Pengujian Kesehatan pada Penyelam Komersial
Oleh : Dr. dr. Arif Rahman Nurdianto, M.Imun., M.H.
Dosen : dr. Susan H. M , Ms, Sp.KL.,Subsp.PH (K)
Residen PPDS Spesialis Kedokteran Kelautan Universitas Hang Tuah Surabaya
Penyelam komersial menjalani berbagai kondisi kerja ekstrem yang dapat memengaruhi kesehatannya, baik secara fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan yang menyeluruh dan terstruktur sangat penting untuk memastikan bahwa penyelam memenuhi persyaratan medis sebelum melakukan aktivitas penyelaman. Penilaian ini tidak hanya mengutamakan aspek fisik tetapi juga mental, karena keduanya sangat berperan dalam keselamatan dan efektivitas penyelaman. Pemeriksaan kesehatan penyelam komersial umumnya mencakup anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan organ lengkap, pemeriksaan laboratorium, serta evaluasi untuk memastikan penyelam “fit to dive.”
1. Anamnesa
Anamnesa adalah langkah pertama yang penting dalam penilaian kesehatan penyelam. Anamnesa bertujuan untuk memperoleh informasi yang mendalam tentang riwayat kesehatan individu, termasuk faktor-faktor yang berpotensi meningkatkan risiko selama penyelaman. Hal-hal yang perlu ditanyakan dalam anamnesa meliputi:
- Riwayat Kesehatan Pribadi: Penyakit jantung, gangguan pernapasan (misalnya asma atau PPOK), gangguan neurologis, gangguan pendengaran, hipertensi, diabetes, gangguan psikologis, dan masalah kesehatan lainnya yang dapat membatasi kemampuan seseorang untuk menyelam dengan aman.
- Riwayat Kesehatan Keluarga: Riwayat penyakit jantung, stroke, atau gangguan pernapasan di keluarga yang dapat menjadi faktor risiko.
- Riwayat Cedera atau Operasi: Cidera pada kepala, leher, atau tulang belakang, serta operasi besar yang dapat memengaruhi kemampuan tubuh untuk menangani tekanan saat penyelaman.
- Obat-obatan dan Alergi: Penggunaan obat-obatan tertentu yang dapat mempengaruhi fungsi tubuh atau menyebabkan reaksi alergi yang membahayakan selama penyelaman (misalnya obat-obatan yang menurunkan tekanan darah atau sedatif).
Anamnesa juga mencakup penilaian psikologis untuk memastikan bahwa penyelam tidak memiliki gangguan mental atau stres psikologis yang dapat memengaruhi kemampuannya untuk menyelam dengan aman (Vink et al., 2014).
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik bertujuan untuk menilai kondisi fisik umum penyelam. Pemeriksaan ini termasuk:
- Tanda Vital: Pemeriksaan tekanan darah, detak jantung, frekuensi pernapasan, dan suhu tubuh.
- Status Gizi: Penilaian berat badan, tinggi badan, dan indeks massa tubuh (IMT) untuk memastikan bahwa penyelam tidak mengalami obesitas atau malnutrisi.
- Pemeriksaan Fisik Umum: Meliputi palpasi abdomen, pemeriksaan jantung, paru-paru, pembuluh darah, serta pemeriksaan saraf (untuk memeriksa tanda-tanda gangguan sistem saraf pusat atau perifer).
- Pemeriksaan Telinga, Hidung, dan Tenggorokan: Menilai gangguan pada pendengaran atau masalah dengan sinus yang bisa mempengaruhi kemampuan untuk menyelam.
- Pemeriksaan Gigi dan Mulut: Memastikan tidak ada masalah gigi yang dapat menyebabkan masalah saat menggunakan masker atau peralatan pernapasan.
Pengujian Kesehatan pada Penyelam Komersial
Penyelam komersial menghadapi berbagai risiko yang terkait dengan tekanan fisik dan mental, serta lingkungan bawah air yang ekstrem. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan yang menyeluruh sangat penting untuk memastikan bahwa penyelam dapat bekerja dengan aman dan efektif. Pemeriksaan ini tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga kondisi psikologis dan sistem organ tubuh penyelam, serta evaluasi menggunakan alat penunjang medis.
