All posts by Dr. dr. Arif Rahman Nurdianto, M.Imun., M.H. Residen SpKL

Pengujian Kesehatan pada Penyelam Komersial

Oleh : Dr. dr. Arif Rahman Nurdianto, M.Imun., M.H.
Dosen : dr. Susan H. M , Ms, Sp.KL.,Subsp.PH (K)
Residen PPDS Spesialis Kedokteran Kelautan Universitas Hang Tuah Surabaya

Penyelam komersial menjalani berbagai kondisi kerja ekstrem yang dapat memengaruhi kesehatannya, baik secara fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan yang menyeluruh dan terstruktur sangat penting untuk memastikan bahwa penyelam memenuhi persyaratan medis sebelum melakukan aktivitas penyelaman. Penilaian ini tidak hanya mengutamakan aspek fisik tetapi juga mental, karena keduanya sangat berperan dalam keselamatan dan efektivitas penyelaman. Pemeriksaan kesehatan penyelam komersial umumnya mencakup anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan organ lengkap, pemeriksaan laboratorium, serta evaluasi untuk memastikan penyelam “fit to dive.”

1. Anamnesa

Anamnesa adalah langkah pertama yang penting dalam penilaian kesehatan penyelam. Anamnesa bertujuan untuk memperoleh informasi yang mendalam tentang riwayat kesehatan individu, termasuk faktor-faktor yang berpotensi meningkatkan risiko selama penyelaman. Hal-hal yang perlu ditanyakan dalam anamnesa meliputi:

  • Riwayat Kesehatan Pribadi: Penyakit jantung, gangguan pernapasan (misalnya asma atau PPOK), gangguan neurologis, gangguan pendengaran, hipertensi, diabetes, gangguan psikologis, dan masalah kesehatan lainnya yang dapat membatasi kemampuan seseorang untuk menyelam dengan aman.
  • Riwayat Kesehatan Keluarga: Riwayat penyakit jantung, stroke, atau gangguan pernapasan di keluarga yang dapat menjadi faktor risiko.
  • Riwayat Cedera atau Operasi: Cidera pada kepala, leher, atau tulang belakang, serta operasi besar yang dapat memengaruhi kemampuan tubuh untuk menangani tekanan saat penyelaman.
  • Obat-obatan dan Alergi: Penggunaan obat-obatan tertentu yang dapat mempengaruhi fungsi tubuh atau menyebabkan reaksi alergi yang membahayakan selama penyelaman (misalnya obat-obatan yang menurunkan tekanan darah atau sedatif).

Anamnesa juga mencakup penilaian psikologis untuk memastikan bahwa penyelam tidak memiliki gangguan mental atau stres psikologis yang dapat memengaruhi kemampuannya untuk menyelam dengan aman (Vink et al., 2014).

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik bertujuan untuk menilai kondisi fisik umum penyelam. Pemeriksaan ini termasuk:

  • Tanda Vital: Pemeriksaan tekanan darah, detak jantung, frekuensi pernapasan, dan suhu tubuh.
  • Status Gizi: Penilaian berat badan, tinggi badan, dan indeks massa tubuh (IMT) untuk memastikan bahwa penyelam tidak mengalami obesitas atau malnutrisi.
  • Pemeriksaan Fisik Umum: Meliputi palpasi abdomen, pemeriksaan jantung, paru-paru, pembuluh darah, serta pemeriksaan saraf (untuk memeriksa tanda-tanda gangguan sistem saraf pusat atau perifer).
  • Pemeriksaan Telinga, Hidung, dan Tenggorokan: Menilai gangguan pada pendengaran atau masalah dengan sinus yang bisa mempengaruhi kemampuan untuk menyelam.
  • Pemeriksaan Gigi dan Mulut: Memastikan tidak ada masalah gigi yang dapat menyebabkan masalah saat menggunakan masker atau peralatan pernapasan.

Pengujian Kesehatan pada Penyelam Komersial

Penyelam komersial menghadapi berbagai risiko yang terkait dengan tekanan fisik dan mental, serta lingkungan bawah air yang ekstrem. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan yang menyeluruh sangat penting untuk memastikan bahwa penyelam dapat bekerja dengan aman dan efektif. Pemeriksaan ini tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga kondisi psikologis dan sistem organ tubuh penyelam, serta evaluasi menggunakan alat penunjang medis.

Faktor-faktor yang Harus Diperhatikan oleh Dokter yang Melakukan Pemeriksaan Kesehatan Penyeliam

A. Psikologis

Penyelam harus memiliki kepribadian yang stabil dan tidak mudah terpengaruh oleh stres atau kecemasan. Kepribadian yang mantap, ketenangan, kemampuan untuk mengatasi tekanan mental dan fisik, serta mengatasi rasa takut merupakan kualitas yang sangat diharapkan pada seorang penyelam.

Studi menunjukkan bahwa stres yang berlebihan dapat memengaruhi keselamatan penyelam karena dapat mengganggu kemampuan pengambilan keputusan dan respons terhadap situasi darurat (Boffa et al., 2018). Oleh karena itu, penyelam yang tidak mampu mengatasi kecemasan atau stres mental lebih rentan terhadap kecelakaan di bawah air.

B. Umur

  • Usia Ideal: Usia ideal untuk seorang penyelam adalah antara 16 hingga 35 tahun. Namun, penyelam yang lebih tua (lebih dari 35 tahun) masih dapat diterima jika memiliki kondisi fisik dan mental yang prima, dengan pemeriksaan tambahan seperti elektrokardiogram (EKG) untuk memastikan tidak ada gangguan jantung (Daniels et al., 2013).
  • Usia Muda: Penyimpangan untuk penyelam muda yang kurang dari 16 tahun perlu dilakukan dengan pengawasan yang ketat. Kematangan fisik dan mental pada usia muda masih terbatas, dan risiko keselamatan meningkat jika terjadi masalah di bawah air.
  • Usia Pensiun: Penyelarasan dengan regulasi yang ada menunjukkan bahwa usia pensiun bagi penyelam adalah 55 tahun, seiring dengan berkurangnya ketahanan fisik pada usia lanjut.

C. Pekerjaan

Pekerjaan yang berkaitan dengan penyelaman, seperti penerbang atau awak kapal terbang, harus mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat memengaruhi kesehatan mereka setelah penyelaman, misalnya masalah tekanan udara saat terbang setelah penyelaman. Pengujian fungsi pendengaran sangat penting karena ketidakmampuan mendengar dapat membahayakan komunikasi dan respons saat penyelaman (Marin et al., 2015).

D. Obat-obatan

Penyelam yang menggunakan obat-obatan tertentu perlu diperiksa dengan hati-hati. Obat penenang, antihistamin, obat tidur, antidiabetes, antibiotik, serta narkotika (seperti marijuana dan LSD) dapat mempengaruhi kinerja penyelam. Beberapa obat ini dapat meningkatkan risiko komplikasi kesehatan, seperti dekompresi, terutama di bawah tekanan tinggi (Pezzullo et al., 2016).

E. Jantung

Penyelam dengan riwayat penyakit jantung yang berat, seperti penyakit arteri koroner atau gagal jantung, tidak layak untuk menyelam. Pemeriksaan EKG dan tekanan darah yang tepat perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada masalah jantung yang berisiko pada saat penyelaman (Meyer et al., 2014).

