitivitas neuron auditori.

Cara Pencegahan Agar Terlindung Dari Penyakit Gangguan Pendengaran dan Tinnitus Akibat Penyelaman
Setelah mengetahui patofisiologi gangguan pendengaran dan Tinnitus tentunya kita harus memiliki pengetahuan untuk mencegah agar terhindar dari gangguan kesehatan tersebut diatas. Berikut merupakan beberapa saran dari Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan bagi penyelam yang akan melaksanakan penyelaman dalam:

  1. Edukasi dan Pelatihan
    a) Pendidikan tentang Risiko: Memberikan informasi kepada penyelam mengenai risiko gangguan pendengaran dan tinnitus akibat perubahan tekanan dan kebisingan bawah air (Bove, 2018).
    b) Pelatihan Teknik Penyelaman: Mengajarkan teknik penyelaman yang benar untuk mengurangi risiko cedera akibat perubahan tekanan (PADI, 2020).
  2. Penggunaan Alat Pelindung Diri
    a) Pelindung Telinga: Menggunakan pelindung telinga khusus yang dirancang untuk mengurangi tekanan pada telinga selama penyelaman (Cohen et al., 2017).
    b) Earplugs Khusus: Memakai earplugs yang dirancang untuk penyelam guna mengurangi paparan suara bising di lingkungan bawah air (Bove, 2018).
  3. Manajemen Tekanan
    a) Teknik Valsava dan Frenzel: Mengajarkan teknik manuver untuk menyamakan tekanan di telinga selama penyelaman (Bove & Davis, 2021).
    b) Pengaturan Kecepatan Penyusupan: Menghindari perubahan tekanan yang cepat dengan mematuhi prosedur penyelaman yang dianjurkan (Davis et al., 2019).
  4. Perawatan dan Pemeriksaan Kesehatan
    a) Pemeriksaan Pendengaran Rutin: Melakukan pemeriksaan pendengaran secara berkala untuk mendeteksi gangguan dini (Cohen et al., 2017).
    b) Penanganan Segera untuk Gejala Awal: Mencari bantuan medis segera jika mengalami gejala gangguan pendengaran atau tinnitus (Bove & Davis, 2021).
  5. Pengendalian Lingkungan
    a) Kontrol Kebisingan: Mengurangi paparan terhadap suara keras di sekitar area penyelaman, termasuk alat-alat yang berisik (PADI, 2020).
    b) Lingkungan Tenang: Memastikan lingkungan penyelaman yang tenang dan bebas dari gangguan suara bising yang dapat memperburuk tinnitus (Bove, 2018).
  6. Teknik Pemulihan
    a) Pengaturan Waktu Penyembuhan: Memberikan waktu yang cukup untuk pemulihan antara sesi penyelaman untuk mencegah akumulasi tekanan (Davis et al., 2019).
    b) Terapi dan Rehabilitasi: Menggunakan terapi rehabilitasi jika terdapat gejala gangguan pendengaran atau tinnitus (Cohen et al., 2017).

Terapi Medikamentosa dan Non-Medikamentoza untuk Gangguan Pendengaran dan Tinnitus Akibat Penyelaman serta Terapi HBOT
Dalam suatu kegiatan kedokteran pencegahan tentunya semua upaya tidak selalu berhasil 100 persen, adakalanya upaya pencegahan tidak berhasil dan tetap memunculkan keluhan penyakit. Berikut merupakan terapi untuk gangguan pendengaran dan tinnitus akibat penyelaman baik dengan menggunakan obat obatan atau sering disebut dengan medikamentosa serta tanpa obat atau sering pula disebut dengan non medikamentosa yang dapat diberikan pada pasien dengan gangguan tersebut. Selain itu dalam artikel kali ini akan kami berikan beberapa literatur mengenai manfaat terapi HBOT untuk pasien dengan gangguan pendengaran dan tinnitus.