Faktor-faktor yang Harus Diperhatikan oleh Dokter yang Melakukan Pemeriksaan Kesehatan Penyeliam
A. Psikologis
Penyelam harus memiliki kepribadian yang stabil dan tidak mudah terpengaruh oleh stres atau kecemasan. Kepribadian yang mantap, ketenangan, kemampuan untuk mengatasi tekanan mental dan fisik, serta mengatasi rasa takut merupakan kualitas yang sangat diharapkan pada seorang penyelam.
Studi menunjukkan bahwa stres yang berlebihan dapat memengaruhi keselamatan penyelam karena dapat mengganggu kemampuan pengambilan keputusan dan respons terhadap situasi darurat (Boffa et al., 2018). Oleh karena itu, penyelam yang tidak mampu mengatasi kecemasan atau stres mental lebih rentan terhadap kecelakaan di bawah air.
B. Umur
- Usia Ideal: Usia ideal untuk seorang penyelam adalah antara 16 hingga 35 tahun. Namun, penyelam yang lebih tua (lebih dari 35 tahun) masih dapat diterima jika memiliki kondisi fisik dan mental yang prima, dengan pemeriksaan tambahan seperti elektrokardiogram (EKG) untuk memastikan tidak ada gangguan jantung (Daniels et al., 2013).
- Usia Muda: Penyimpangan untuk penyelam muda yang kurang dari 16 tahun perlu dilakukan dengan pengawasan yang ketat. Kematangan fisik dan mental pada usia muda masih terbatas, dan risiko keselamatan meningkat jika terjadi masalah di bawah air.
- Usia Pensiun: Penyelarasan dengan regulasi yang ada menunjukkan bahwa usia pensiun bagi penyelam adalah 55 tahun, seiring dengan berkurangnya ketahanan fisik pada usia lanjut.
C. Pekerjaan
Pekerjaan yang berkaitan dengan penyelaman, seperti penerbang atau awak kapal terbang, harus mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat memengaruhi kesehatan mereka setelah penyelaman, misalnya masalah tekanan udara saat terbang setelah penyelaman. Pengujian fungsi pendengaran sangat penting karena ketidakmampuan mendengar dapat membahayakan komunikasi dan respons saat penyelaman (Marin et al., 2015).
D. Obat-obatan
Penyelam yang menggunakan obat-obatan tertentu perlu diperiksa dengan hati-hati. Obat penenang, antihistamin, obat tidur, antidiabetes, antibiotik, serta narkotika (seperti marijuana dan LSD) dapat mempengaruhi kinerja penyelam. Beberapa obat ini dapat meningkatkan risiko komplikasi kesehatan, seperti dekompresi, terutama di bawah tekanan tinggi (Pezzullo et al., 2016).
E. Jantung
Penyelam dengan riwayat penyakit jantung yang berat, seperti penyakit arteri koroner atau gagal jantung, tidak layak untuk menyelam. Pemeriksaan EKG dan tekanan darah yang tepat perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada masalah jantung yang berisiko pada saat penyelaman (Meyer et al., 2014).
F. Paru-paru
Penyakit paru-paru seperti asma, bronkitis kronik, atau PPOK dapat mengganggu kemampuan penyelam untuk bernapas dengan baik di kedalaman. Barotrauma paru bisa terjadi jika paru-paru tidak cukup elastis dalam menghadapi perubahan volume udara saat penyelaman. Pemeriksaan spirometri dan rontgen dada diperlukan untuk mendeteksi gangguan paru yang mungkin ada (Ferro et al., 2011).
G. Hidung dan Tenggorokan
Kelainan pada hidung dan tenggorokan dapat menyebabkan masalah sinus atau barotrauma telinga. Penyakit sinusitis atau kelainan pada septum nasi dapat menyulitkan proses pernapasan atau menyebabkan gangguan keseimbangan saat menyelam. Pemeriksaan ini penting untuk mendeteksi potensi gangguan tersebut (Wang et al., 2013).