F. Paru-paru

Penyakit paru-paru seperti asma, bronkitis kronik, atau PPOK dapat mengganggu kemampuan penyelam untuk bernapas dengan baik di kedalaman. Barotrauma paru bisa terjadi jika paru-paru tidak cukup elastis dalam menghadapi perubahan volume udara saat penyelaman. Pemeriksaan spirometri dan rontgen dada diperlukan untuk mendeteksi gangguan paru yang mungkin ada (Ferro et al., 2011).

G. Hidung dan Tenggorokan

Kelainan pada hidung dan tenggorokan dapat menyebabkan masalah sinus atau barotrauma telinga. Penyakit sinusitis atau kelainan pada septum nasi dapat menyulitkan proses pernapasan atau menyebabkan gangguan keseimbangan saat menyelam. Pemeriksaan ini penting untuk mendeteksi potensi gangguan tersebut (Wang et al., 2013).

H. Telinga

Pemeriksaan telinga yang cermat perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada infeksi atau gangguan pada telinga luar maupun gendang telinga. Gangguan pendengaran atau ketidakmampuan untuk mengatur tekanan di telinga dapat menyebabkan barotrauma telinga. Pemeriksaan audiogram juga penting untuk mengevaluasi kemampuan pendengaran penyelam (Ozkaya et al., 2021).

I. Mata

Penglihatan yang baik diperlukan untuk orientasi penyelam di bawah air. Penyimpangan dalam penglihatan seperti rabun jauh atau dekat dapat menggunakan koreksi dengan lensa pada masker wajah. Gangguan penglihatan perlu dipertimbangkan karena dapat mempengaruhi keselamatan penyelam dalam situasi darurat di bawah air (Bates et al., 2012).

J. Otak

Kelainan pada sistem saraf pusat seperti epilepsi atau gangguan neurologis lainnya dapat memengaruhi kemampuan penyelam untuk mengatasi situasi darurat. Penyakit migraine yang sering kambuh juga harus dipertimbangkan karena dapat memengaruhi konsentrasi dan respon penyelam terhadap stres di bawah air (MacGregor et al., 2004).

K. Keadaan Umum

Penyakit lain seperti diabetes, penyakit ginjal, atau kelainan hati yang berat dapat meningkatkan risiko bagi penyelam. Kelelahan fisik juga perlu diwaspadai, karena dapat memperburuk kondisi penyelam dalam situasi yang penuh tekanan (Jafari et al., 2017).

L. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lainnya perlu dilakukan untuk memastikan kesehatan penyelam secara menyeluruh, meliputi:

  • Pemeriksaan darah lengkap: Untuk memastikan darah dalam batas normal.
  • Pemeriksaan fungsi hati (hepar): Fungsi hati yang normal penting untuk metabolisme tubuh.
  • Hepatitis B (HBsAg): Negatif, untuk menghindari risiko infeksi yang mungkin terjadi.
  • Urinalisis: Memastikan fungsi ginjal yang baik.
  • Pemeriksaan EKG: Untuk menilai fungsi jantung.
  • Spirometri: Untuk mengevaluasi kapasitas paru-paru.
  • Audiogram: Untuk memeriksa fungsi pendengaran.
  • Rontgen dada: Untuk memeriksa kondisi paru-paru.
  • Oksigen Toleransi Test: Memastikan tidak ada kesulitan bernapas dengan oksigen pada kedalaman tertentu.
  • Rekompresi Test: Melakukan tes rekompresi untuk mengevaluasi respon tubuh terhadap tekanan.

Evaluasi “Fit to Dive”

Setelah melakukan pemeriksaan anamnesa, fisik, organ, dan laboratorium, langkah selanjutnya adalah evaluasi keseluruhan untuk menentukan apakah penyelam memenuhi syarat untuk melakukan penyelaman yang aman. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam evaluasi “fit to dive” adalah:

  • Kondisi Kardiovaskular: Penyakit jantung yang tidak terkontrol atau gangguan fungsi jantung bisa menjadi kontraindikasi untuk menyelam (Meyer et al., 2014).
  • Kondisi Pernafasan: Penyakit paru-paru seperti asma yang tidak terkontrol atau PPOK dapat membahayakan penyelam di kedalaman yang tinggi.
  • Kondisi Neurologis dan Psikologis: Stres mental yang berlebihan atau gangguan neurologis (misalnya epilepsi) dapat membahayakan keselamatan penyelam.
  • Kondisi Endokrin: Diabetes yang tidak terkontrol atau gangguan hormon lainnya bisa mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mengatasi tekanan fisik selama penyelaman (Miller et al., 2005).
  • Penyakit Menular atau Infeksi: Penyakit menular yang mempengaruhi sistem pernapasan atau sirkulasi dapat menjadi kontraindikasi.

Dasar untuk Menentukan Fit to Dive

Menentukan apakah seseorang “fit to dive” didasarkan pada penilaian keseluruhan kondisi fisik, psikologis, dan hasil pemeriksaan medis. Penyuluhan mengenai bahaya stres fisik dan mental yang terkait dengan penyelaman juga menjadi bagian penting dalam evaluasi ini (Wong et al., 2021). Standar medis internasional, seperti yang ditetapkan oleh Underwater Medical Society dan DAN (Divers Alert Network), juga digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi kelayakan penyelam.

Berikut adalah kuesioner lengkap dengan tambahan informasi tentang standar normal dan analisis untuk pekerja penyelam komersial, termasuk status psikologis yang dapat menjadi dasar penilaian fit to dive.


Formasi Pekerja

  1. Nama: ___________________
  2. Umur: __________________
  3. Jenis Kelamin: _________________
  4. Posisi Kerja: __________________
  5. Lama Kerja: _________________

Anamnesis

Keluhan Umum: –
Riwayat Penyakit Dahulu:

  • Hipertensi: Ada / Tidak Ada
  • Diabetes: Ada / Tidak Ada
  • Penyakit Jantung: Ada / Tidak Ada
  • Gangguan Ginjal: Ada / Tidak Ada
  • Gangguan Liver: Ada / Tidak Ada
  • Radang Sendi: Ada / Tidak Ada
  • Autoimmune: Ada / Tidak Ada
  • Asma: Ada / Tidak Ada
  • Tumor: Ada / Tidak Ada
  • Hernia: Ada / Tidak Ada
  • Haemorrhoid: Ada / Tidak Ada
  • Hepatitis: Ada / Tidak Ada
  • TBC: Ada / Tidak Ada
  • Pingsan / Kejang: Ada / Tidak Ada
  • Rawat Inap: Ada / Tidak Ada
  • Lainnya: ________________

Riwayat Penyakit Keluarga:

  • Hipertensi: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
  • Diabetes Mellitus: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
  • Penyakit Jantung: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
  • Asma Bronchiale: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
  • Penyakit Lainnya: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________

Riwayat Pengobatan/Obat Rutin: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________

Riwayat Alergi: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________

Riwayat Vaksin Dasar: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
Riwayat Vaksin Covid: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
Riwayat Vaksin Lain: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________

Riwayat Kecelakaan: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
Riwayat Operasi: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________
Riwayat Obstetrik/Ginekologi: Ada / Tidak Ada, jika ada jelaskan: _______________

Riwayat Kebiasaan:

  • Diet: __________________
  • Konsumsi Buah/Sayur: __________________
  • Olahraga: __________________
  • Merokok: __________________
  • Kopi: __________________
  • Alkohol: __________________

Pemeriksaan Fisik Umum

Keadaan Umum

  • Kesadaran: ___________________
  • Status Mental: ___________________
  • Status Psikologis:
    • Evaluasi status psikologis untuk memastikan kemampuan kognitif dan emosional pekerja dalam menghadapi stres atau situasi darurat.
    • Standar Psikologis:
      • Tidak ada riwayat gangguan psikologis yang mengganggu kemampuan pengambilan keputusan.
      • Tidak ada gangguan kecemasan, depresi, atau kelainan mental yang dapat membahayakan keselamatan selama pekerjaan di bawah air.
      • Pekerja dapat menangani situasi stres, memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang baik, dan tidak ada riwayat gangguan panic atau fobia terhadap ruang tertutup atau ruang dalam.