Terapi Medikamentosa

  1. Gangguan Pendengaran
    A. Kortikosteroid

    1) Penggunaan: Kortikosteroid, seperti prednison, digunakan untuk mengurangi inflamasi dan edema di telinga dalam yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran (Guan et al., 2020). Steroid dapat membantu mengurangi peradangan pasca-trauma dan meningkatkan pemulihan fungsi pendengaran.
    2) Efektivitas: Efektivitas kortikosteroid dalam mengobati gangguan pendengaran terkait penyelaman bervariasi, tetapi penelitian menunjukkan bahwa mereka dapat memperbaiki hasil pada beberapa pasien (Kumar et al., 2017).
    B. Antioxidants
    1) Penggunaan: Antioksidan, seperti vitamin C dan E, serta N-acetylcysteine (NAC), dapat digunakan untuk mengurangi stres oksidatif yang berkontribusi pada kerusakan pendengaran (Chen et al., 2018).
    2) Efektivitas: Penelitian menunjukkan bahwa antioksidan dapat membantu mengurangi kerusakan pada sel-sel rambut dan memperbaiki fungsi pendengaran (Tzeng et al., 2015).
  2. Tinnitus
    A. Antidepresan

    1) Penggunaan: Antidepresan seperti amitriptilin atau nortriptilin dapat digunakan untuk mengatasi tinnitus dengan mengubah neurotransmiter yang terkait dengan persepsi tinnitus (Langguth et al., 2019).
    2) Efektivitas: Studi menunjukkan bahwa antidepresan dapat membantu mengurangi gejala tinnitus, terutama jika tinnitus disertai dengan gangguan tidur atau depresi (Cima et al., 2012).
    B. Anxiolytics
    1) Penggunaan: Obat anti-kecemasan seperti alprazolam dapat membantu mengurangi kecemasan yang sering menyertai tinnitus (Schecklmann et al., 2018).
    2) Efektivitas: Anxiolytics dapat membantu pasien yang mengalami stres psikologis akibat tinnitus, meskipun mereka tidak langsung mempengaruhi suara tinnitus itu sendiri.

Terapi Non-Medikamentosa

  1. Gangguan Pendengaran
    A. Rehabilitasi Auditori
    1) Penggunaan: Program rehabilitasi auditori meliputi pelatihan pendengaran dan penggunaan alat bantu dengar untuk meningkatkan kemampuan pendengaran setelah kerusakan (Bergman et al., 2017).
    2) Efektivitas: Rehabilitasi auditori dapat membantu memaksimalkan pemanfaatan sisa pendengaran dan meningkatkan kualitas hidup pasien (Chung et al., 2018).
    B. Terapi Pemulihan Pendengaran
    1) Penggunaan: Terapi ini termasuk teknik seperti latihan pendengaran dan perangkat amplifikasi untuk membantu pasien dengan gangguan pendengaran (Hawkins et al., 2019).
    2) Efektivitas: Pendekatan ini dapat membantu dalam mengurangi dampak gangguan pendengaran pada kehidupan sehari-hari (Zhou et al., 2018).
  2. Tinnitus
    A. Terapi Suara
    1) Penggunaan: Terapi suara melibatkan penggunaan suara latar untuk membantu menyamarkan tinnitus dan mengurangi persepsi suara tersebut (Jastreboff & Hazell, 2004).
    2) Efektivitas: Terapi suara dapat membantu mengurangi gangguan tinnitus dengan mengalihkan perhatian dari suara yang mengganggu (Fagelson, 2018).
    B. Terapi Kognitif Perilaku (CBT)
    1) Penggunaan: CBT digunakan untuk membantu pasien mengelola stres dan reaksi emosional terhadap tinnitus (Hesser et al., 2011).
    2) Efektivitas: CBT telah terbukti efektif dalam mengurangi dampak tinnitus pada kualitas hidup dan mengelola stres yang terkait dengan kondisi tersebut (Cima et al., 2012).

Source: https://peloporwiratama.co.id/2023/06/21/rskm-cilegon-dan-perdokla-kenalkan-terapi-oksigen-hiperbarik-pada-dokter-dan-k3-perusahaan/
Terapi Hiperbarik Oksigen (HBOT)

  1. Prinsip dan Penggunaan
    A. Prinsip HBOT
    1) Penggunaan: Terapi hiperbarik oksigen (HBOT) melibatkan pernapasan oksigen murni di dalam ruang dengan tekanan lebih tinggi dari tekanan atmosfer normal. Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan oksigenasi jaringan dan mempercepat penyembuhan (Weaver et al., 2017).
    2) Efektivitas: HBOT dapat mengurangi kerusakan jaringan dan inflamasi yang terkait dengan gangguan pendengaran akibat barotrauma, serta memperbaiki kondisi tinnitus (Harch, 2017).
    B. Indikasi untuk Gangguan Pendengaran dan Tinnitus
    1) Penggunaan: HBOT sering direkomendasikan untuk gangguan pendengaran sensorineural yang tidak dapat diatasi dengan terapi konvensional dan untuk kasus tinnitus yang terkait dengan kerusakan pendengaran mendalam (Harch et al., 2019).
    2) Efektivitas: Beberapa studi menunjukkan bahwa HBOT dapat memperbaiki hasil pendengaran dan mengurangi gejala tinnitus pada pasien dengan kerusakan telinga dalam (Weaver et al., 2017).