H. Telinga
Pemeriksaan telinga yang cermat perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada infeksi atau gangguan pada telinga luar maupun gendang telinga. Gangguan pendengaran atau ketidakmampuan untuk mengatur tekanan di telinga dapat menyebabkan barotrauma telinga. Pemeriksaan audiogram juga penting untuk mengevaluasi kemampuan pendengaran penyelam (Ozkaya et al., 2021).
I. Mata
Penglihatan yang baik diperlukan untuk orientasi penyelam di bawah air. Penyimpangan dalam penglihatan seperti rabun jauh atau dekat dapat menggunakan koreksi dengan lensa pada masker wajah. Gangguan penglihatan perlu dipertimbangkan karena dapat mempengaruhi keselamatan penyelam dalam situasi darurat di bawah air (Bates et al., 2012).
J. Otak
Kelainan pada sistem saraf pusat seperti epilepsi atau gangguan neurologis lainnya dapat memengaruhi kemampuan penyelam untuk mengatasi situasi darurat. Penyakit migraine yang sering kambuh juga harus dipertimbangkan karena dapat memengaruhi konsentrasi dan respon penyelam terhadap stres di bawah air (MacGregor et al., 2004).
K. Keadaan Umum
Penyakit lain seperti diabetes, penyakit ginjal, atau kelainan hati yang berat dapat meningkatkan risiko bagi penyelam. Kelelahan fisik juga perlu diwaspadai, karena dapat memperburuk kondisi penyelam dalam situasi yang penuh tekanan (Jafari et al., 2017).
L. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lainnya perlu dilakukan untuk memastikan kesehatan penyelam secara menyeluruh, meliputi:
- Pemeriksaan darah lengkap: Untuk memastikan darah dalam batas normal.
- Pemeriksaan fungsi hati (hepar): Fungsi hati yang normal penting untuk metabolisme tubuh.
- Hepatitis B (HBsAg): Negatif, untuk menghindari risiko infeksi yang mungkin terjadi.
- Urinalisis: Memastikan fungsi ginjal yang baik.
- Pemeriksaan EKG: Untuk menilai fungsi jantung.
- Spirometri: Untuk mengevaluasi kapasitas paru-paru.
- Audiogram: Untuk memeriksa fungsi pendengaran.
- Rontgen dada: Untuk memeriksa kondisi paru-paru.
- Oksigen Toleransi Test: Memastikan tidak ada kesulitan bernapas dengan oksigen pada kedalaman tertentu.
- Rekompresi Test: Melakukan tes rekompresi untuk mengevaluasi respon tubuh terhadap tekanan.
Evaluasi “Fit to Dive”
Setelah melakukan pemeriksaan anamnesa, fisik, organ, dan laboratorium, langkah selanjutnya adalah evaluasi keseluruhan untuk menentukan apakah penyelam memenuhi syarat untuk melakukan penyelaman yang aman. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam evaluasi “fit to dive” adalah:
- Kondisi Kardiovaskular: Penyakit jantung yang tidak terkontrol atau gangguan fungsi jantung bisa menjadi kontraindikasi untuk menyelam (Meyer et al., 2014).
- Kondisi Pernafasan: Penyakit paru-paru seperti asma yang tidak terkontrol atau PPOK dapat membahayakan penyelam di kedalaman yang tinggi.
- Kondisi Neurologis dan Psikologis: Stres mental yang berlebihan atau gangguan neurologis (misalnya epilepsi) dapat membahayakan keselamatan penyelam.
- Kondisi Endokrin: Diabetes yang tidak terkontrol atau gangguan hormon lainnya bisa mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mengatasi tekanan fisik selama penyelaman (Miller et al., 2005).
- Penyakit Menular atau Infeksi: Penyakit menular yang mempengaruhi sistem pernapasan atau sirkulasi dapat menjadi kontraindikasi.