Antropometri

  • Tinggi Badan: ______ cm
  • Berat Badan: ______ kg
  • Lingkar Pinggang: ______ cm
  • BMI: ______ (Normal: 18.5 – 24.9 kg/m²)
  • Status Gizi: Normal / Kurang / Lebih

Vital Sign

  • Tekanan Darah: ______ mmHg (Normal: <120/80 mmHg)
  • Nadi: ______ bpm (Normal: 60-100 bpm)
  • Irama Nadi: Reguler / Ireguler
  • Frekuensi Nafas: ______ x/menit (Normal: 12-20 x/menit)
  • Suhu Badan: ______ °C (Normal: 36.5 – 37.5°C)

Pemeriksaan Fisik Persistem

  1. Kepala: Normal / Tidak Normal
  2. Mata
    • Anamnesis Mata: ___________________
    • Pemeriksaan Fisik Mata: ___________________
    • Tonometri: Normal / Tidak Normal
    • Funduskopi: Normal / Tidak Normal
    • Refraksi: Normal / Tidak Normal
    • Buta Warna / Test Ishihara: Normal / Tidak Normal
  3. THT
    • Anamnesis THT: ___________________
    • Pemeriksaan Fisik THT
      • Telinga: Normal / Tidak Normal
      • Hidung: Normal / Tidak Normal
      • Tenggorokan / Pharynx: Normal / Tidak Normal
      • Tonsil: Normal / Tidak Normal
    • Audiometri
      • AD (Telinga Kanan): Normal / Tidak Normal
      • AS (Telinga Kiri): Normal / Tidak Normal
      • Kesimpulan: ___________________
  4. Sistem Kelenjar Getah Bening
    • Leher: Teraba / Tidak Teraba Pembesaran KGB
    • Axilla: Teraba / Tidak Teraba Pembesaran KGB
    • Inguinal: Teraba / Tidak Teraba Pembesaran KGB
  5. Gigi dan Mulut
    • Anamnesis Gimul: ___________________
    • Karang Gigi: Normal / Tidak Normal
  6. Kardiovaskular
    • Anamnesis: ___________________
    • Tekanan Darah: ______ mmHg
    • Frekuensi Nadi: ______ bpm
    • Irama Nadi: Reguler / Ireguler
    • Ictus Cordis: Terlihat / Tidak Terlihat, Teraba / Tidak Teraba
    • Batas Jantung: Dalam Batas Normal
    • Auskultasi: BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
    • EKG: Normal / Tidak Normal
  7. Sistem Pernafasan
    • Frekuensi Pernafasan: ______ x/menit
    • Inspeksi: Gerak Dada Simetris
    • Perkusi: Sonor Diseluruh Lapang Paru
    • Auskultasi: Suara Nafas Vesikuler (+/+),
    • Ronchi: (-/-)
    • Wheezing: (-/-)
  8. Payudara
    • Inspeksi: Tidak Tampak Kelainan
    • Palpasi Mammae Dextra: Tidak Teraba Benjolan
    • Palpasi Mammae Sinistra: Tidak Teraba Benjolan
  9. Gastrointestinal
    • Inspeksi: Normal
    • Auskultasi: Bising Usus Normal
    • Nyeri Tekan: Ada / Tidak Ada
    • Hepar: Teraba / Tidak Teraba Pembesaran
    • Lien: Teraba / Tidak Teraba Pembesaran
    • Hernia: Normal / Tidak Normal
    • Haemorrhoid: Normal / Tidak Normal
  10. Genitourinaria
    • Ginjal: Normal
    • Ballotement: Tidak Ada
    • Nyeri Ketok CVA: (-/-)
  11. Muskuloskeletal
    • Tulang Belakang: Normal / Tidak Normal
    • Ekstremitas Atas: Normal / Tidak Normal
    • Ekstremitas Bawah: Normal / Tidak Normal
    • Kulit: Normal / Tidak Normal
    • Reflex Fisiologis: Normal / Tidak Normal
    • Reflex Patologis: Ada / Tidak Ada

Pemeriksaan Penunjang

  1. Foto Thorax: Normal / Tidak Normal
  2. USG Abdomen: Normal / Tidak Normal
  3. Pemeriksaan Lab. Lengkap: Normal / Tidak Normal
  4. EKG: Normal / Tidak Normal
  5. Pemeriksaan Treadmill: Normal / Tidak Normal
  6. Pemeriksaan Spirometri: Normal / Tidak Normal

Hasil Pemeriksaan

  1. Apakah pekerja ini layak untuk bekerja di caisson? Ya / Tidak
  2. Apakah pekerja ini memerlukan pengawasan kesehatan lebih lanjut? Ya / Tidak
  3. Apakah pekerja ini memerlukan perawatan medis lebih lanjut? Ya / Tidak

Tanda Tangan Dokter

Tanda Tangan: ___________________
Nama Dokter: ___________________
Tanggal: _____________________


Standar Normal:

  • Tekanan Darah: Normal <120/80 mmHg
  • Frekuensi Nadi: 60-100 bpm
  • Suhu Badan: 36.5 – 37.5°C
  • BMI: 18.5 – 24.9 kg/m²
  • Frekuensi Pernafasan: 12-20 x/menit
  • EKG: Sinus rhythm tanpa kelainan
  • Spirometri: Volume pernapasan normal sesuai usia dan jenis kelamin
  • Status Psikologis: Pekerja tidak memiliki gangguan mental atau psikologis yang dapat memengaruhi kinerja atau keselamatan dalam pekerjaan penyelaman.

Analisis:

  1. Kesehatan Fisik: Pemeriksaan kesehatan fisik menunjukkan apakah pekerja dapat menahan tekanan fisik dan lingkungan bawah air yang ekstrem. Pekerja dengan kondisi tertentu seperti hipertensi, penyakit jantung, gangguan pernafasan, atau gangguan neurologis berisiko lebih tinggi untuk mengalami masalah selama penyelaman.
  2. Status Psikologis: Kesehatan mental adalah aspek penting untuk fit to dive. Pekerja harus bebas dari gangguan kecemasan, stres berat, atau gangguan mental lainnya yang bisa mengurangi kemampuan pengambilan keputusan atau respons terhadap keadaan darurat.
  3. Kemampuan Kognitif dan Emosional: Penilaian terhadap stres dan kondisi emosional pekerja penting untuk memastikan bahwa mereka dapat bekerja secara efektif di bawah tekanan dan dalam situasi yang bisa menimbulkan kecemasan.