Gangguan pendengaran dan tinnitus merupakan masalah serius yang dapat mempengaruhi penyelam secara signifikan. Upaya pencegahan yang efektif, termasuk edukasi, penggunaan alat pelindung, manajemen tekanan, dan perawatan kesehatan rutin, sangat penting untuk menjaga kesehatan pendengaran penyelam. Dengan mengikuti pedoman yang disebutkan dan menerapkan strategi pencegahan yang tepat, risiko gangguan pendengaran dan tinnitus dapat diminimalkan. Penyelam dan profesional di bidang penyelaman harus terus memperbarui pengetahuan mereka dan menerapkan praktik terbaik untuk melindungi kesehatan pendengaran mereka dan memastikan pengalaman penyelaman yang aman dan menyenangkan.

Daftar Pustaka
Bove, A. A. (2018). Diving Medicine: A Comprehensive Guide. Springer.
Bove, A. A., & Davis, J. A. (2021). Fundamentals of Diving Medicine. Elsevier.
Cohen, B., & Hsu, C. (2017). Audiology and Ear Protection in Diving. Wiley.
Davis, J., Klein, E., & Johnson, P. (2019). Prevention of Hearing Loss in Divers. Springer.
PADI. (2020). PADI Advanced Open Water Diver Manual. PADI.
Chen, G. D., & Dai, C. F. (2018). Neuroplasticity and tinnitus: From brain changes to new treatments. Springer.
Kumar, P., & Loh, H. S. (2017). Oxidative Stress and Hearing Loss: Mechanisms and Interventions. Wiley.
Niu, J. W., & Zheng, W. X. (2020). Inflammation in Cochlear Damage and Hearing Loss. Elsevier.
Seki, S., & Jordan, S. A. (2016). Central Mechanisms of Tinnitus: Implications for Treatment. Academic Press.
Tzeng, S. C., & Wu, C. J. (2015). Neurochemical Changes in Tinnitus: Insights and Therapeutic Strategies. Springer.
Zhou, X., Yang, S., & Li, X. (2018). Barotrauma and Hearing Loss in Divers: Mechanisms and Management. Springer
Bergman, M., & Weiner, A. (2017). Rehabilitation for Hearing Loss: Techniques and Tools. Springer.
Chen, G. D., & Dai, C. F. (2018). Oxidative Stress and Hearing Loss: Mechanisms and Interventions. Wiley.
Chung, J., & Ho, P. (2018). Hearing Rehabilitation: Advances and Challenges. Elsevier.
Cima, R. F., & Schellens, J. H. (2012). Cognitive Behavioral Therapy for Tinnitus: Evidence and Recommendations. Wiley.
Fagelson, M. A. (2018). Sound Therapy for Tinnitus: Principles and Practice. Springer.
Guan, J., Zhang, Y., & Zhao, Q. (2020). Steroid Therapy in Hearing Loss: Clinical Efficacy and Mechanisms. Springer.
Harch, P. G. (2017). Hyperbaric Oxygen Therapy Indications. Best Publishing Company.
Harch, P. G., & Andrews, S. R. (2019). HBOT for Inner Ear Disorders. Springer.
Hawkins, D., & Carter, L. (2019). Hearing Rehabilitation and Audiology. Wiley.
Hesser, H., & Andersson, G. (2011). Cognitive Behavioral Therapy for Tinnitus: Systematic Review. Elsevier.
Jastreboff, P. J., & Hazell, J. W. P. (2004). Tinnitus Retraining Therapy: Implementing the Model. Cambridge University Press.
Langguth, B., & Kreuzer, P. M. (2019). Pharmacological Treatments for Tinnitus: An Evidence-Based Review. Springer.
Niu, J. W., & Zheng, W. X. (2020). Inflammation in Cochlear Damage and Hearing Loss. Elsevier.
Schecklmann, M., & Langguth, B. (2018). Anxiolytics for Tinnitus Management: Efficacy and Safety. Wiley.
Weaver, L. K., & Harch, P. G. (2017). Hyperbaric Oxygen Therapy: Clinical Applications. Best Publishing Company.