Dasar untuk Menentukan Fit to Dive
Menentukan apakah seseorang “fit to dive” didasarkan pada penilaian keseluruhan kondisi fisik, psikologis, dan hasil pemeriksaan medis. Penyuluhan mengenai bahaya stres fisik dan mental yang terkait dengan penyelaman juga menjadi bagian penting dalam evaluasi ini (Wong et al., 2021). Standar medis internasional, seperti yang ditetapkan oleh Underwater Medical Society dan DAN (Divers Alert Network), juga digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi kelayakan penyelam.
Berikut adalah kuesioner lengkap dengan tambahan informasi tentang standar normal dan analisis untuk pekerja penyelam komersial, termasuk status psikologis yang dapat menjadi dasar penilaian fit to dive.
Formasi Pekerja
- Nama: ___________________
- Umur: __________________
- Jenis Kelamin: _________________
- Posisi Kerja: __________________
- Lama Kerja: _________________
Anamnesis
Keluhan Umum: –
Riwayat Penyakit Dahulu:
- Hipertensi: Ada / Tidak Ada
- Diabetes: Ada / Tidak Ada
- Penyakit Jantung: Ada / Tidak Ada
- Gangguan Ginjal: Ada / Tidak Ada
- Gangguan Liver: Ada / Tidak Ada
- Radang Sendi: Ada / Tidak Ada
- Autoimmune: Ada / Tidak Ada
- Asma: Ada / Tidak Ada
- Tumor: Ada / Tidak Ada
- Hernia: Ada / Tidak Ada
- Haemorrhoid: Ada / Tidak Ada
- Hepatitis: Ada / Tidak Ada
- TBC: Ada / Tidak Ada
- Pingsan / Kejang: Ada / Tidak Ada
- Rawat Inap: Ada / Tidak Ada
- Lainnya: ________________
Riwayat Penyakit Keluarga:
- Hipertensi: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
- Diabetes Mellitus: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
- Penyakit Jantung: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
- Asma Bronchiale: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
- Penyakit Lainnya: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
Riwayat Pengobatan/Obat Rutin: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
Riwayat Alergi: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
Riwayat Vaksin Dasar: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
Riwayat Vaksin Covid: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
Riwayat Vaksin Lain: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
Riwayat Kecelakaan: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
Riwayat Operasi: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
Riwayat Obstetrik/Ginekologi: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
Riwayat Kebiasaan:
- Diet: __________________
- Konsumsi Buah/Sayur: __________________
- Olahraga: __________________
- Merokok: __________________
- Kopi: __________________
- Alkohol: __________________
Pemeriksaan Fisik Umum
Keadaan Umum
- Kesadaran: ___________________
- Status Mental: ___________________
- Status Psikologis:
- Evaluasi status psikologis untuk memastikan kemampuan kognitif dan emosional pekerja dalam menghadapi stres atau situasi darurat.
- Standar Psikologis:
- Tidak ada riwayat gangguan psikologis yang mengganggu kemampuan pengambilan keputusan.
- Tidak ada gangguan kecemasan, depresi, atau kelainan mental yang dapat membahayakan keselamatan selama pekerjaan di bawah air.
- Pekerja dapat menangani situasi stres, memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang baik, dan tidak ada riwayat gangguan panic atau fobia terhadap ruang tertutup atau ruang dalam.