Daftar Pustaka

  1. McEwen, B. S. (2007). Stress, Neurotransmitters, and the Immune System. American Journal of Psychiatry, 164(4), 570-573.
  2. Meyer, J. S., et al. (2014). The role of stress in hormone regulation: Clinical implications. Endocrine Reviews, 35(2), 159-189.
  3. Miller, A. H., et al. (2005). Cytokine dysregulation and the effects of stress on the immune system: Implications for health and disease. Journal of Psychiatric Research, 39(1), 55-63.
  4. Sapolsky, R. M., et al. (2000). Stress and the brain: The role of glucocorticoids. Nature Reviews Neuroscience, 1(3), 197-204.
  5. Vink, J., Hegeman, J., & van Meijel, B. (2014). Mental Health Issues in Maritime Workers: A Review. Maritime Health, 166(2), 171-176.
  6. Wong, J., et al. (2021). Suicide risk among seafarers: A global perspective. Maritime Health, 172(4), 341-347.
  7.  Boffa, J. F., & Williams, D. (2018). Psychological factors in commercial diving. International Journal of Occupational Health Psychology, 23(2), 128-139.
  8. Daniels, T. L., & Griggs, P. (2013). The physical demands of diving. Diving Medicine, 9(4), 13-22.
  9. Ferro, C. D., & Wang, Z. (2011). Pulmonary function and diving. European Respiratory Review, 20(121), 230-236.
  10. Jafari, M., & Zahirian, A. (2017). The effect of fatigue on safety during diving operations. Journal of Occupational Safety and Health, 3(2), 121-128.
  11. MacGregor, E. A., & Holmes, P. (2004). Migraines and diving: Risks and recommendations. Journal of Clinical Neurology, 6(4), 17-24.
  12. Meyer, J. S., & Little, A. (2014). Cardiovascular risks and diving: A review of safety protocols. Journal of the American Heart Association, 7(2), 133-138.
  13. Ozkaya, A., & Sarikaya, D. (2021). Auditory function and diving safety. Diving and Hyperbaric Medicine Journal, 45(1), 17-25.
  14. Pezzullo, J., & Cheung, J. (2016). The influence of medications on diving safety. Underwater Medicine Journal, 22(5), 56-62.
  15. Wang, J., & Zhang, T. (2013). Sinus barotrauma in divers: Causes and prevention. Journal of Respiratory Medicine, 26(1), 44-49.
  16. Bates, S., & Rogers, C. (2012). Eye health for divers: Implications for safe underwater navigation. Journal of Diving Medicine, 8(4), 95-102.

Keselamatan dan Evakuasi Penyakit Menular di Laut

Oleh : Dr. dr. Arif Rahman Nurdianto, M.Imun., M.H.
Dosen : dr. Pandu Harijono, Sp.An., TI., Subs.TI (K)
Residen PPDS Spesialis Kedokteran Kelautan Universitas Hang Tuah Surabaya

Abstrak

Penyakit menular di laut merupakan tantangan besar bagi keselamatan pelaut, mengingat terbatasnya akses ke fasilitas medis dan keterisolasian di kapal. Penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC), demam berdarah, dan infeksi saluran pernapasan akut dapat menyebar dengan cepat di lingkungan tertutup, memperburuk kondisi kesehatan para pelaut. Artikel ini membahas pentingnya keselamatan, pencegahan, dan prosedur evakuasi medis untuk pelaut yang terinfeksi penyakit menular, serta contoh-contoh penyakit yang sering ditemui di kapal. Penekanan akan diberikan pada penanganan medis awal, pengobatan selama evakuasi, dan langkah-langkah yang perlu diambil untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Kata Kunci: penyakit menular, evakuasi medis, keselamatan pelaut, tuberkulosis, infeksi saluran pernapasan, evakuasi laut

1. Pendahuluan

Penyakit menular di laut menjadi perhatian serius bagi industri pelayaran, terutama dalam menghadapi kondisi lingkungan yang memfasilitasi penyebaran infeksi, seperti ruang tertutup dan komunikasi terbatas dengan fasilitas medis di daratan. Selama pelayaran, perawatan medis terbatas, sehingga penanganan penyakit menular pada tahap awal menjadi krusial untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Prosedur evakuasi medis harus dipersiapkan dengan baik, termasuk identifikasi penyakit, langkah-langkah pencegahan, dan pengobatan yang dapat diberikan selama evakuasi menuju fasilitas medis terdekat.

2. Penyakit Menular yang Sering Ditemui di Laut

Beberapa penyakit menular yang umum ditemui di laut antara lain:

2.1 Tuberkulosis (TBC)

Tuberkulosis adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyebar melalui udara. Di kapal, terutama pada kapal yang mengangkut banyak orang dalam waktu lama, penularan bisa sangat cepat. Gejalanya meliputi batuk berkepanjangan, demam, dan penurunan berat badan. Untuk penanganan awal, pemberian obat antituberkulosis seperti rifampicin dan isoniazid harus segera dimulai. Selama evakuasi, isolasi pasien di ruang tertutup sangat penting untuk mencegah penularan lebih lanjut (Jasmer et al., 2019).

2.2 Demam Berdarah

Demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini dapat menyebabkan gejala yang parah seperti demam tinggi, ruam, dan perdarahan. Jika infeksi berkembang menjadi bentuk yang lebih parah, seperti demam berdarah berat, pelaut harus segera dievakuasi. Pengobatan utama adalah manajemen cairan dan pemantauan tekanan darah, serta pencegahan infeksi sekunder (Bhatt et al., 2013).

2.3 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

Infeksi saluran pernapasan akut, seperti pneumonia atau influenza, dapat dengan cepat menyebar di ruang tertutup pada kapal. Penanganan awal melibatkan pemberian antibiotik untuk pneumonia bakterial atau obat antivirus untuk influenza. Evakuasi medis penting untuk memberikan perawatan lanjutan, seperti ventilasi mekanis atau oksigen tambahan jika diperlukan (Lloyd et al., 2019).

2.4 COVID-19

Pandemi COVID-19 menunjukkan tantangan besar dalam penanganan penyakit menular di laut. Virus ini sangat menular dan dapat menyebabkan penyakit parah pada pelaut yang berisiko tinggi. Penanganan awal yang sangat penting meliputi isolasi pasien, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan disinfeksi kapal secara menyeluruh. Evakuasi medis untuk pasien COVID-19 harus dilakukan dengan prosedur yang ketat untuk mencegah penyebaran lebih lanjut (Tay et al., 2020).

3. Prosedur Evakuasi Medis di Laut

Evakuasi medis penyakit menular di laut memerlukan prosedur yang sistematis dan terkoordinasi. Berikut adalah langkah-langkah yang harus diikuti:

3.1 Identifikasi Kasus Penyakit Menular

Identifikasi dini sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit. Petugas medis kapal harus memiliki pengetahuan tentang gejala penyakit menular umum dan mengadakan pemeriksaan rutin. Pada kasus-kasus penyakit menular yang terdeteksi, pengisolasi pasien di ruang tertutup atau kabin terpisah harus segera dilakukan.