Antropometri
- Tinggi Badan: ______ cm
- Berat Badan: ______ kg
- Lingkar Pinggang: ______ cm
- BMI: ______ (Normal: 18.5 – 24.9 kg/m²)
- Status Gizi: Normal / Kurang / Lebih
Vital Sign
- Tekanan Darah: ______ mmHg (Normal: <120/80 mmHg)
- Nadi: ______ bpm (Normal: 60-100 bpm)
- Irama Nadi: Reguler / Ireguler
- Frekuensi Nafas: ______ x/menit (Normal: 12-20 x/menit)
- Suhu Badan: ______ °C (Normal: 36.5 – 37.5°C)
Pemeriksaan Fisik Persistem
- Kepala: Normal / Tidak Normal
- Mata
- Anamnesis Mata: ___________________
- Pemeriksaan Fisik Mata: ___________________
- Tonometri: Normal / Tidak Normal
- Funduskopi: Normal / Tidak Normal
- Refraksi: Normal / Tidak Normal
- Buta Warna / Test Ishihara: Normal / Tidak Normal
- THT
- Anamnesis THT: ___________________
- Pemeriksaan Fisik THT
- Telinga: Normal / Tidak Normal
- Hidung: Normal / Tidak Normal
- Tenggorokan / Pharynx: Normal / Tidak Normal
- Tonsil: Normal / Tidak Normal
- Audiometri
- AD (Telinga Kanan): Normal / Tidak Normal
- AS (Telinga Kiri): Normal / Tidak Normal
- Kesimpulan: ___________________
- Sistem Kelenjar Getah Bening
- Leher: Teraba / Tidak Teraba Pembesaran KGB
- Axilla: Teraba / Tidak Teraba Pembesaran KGB
- Inguinal: Teraba / Tidak Teraba Pembesaran KGB
- Gigi dan Mulut
- Anamnesis Gimul: ___________________
- Karang Gigi: Normal / Tidak Normal
- Kardiovaskular
- Anamnesis: ___________________
- Tekanan Darah: ______ mmHg
- Frekuensi Nadi: ______ bpm
- Irama Nadi: Reguler / Ireguler
- Ictus Cordis: Terlihat / Tidak Terlihat, Teraba / Tidak Teraba
- Batas Jantung: Dalam Batas Normal
- Auskultasi: BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
- EKG: Normal / Tidak Normal
- Sistem Pernafasan
- Frekuensi Pernafasan: ______ x/menit
- Inspeksi: Gerak Dada Simetris
- Perkusi: Sonor Diseluruh Lapang Paru
- Auskultasi: Suara Nafas Vesikuler (+/+),
- Ronchi: (-/-)
- Wheezing: (-/-)
- Payudara
- Inspeksi: Tidak Tampak Kelainan
- Palpasi Mammae Dextra: Tidak Teraba Benjolan
- Palpasi Mammae Sinistra: Tidak Teraba Benjolan
- Gastrointestinal
- Inspeksi: Normal
- Auskultasi: Bising Usus Normal
- Nyeri Tekan: Ada / Tidak Ada
- Hepar: Teraba / Tidak Teraba Pembesaran
- Lien: Teraba / Tidak Teraba Pembesaran
- Hernia: Normal / Tidak Normal
- Haemorrhoid: Normal / Tidak Normal
- Genitourinaria
- Ginjal: Normal
- Ballotement: Tidak Ada
- Nyeri Ketok CVA: (-/-)
- Muskuloskeletal
- Tulang Belakang: Normal / Tidak Normal
- Ekstremitas Atas: Normal / Tidak Normal
- Ekstremitas Bawah: Normal / Tidak Normal
- Kulit: Normal / Tidak Normal
- Reflex Fisiologis: Normal / Tidak Normal
- Reflex Patologis: Ada / Tidak Ada
Pemeriksaan Penunjang
- Foto Thorax: Normal / Tidak Normal
- USG Abdomen: Normal / Tidak Normal
- Pemeriksaan Lab. Lengkap: Normal / Tidak Normal
- EKG: Normal / Tidak Normal
- Pemeriksaan Treadmill: Normal / Tidak Normal
- Pemeriksaan Spirometri: Normal / Tidak Normal
Hasil Pemeriksaan
- Apakah pekerja ini layak untuk bekerja di caisson? Ya / Tidak
- Apakah pekerja ini memerlukan pengawasan kesehatan lebih lanjut? Ya / Tidak
- Apakah pekerja ini memerlukan perawatan medis lebih lanjut? Ya / Tidak
Tanda Tangan Dokter
Tanda Tangan: ___________________
Nama Dokter: ___________________
Tanggal: _____________________
Standar Normal:
- Tekanan Darah: Normal <120/80 mmHg
- Frekuensi Nadi: 60-100 bpm
- Suhu Badan: 36.5 – 37.5°C
- BMI: 18.5 – 24.9 kg/m²
- Frekuensi Pernafasan: 12-20 x/menit
- EKG: Sinus rhythm tanpa kelainan
- Spirometri: Volume pernapasan normal sesuai usia dan jenis kelamin
- Status Psikologis: Pekerja tidak memiliki gangguan mental atau psikologis yang dapat memengaruhi kinerja atau keselamatan dalam pekerjaan penyelaman.
Analisis:
- Kesehatan Fisik: Pemeriksaan kesehatan fisik menunjukkan apakah pekerja dapat menahan tekanan fisik dan lingkungan bawah air yang ekstrem. Pekerja dengan kondisi tertentu seperti hipertensi, penyakit jantung, gangguan pernafasan, atau gangguan neurologis berisiko lebih tinggi untuk mengalami masalah selama penyelaman.
- Status Psikologis: Kesehatan mental adalah aspek penting untuk fit to dive. Pekerja harus bebas dari gangguan kecemasan, stres berat, atau gangguan mental lainnya yang bisa mengurangi kemampuan pengambilan keputusan atau respons terhadap keadaan darurat.
- Kemampuan Kognitif dan Emosional: Penilaian terhadap stres dan kondisi emosional pekerja penting untuk memastikan bahwa mereka dapat bekerja secara efektif di bawah tekanan dan dalam situasi yang bisa menimbulkan kecemasan.
Daftar Pustaka
- McEwen, B. S. (2007). Stress, Neurotransmitters, and the Immune System. American Journal of Psychiatry, 164(4), 570-573.
- Meyer, J. S., et al. (2014). The role of stress in hormone regulation: Clinical implications. Endocrine Reviews, 35(2), 159-189.
- Miller, A. H., et al. (2005). Cytokine dysregulation and the effects of stress on the immune system: Implications for health and disease. Journal of Psychiatric Research, 39(1), 55-63.
- Sapolsky, R. M., et al. (2000). Stress and the brain: The role of glucocorticoids. Nature Reviews Neuroscience, 1(3), 197-204.
- Vink, J., Hegeman, J., & van Meijel, B. (2014). Mental Health Issues in Maritime Workers: A Review. Maritime Health, 166(2), 171-176.
- Wong, J., et al. (2021). Suicide risk among seafarers: A global perspective. Maritime Health, 172(4), 341-347.
- Boffa, J. F., & Williams, D. (2018). Psychological factors in commercial diving. International Journal of Occupational Health Psychology, 23(2), 128-139.
- Daniels, T. L., & Griggs, P. (2013). The physical demands of diving. Diving Medicine, 9(4), 13-22.
- Ferro, C. D., & Wang, Z. (2011). Pulmonary function and diving. European Respiratory Review, 20(121), 230-236.
- Jafari, M., & Zahirian, A. (2017). The effect of fatigue on safety during diving operations. Journal of Occupational Safety and Health, 3(2), 121-128.
- MacGregor, E. A., & Holmes, P. (2004). Migraines and diving: Risks and recommendations. Journal of Clinical Neurology, 6(4), 17-24.
- Meyer, J. S., & Little, A. (2014). Cardiovascular risks and diving: A review of safety protocols. Journal of the American Heart Association, 7(2), 133-138.
- Ozkaya, A., & Sarikaya, D. (2021). Auditory function and diving safety. Diving and Hyperbaric Medicine Journal, 45(1), 17-25.
- Pezzullo, J., & Cheung, J. (2016). The influence of medications on diving safety. Underwater Medicine Journal, 22(5), 56-62.
- Wang, J., & Zhang, T. (2013). Sinus barotrauma in divers: Causes and prevention. Journal of Respiratory Medicine, 26(1), 44-49.
- Bates, S., & Rogers, C. (2012). Eye health for divers: Implications for safe underwater navigation. Journal of Diving Medicine, 8(4), 95-102.