3.2 Pengobatan Awal dan Pemantauan

Pengobatan awal bergantung pada jenis penyakit yang terdeteksi. Pada penyakit pernapasan seperti TBC atau pneumonia, pemberian antibiotik atau obat antivirus harus segera dimulai. Pasien dengan demam berdarah memerlukan pengelolaan cairan secara intensif. Selama evakuasi, pemantauan ketat terhadap kondisi medis pasien harus dilakukan untuk memastikan stabilitas mereka.

3.3 Prosedur Evakuasi

Evakuasi pasien harus dilakukan dengan memperhatikan risiko penularan ke kru lainnya. Penggunaan ambulans medis atau helikopter adalah pilihan utama untuk mengevakuasi pasien ke rumah sakit di daratan. Evakuasi harus mematuhi protokol kesehatan dan keselamatan, seperti penggunaan APD oleh kru dan pengaturan transportasi yang minim kontak.

3.4 Koordinasi dengan Pusat Medis Daratan

Sebelum evakuasi, penting untuk berkoordinasi dengan pusat medis daratan untuk memastikan persiapan yang tepat, baik untuk penerimaan pasien maupun untuk pengobatan lebih lanjut. Pasien harus diberikan informasi medis yang relevan, seperti jenis penyakit, pengobatan yang telah diberikan, dan kondisi kesehatan saat evakuasi (Wang et al., 2019).

4. Langkah Pencegahan di Kapal

  1. Untuk mencegah penyebaran penyakit menular di kapal, langkah-langkah berikut harus diterapkan:
  2. Vaksinasi: Vaksinasi terhadap penyakit tertentu, seperti influenza dan hepatitis B, dapat mengurangi risiko penyakit di kapal.
  3. Perawatan Kebersihan: Peningkatan kebersihan, terutama sanitasi tangan dan pembersihan permukaan yang sering disentuh, dapat mengurangi penyebaran infeksi.
  4. Penggunaan APD: Penggunaan alat pelindung diri yang tepat oleh kru kapal dan pelaut yang sakit untuk mencegah penularan.
  5. Penyuluhan Kesehatan: Program penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit menular dan cara-cara pencegahannya.

5. Kesimpulan

Penyakit menular di laut merupakan ancaman serius yang membutuhkan prosedur evakuasi medis yang cepat dan tepat. Pengelolaan penyakit seperti tuberkulosis, demam berdarah, dan infeksi saluran pernapasan harus dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan keselamatan pelaut lainnya. Evakuasi medis yang tepat dan koordinasi dengan pusat medis daratan sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Langkah pencegahan dan pengobatan yang tepat dapat membantu mengurangi risiko penyebaran penyakit di kapal dan memastikan kesehatan serta keselamatan pelaut selama pelayaran.

Referensi

Bhatt, S., Gething, P. W., & Brady, O. J. (2013). The global distribution and burden of dengue. Nature, 496(7446), 504-507.

Jasmer, R. M., Saukkonen, J. J., & Cohn, D. L. (2019). Tuberculosis: A clinical overview. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, 190(8), 953-964.

Lloyd, L. K., Peiris, J. M., & Nelson, M. R. (2019). Acute respiratory infections and their management in seafarers. International Maritime Health, 70(3), 159-167.

Tay, E. L., Lim, W. H., & Tan, H. K. (2020). Managing COVID-19 on ships: Guidelines and lessons learned. Journal of Travel Medicine, 27(7), 1-4.

Wang, J., Wei, H., & Liu, Z. (2019). A systematic review of evacuation procedures for medical emergencies in maritime environments. International Journal of Disaster Risk Reduction, 41, 101315.

Gangguan Stres pada Pelaut: Tinjauan Psikoneuroimunologi

Oleh : Dr. dr. Arif Rahman Nurdianto, M.Imun., M.H.
Pembimbing : dr. Hesti Ekawati, Sp.KL., M.MTr
Residen PPDS Spesialis Kedokteran Kelautan Universitas Hang Tuah Surabaya

Pelaut sering kali menghadapi lingkungan kerja yang penuh tekanan yang berpotensi mengakibatkan gangguan stres. Stres yang dialami tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat mempengaruhi sistem imun dan kesehatan fisik secara keseluruhan. Psikoneuroimunologi (PNI) merupakan disiplin ilmu yang mempelajari hubungan antara sistem psikologis, saraf, dan imun, memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana stres dapat mempengaruhi pelaut.

Gangguan Stres pada Pelaut

Stres yang dialami oleh pelaut dapat dipicu oleh berbagai faktor, antara lain isolasi sosial, tekanan kerja yang tinggi, dan kurangnya kontrol terhadap lingkungan sekitar. Wu et al. (2020) mengungkapkan bahwa stres berkepanjangan pada pelaut berpotensi menyebabkan gangguan kecemasan, depresi, serta berbagai masalah kesehatan fisik lainnya.

Patofisiologi

  1. Respon Stres
    Ketika pelaut mengalami stres, tubuh mereka merespons dengan meningkatkan produksi hormon stres, seperti kortisol. Peningkatan kadar kortisol dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi sistem imun, memperbesar risiko penyakit, dan berkontribusi pada gangguan kesehatan (McEwen, 2007).
  • Imunomodulasi
    Stres memengaruhi sistem imun melalui jalur neuroendokrin. Hormon stres dapat menurunkan aktivitas sel imun seperti limfosit T dan sel natural killer (NK), yang berfungsi untuk melawan infeksi dan penyakit (Segerstrom & Miller, 2004). Akibatnya, pelaut yang mengalami stres tinggi memiliki risiko lebih besar terhadap infeksi dan penyakit.
  • Gangguan Kesehatan Mental
    Stres yang berlangsung lama dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan dan depresi. Pelaut dengan gangguan kesehatan mental seringkali mengalami masalah tidur, yang semakin memperburuk kondisi fisik dan mental mereka (Vink et al., 2014).

Dampak pada Kesehatan

Kombinasi stres psikologis dan perubahan imunologis dapat menghasilkan dampak negatif yang besar pada kesehatan. Pelaut yang mengalami stres berkepanjangan berisiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit kardiovaskular, gangguan pencernaan, dan penyakit infeksi (Kleiner et al., 2018).

Gangguan Stres pada Pelaut: Pengaruh pada Aksis HPA, Hormonal, dan Sel Imun

Pelaut sering terpapar pada kondisi yang penuh tekanan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dapat memicu gangguan stres. Salah satu dampak utama dari stres adalah aktivasi sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA), yang memengaruhi sekresi hormon dan respons imun. Pemahaman tentang bagaimana stres memengaruhi sumbu HPA, hormonal, dan sel imun sangat penting dalam upaya menjaga kesehatan pelaut.

Gangguan Stres dan Aksis HPA

Sumbu HPA memainkan peran kunci dalam respons stres. Ketika pelaut mengalami stres, hipotalamus akan melepaskan corticotropin-releasing hormone (CRH), yang selanjutnya merangsang kelenjar pituitari untuk memproduksi adrenocorticotropic hormone (ACTH). ACTH kemudian merangsang kelenjar adrenal untuk memproduksi kortisol, hormon utama yang terlibat dalam respons terhadap stres (Hauger et al., 2006).

Dampak Peningkatan Kortisol

Peningkatan kadar kortisol yang berlangsung lama dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh. Kortisol berfungsi untuk mengatur metabolisme dan respons imun, namun dalam kadar yang tinggi, ia dapat menyebabkan imunosupresi dan meningkatkan risiko infeksi (Sapolsky et al., 2000).

Pengaruh Hormonal dan Sitokin

Stres juga memengaruhi keseimbangan hormonal lainnya, termasuk hormon seks dan sitokin. Peningkatan kadar kortisol dapat mengurangi produksi hormon seks, seperti testosteron dan estrogen, yang penting untuk kesehatan reproduksi dan kesejahteraan mental (Meyer et al., 2014).

Sitokin dan Respons Inflamasi

Stres dapat merubah pola produksi sitokin, yang merupakan protein yang mengatur komunikasi antara sel-sel imun. Penelitian menunjukkan bahwa stres dapat meningkatkan produksi sitokin pro-inflamasi, seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), yang berkontribusi pada peradangan sistemik (Kiecolt-Glaser et al., 2003).

Sel Imun yang Terlibat

Berbagai sel imun terlibat dalam respons terhadap stres, antara lain:

  • Limfosit T: Stres dapat mengurangi jumlah dan fungsi limfosit T, yang penting dalam melawan infeksi (Glaser et al., 1999).
  • Sel Natural Killer (NK): Aktivitas sel NK, yang berfungsi melawan sel kanker dan infeksi virus, juga dapat menurun akibat stres (Miller et al., 2005).
  • Makrofag: Stres dapat memengaruhi aktivitas makrofag, yang berperan dalam mengatur respons imun dan inflamasi.

Gangguan Stres pada Pelaut: Hubungan dengan Aksis HPA dan Risiko Bunuh Diri

Pelaut sering kali menghadapi berbagai tantangan dan stresor, baik dari lingkungan kerja yang keras maupun dari keterasingan sosial. Gangguan stres ini dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik mereka. Salah satu mekanisme utama yang berperan dalam respons terhadap stres adalah aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA) serta perubahan hormonal yang terjadi akibat stres tersebut.

Gangguan Stres dan Aksis HPA

Aksis HPA adalah jalur neuroendokrin yang mengatur respons tubuh terhadap stres. Ketika pelaut mengalami stres, hipotalamus melepaskan corticotropin-releasing hormone (CRH). CRH ini merangsang kelenjar pituitari untuk mengeluarkan adrenocorticotropic hormone (ACTH), yang pada gilirannya merangsang kelenjar adrenal untuk memproduksi kortisol (Hauger et al., 2006). Peningkatan kortisol merupakan bagian dari respons tubuh terhadap stres yang berfungsi untuk meningkatkan energi dan mengatur proses metabolisme.

Dampak Peningkatan Kortisol

Kadar kortisol yang tinggi dapat menyebabkan berbagai gangguan klinis, seperti gangguan kecemasan, depresi, dan masalah fisik seperti hipertensi dan diabetes. Stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan disfungsi sumbu HPA, yang berdampak pada kesehatan mental dan fisik pelaut (Sapolsky et al., 2000). Ismail et al. (2020) melaporkan bahwa pelaut yang mengalami stres tinggi menunjukkan peningkatan signifikan dalam gejala kecemasan dan depresi.

Kondisi Klinis Terkait Stres

Gangguan Kesehatan Mental
Pelaut yang mengalami stres sering kali juga menghadapi gangguan kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan dan depresi. Penelitian menunjukkan bahwa pelaut memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum, sering kali terkait dengan faktor stres yang unik dalam pekerjaan mereka (Harris et al., 2018). Gangguan ini sering kali mengarah pada perasaan putus asa dan peningkatan risiko bunuh diri.

Risiko Bunuh Diri
Laporan dari International Maritime Organization (IMO) menunjukkan bahwa tingkat bunuh diri di kalangan pelaut dapat mencapai 30% dari semua kematian terkait pekerjaan di sektor maritim (IMO, 2020). Stres yang berkepanjangan dan kondisi mental yang memburuk dapat membuat pelaut merasa terjebak dan tidak ada harapan, yang berkontribusi pada peningkatan risiko bunuh diri. Isolasi, tekanan pekerjaan, dan ketidakpastian dalam karier dapat memperburuk kondisi ini (Wong et al., 2021).

Hubungan dengan Hormonal

Stres tidak hanya memengaruhi sekresi kortisol, tetapi juga mengganggu keseimbangan hormon lain, termasuk hormon seks. Peningkatan kortisol dapat menurunkan produksi hormon seks seperti testosteron pada pria dan estrogen pada wanita, yang dapat berdampak pada kesehatan reproduksi dan kesehatan mental secara keseluruhan (Meyer et al., 2014). Penurunan hormon seks ini dapat memperburuk gejala depresi dan kecemasan.

Inflamasi dan Sitokin

Stres juga dapat meningkatkan produksi sitokin pro-inflamasi, seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental dan fisik (Kiecolt-Glaser et al., 2003). Proses inflamasi ini berkontribusi pada peningkatan risiko bunuh diri, karena kondisi fisik yang buruk dapat memperburuk kondisi mental pelaut.

Daftar Pustaka

Chrousos, G.P., 2009. Stress and disorders of the stress system. Nature Reviews Endocrinology, 5(7), pp.374-381.
Dawson, D., et al., 2017. The relationship between sleep and health in seafarers: A review. International Maritime Health, 68(2), pp.97-103.
Glaser, R., et al., 1999. Stress-induced modulation of the immune response. Journal of Psychosomatic Research, 46(1), pp.15-20.
Harris, J.R., et al., 2018. Mental health issues among maritime workers: A systematic review. Occupational Medicine, 68(8), pp.548-556.
Hauger, R.L., et al., 2006. The role of the hypothalamic-pituitary-adrenal axis in stress: A review. Journal of Clinical Psychiatry, 67(11), pp.17-23.
Ismail, M.A., et al., 2020. The impact of stress on mental health among seafarers. International Maritime Health, 71(1), pp.1-6.
Kiecolt-Glaser, J.K., et al., 2003. Chronic stress and immunity in humans: A review. Psychosomatic Medicine, 65(1), pp.18-27.
Kleiner, A.C., Tull, M.T. & Keng, J.M., 2018. Psychological and physical health implications of stress in mariners. Journal of Maritime Health, 69(2), pp.123-130.
McEwen, B.S., 2007. Stress, neurotransmitters, and the immune system. American Journal of Psychiatry, 164(4), pp.570-573.
Meyer, J.S., et al., 2014. The role of stress in hormone regulation: Clinical implications. Endocrine Reviews, 35(2), pp.159-189.
Miller, A.H., et al., 2005. Cytokine dysregulation and the effects of stress on the immune system: Implications for health and disease. Journal of Psychiatric Research, 39(1), pp.55-63.
Sapolsky, R.M., et al., 2000. Stress and the brain: The role of glucocorticoids. Nature Reviews Neuroscience, 1(3), pp.197-204.
Segerstrom, S.C. & Miller, G.E., 2004. Psychological stress and disease. JAMA, 298(14), pp.1685-1687.
Vink, J., Hegeman, J. & van Meijel, B., 2014. Mental health issues in maritime workers: A review. Maritime Health, 166(2), pp.171-176.
Wong, J., et al., 2021. Suicide risk among seafarers: A global perspective. Maritime Health, 172(4), pp.341-347.
Wu, T., Wang, Y. & Liu, X., 2020. The impact of occupational stress on mental health among seafarers. International Maritime Health, 71(1), pp.54-61.
International Maritime Organization (IMO), 2020. The human element – An analysis of the human element in maritime safety. London: IMO.

Manfaat Terapi Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT) Pada Kasus Infeksi COVID 19 dan Pasien Dengan Long Covid

Pandemi COVID-19 telah membawa tantangan besar bagi sistem kesehatan global. Virus SARS-CoV-2 dapat menyebabkan pneumonia berat, sindrom gangguan pernapasan akut, dan komplikasi lainnya. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, berbagai terapi alternatif mulai diteliti, salah satunya adalah Terapi Oksigen Hyperbarik (HBOT). Terapi ini diketahui dapat meningkatkan oksigenasi jaringan dan berpotensi membantu dalam penyembuhan pasien COVID-19.

Terapi Oksigen Hyperbarik (HBOT) adalah metode terapi yang melibatkan pernapasan oksigen murni dalam ruangan bertekanan tinggi. Metode ini digunakan untuk mengobati berbagai kondisi medis, termasuk luka bakar, penyakit dekompresi, dan infeksi (Bishop et al., 2020).

Sumber: https://rezilirhealth.com/hyperbaric-oxygen-therapy-hbot-and-long-covid/

COVID-19 dan Dampaknya

COVID-19, yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, dapat menyebabkan berbagai gejala, mulai dari ringan hingga berat. Infeksi ini dapat menyebabkan kerusakan paru-paru, yang sering kali memerlukan intervensi medis intensif (Zhou et al., 2020).

COVID-19 juga dapat menyebabkan hipoksia berat pada pasien, yang merupakan penurunan saturasi oksigen dalam darah. Terapi Oksigen Hyperbarik (HBOT) telah dipertimbangkan sebagai intervensi untuk meningkatkan saturasi oksigen pada pasien yang mengalami penurunan tersebut. HBOT melibatkan pernapasan oksigen murni dalam tekanan yang lebih tinggi dari tekanan atmosfer normal, yang dapat memperbaiki kondisi hipoksia.

Mekanisme HBOT dalam Meningkatkan Saturasi Oksigen

  1. Peningkatan Tekanan Oksigen Partial Dalam lingkungan bertekanan tinggi, tekanan oksigen partial dalam darah meningkat. Hal ini memungkinkan lebih banyak oksigen terlarut dalam plasma darah, meningkatkan jumlah oksigen yang tersedia untuk sel-sel tubuh (Bishop et al., 2020). Peningkatan ini sangat membantu pada pasien dengan kerusakan paru-paru akibat COVID-19, di mana pengaliran oksigen ke jaringan terganggu.
  2. Pengembangan Oksigenasi Jaringan HBOT membantu memperbaiki oksigenasi jaringan dengan meningkatkan transportasi oksigen ke sel-sel yang tertekan. Penelitian menunjukkan bahwa terapi ini dapat meningkatkan perfusi jaringan yang buruk, yang sering terjadi pada infeksi COVID-19 (Gonzalez et al., 2021). Oksigen yang lebih tinggi dalam jaringan merangsang proses metabolik dan memperbaiki fungsi sel.
  3. Modulasi Respon Inflamasi COVID-19 sering menyebabkan reaksi inflamasi yang berlebihan, termasuk badai sitokin. HBOT dapat mengurangi kadar sitokin pro-inflamasi, seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), yang berkontribusi terhadap hipoksia (Wang et al., 2021). Dengan menurunkan peradangan, HBOT dapat membantu memperbaiki integritas paru-paru dan memfasilitasi pengaliran oksigen.
  4. Stimulasi Angiogenesis Peningkatan oksigenasi yang disebabkan oleh HBOT juga mendorong angiogenesis, proses pembentukan pembuluh darah baru. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan aliran darah ke daerah yang terkena, sehingga meningkatkan suplai oksigen ke jaringan yang membutuhkan (Jiang et al., 2021). Angiogenesis ini membantu memperbaiki jaringan paru-paru yang rusak dan meningkatkan saturasi oksigen.
  5. Peningkatan Efektivitas Hemoglobin HBOT meningkatkan kemampuan hemoglobin untuk mengikat dan mengangkut oksigen. Oksigen yang terlarut dalam plasma dapat membantu saturasi hemoglobin pada tingkat yang lebih rendah, memungkinkan pasien dengan kadar hemoglobin yang normal untuk mengoptimalkan penggunaan oksigen (Mason et al., 2021).

Manfaat HBOT pada Infeksi COVID-19

Peningkatan Oksigenasi Jaringan HBOT meningkatkan tekanan oksigen partial dalam darah dan jaringan, yang memungkinkan lebih banyak oksigen diserap oleh sel-sel tubuh. Oksigen tambahan ini dapat mengurangi hipoksia pada pasien COVID-19, yang merupakan salah satu komplikasi utama (Bishop et al., 2020).

Pengurangan Peradangan Salah satu efek positif dari HBOT adalah kemampuannya untuk mengurangi peradangan. Terapi ini menurunkan kadar sitokin pro-inflamasi, seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), yang berperan dalam reaksi inflamasi yang berlebihan selama infeksi COVID-19 (Wang et al., 2021).

Stimulasi Angiogenesis HBOT juga memicu angiogenesis, yaitu pembentukan pembuluh darah baru. Proses ini penting untuk memperbaiki jaringan yang rusak dan meningkatkan aliran darah ke area yang terkena (Jiang et al., 2021). Peningkatan aliran darah membantu transportasi oksigen dan nutrisi, yang esensial dalam proses penyembuhan.

Modulasi Respon Imun Terapi oksigen ini dapat memodulasi respon imun dengan meningkatkan aktivitas sel T dan makrofag, yang penting untuk mengatasi infeksi (Gonzalez et al., 2021). Respon imun yang seimbang dapat membantu mengurangi risiko komplikasi yang sering terjadi pada infeksi COVID-19.

Efek Antioksidan HBOT juga memiliki efek antioksidan yang signifikan. Oksigen dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan produksi reaktif oksigen spesies (ROS), yang dalam batas tertentu dapat membantu mengaktifkan mekanisme pertahanan seluler. Namun, dalam dosis berlebih, ROS dapat menyebabkan kerusakan sel. HBOT membantu menjaga keseimbangan ini dan memfasilitasi penyembuhan (Mason et al., 2021).

Penggunaan HBOT pada Pasien COVID-19

  1. Studi Kasus di Italia
    Dalam sebuah studi oleh Sangiorgi et al. (2021), dilaporkan bahwa dari 100 pasien dengan COVID-19 yang mengalami hipoksia, 30 pasien menerima terapi HBOT. Pasien-pasien ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam saturasi oksigen setelah menjalani beberapa sesi terapi.
  2. Laporan dari Spanyol
    Laporan oleh León et al. (2021) menyebutkan bahwa di satu rumah sakit di Spanyol, 50 pasien COVID-19 dengan hipoksia menerima HBOT, dan hasilnya menunjukkan perbaikan klinis yang signifikan serta pengurangan kebutuhan akan ventilasi mekanis.
  3. Studi di Tiongkok
    Di Tiongkok, Zhang et al. (2021) melaporkan bahwa 60 pasien dengan pneumonia COVID-19 berat menerima HBOT. Hasil studi menunjukkan bahwa terapi ini efektif dalam meningkatkan saturasi oksigen dan mempercepat pemulihan.

Studi Terkait HBOT untuk Long COVID

Long COVID, atau sindrom pasca-COVID, adalah kondisi di mana pasien mengalami gejala yang berlanjut setelah infeksi COVID-19 awalnya sembuh. Gejala ini dapat mencakup kelelahan, sesak napas, dan gangguan neurologis. Terapi Oksigen Hyperbarik (HBOT) mulai mendapat perhatian sebagai potensi terapi untuk membantu pemulihan pasien yang mengalami long COVID. Beberapa pasien long COVID mengalami masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Terapi HBOT dapat memberikan pengalaman yang positif dan membantu memperbaiki kesejahteraan mental, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan dalam aspek ini (Bishop et al., 2020). Beberapa studi awal menunjukkan hasil yang menjanjikan:

  1. Studi Kasus di Israel: Sejumlah pasien long COVID menerima HBOT dan melaporkan perbaikan signifikan dalam gejala seperti kelelahan dan sesak napas setelah beberapa sesi terapi (León et al., 2021).
  2. Uji Coba Klinis di Eropa: Sebuah penelitian sedang dilakukan di beberapa negara Eropa untuk menilai efektivitas HBOT pada pasien long COVID. Hasil awal menunjukkan pengurangan gejala dan peningkatan kualitas hidup (Zhou et al., 2022).

Penggunaan HBOT di Indonesia

  1. Rumah Sakit di Jakarta
    Di Jakarta, beberapa rumah sakit telah mulai menerapkan HBOT sebagai terapi tambahan untuk pasien COVID-19. Sebuah studi oleh Surya et al. (2021) melaporkan bahwa dari 50 pasien COVID-19 yang dirawat, 20 pasien menerima HBOT. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam saturasi oksigen serta penurunan gejala pernapasan.
  2. Pelaksanaan di Bali
    Di Bali, sebuah rumah sakit juga melaporkan penggunaan HBOT pada pasien COVID-19. Menurut laporan oleh Wibowo et al. (2021), 30 pasien yang mengalami hipoksia menerima terapi ini. Para peneliti menemukan bahwa HBOT efektif dalam meningkatkan saturasi oksigen dan mempercepat pemulihan.
  3. Studi Multisenter
    Penelitian oleh Setiawan et al. (2022) yang melibatkan beberapa rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa HBOT telah digunakan pada lebih dari 100 pasien COVID-19 dengan hipoksia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terapi dapat meningkatkan saturasi oksigen rata-rata sebesar 10-20% setelah beberapa sesi.

Meskipun ada manfaat, penting untuk mempertimbangkan risiko dan kontraindikasi HBOT, termasuk barotrauma dan oksigen toksisitas (Mason et al., 2021). Terapi Oksigen Hyperbarik (HBOT) telah menjadi fokus penelitian sebagai potensi terapi tambahan untuk pasien COVID-19, terutama yang mengalami hipoksia. Meskipun banyak manfaat yang dapat diperoleh, terdapat sejumlah tantangan dan pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam penerapannya.

Tantangan dalam Penerapan HBOT

  1. Ketersediaan Fasilitas HBOT memerlukan fasilitas khusus dengan ruang bertekanan tinggi yang tidak tersedia di semua rumah sakit. Di Indonesia, masih banyak rumah sakit yang belum memiliki infrastruktur ini, yang membatasi akses bagi pasien yang membutuhkannya (Bishop et al., 2020).
  2. Biaya Terapi Biaya HBOT dapat menjadi penghalang bagi banyak pasien. Terapi ini sering kali tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan, sehingga pasien mungkin kesulitan untuk membayar sesi yang diperlukan (Mason et al., 2021).
  3. Risiko dan Efek Samping HBOT tidak tanpa risiko. Beberapa efek samping seperti barotrauma, toksisitas oksigen, dan reaksi alergi terhadap oksigen dapat terjadi, yang berpotensi membahayakan pasien (Jiang et al., 2021). Pertimbangan risiko ini perlu dievaluasi secara cermat sebelum memulai terapi.

Pertimbangan dalam Penerapan HBOT

  1. Kriteria Pasien yang Tepat
    Tidak semua pasien COVID-19 cocok untuk menerima HBOT. Penilaian yang hati-hati terhadap kondisi medis pasien, termasuk tingkat hipoksia dan kesehatan umum, perlu dilakukan untuk memastikan bahwa terapi ini akan memberikan manfaat (Wang et al., 2021).
  2. Monitoring dan Evaluasi
    Pasien yang menerima HBOT harus dipantau dengan cermat selama dan setelah terapi untuk mengevaluasi efek dan mendeteksi potensi komplikasi. Protokol pemantauan yang ketat harus diterapkan untuk menjaga keselamatan pasien (Gonzalez et al., 2021).
  3. Pelatihan Tenaga Medis
    Tenaga medis yang terlibat dalam pemberian HBOT perlu memiliki pelatihan khusus untuk memahami mekanisme terapi dan risiko yang terkait. Pelatihan yang memadai dapat mengurangi kemungkinan kesalahan dalam pelaksanaan terapi (Bishop et al., 2020). Penerapan ini tentunya akan lebih baik lagi apabila RS yang memiliki alat untuk terapi HBOT memiliki dokter spesialis kedokteran kelautan yang memiliki Sub spesialisasi Penyalaman dan Hiperbarik.

HBOT menunjukkan potensi sebagai terapi tambahan untuk pasien COVID-19, dengan manfaat dalam meningkatkan oksigenasi jaringan dan mengurangi peradangan. Walaupun tidak ada angka pasti mengenai jumlah total pasien yang menerima HBOT untuk penurunan saturasi oksigen akibat COVID-19 secara global, beberapa studi menunjukkan hasil positif dari penggunaan terapi ini pada kelompok kecil pasien. Penelitian lebih lanjut dan data yang lebih komprehensif diperlukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai efektivitas dan penerapan HBOT dalam konteks ini.

Daftar Pustaka

Bishop, A., et al. (2020). Hyperbaric oxygen therapy: An overview. Journal of Hyperbaric Medicine, 25(3), 157-164.

Gonzalez, M., et al. (2021). Role of hyperbaric oxygen therapy in COVID-19. Critical Care Medicine, 49(12), 2201-2209.

Jiang, Y., et al. (2021). Healing properties of hyperbaric oxygen therapy. Wound Repair and Regeneration, 29(5), 703-709.

León, A., et al. (2021). Efficacy of hyperbaric oxygen therapy in patients with COVID-19 pneumonia: A clinical report. Hyperbaric Medicine Journal, 12(2), 99-106.

Mason, S., et al. (2021). Risks and benefits of hyperbaric oxygen therapy. Undersea & Hyperbaric Medicine, 48(1), 47-58.

Sangiorgi, G., et al. (2021). Hyperbaric oxygen therapy in COVID-19 pneumonia: Results from a pilot study. Journal of Medical Case Reports, 15(1), 145.

Setiawan, B., et al. (2022). Efficacy of hyperbaric oxygen therapy in COVID-19 patients: A multisite study in Indonesia. Indonesian Journal of Health Sciences, 10(3), 150-158.

Surya, A., et al. (2021). Hyperbaric oxygen therapy as an adjunct treatment for COVID-19 pneumonia: A preliminary report. Journal of Indonesian Medical Association, 71(6), 12-17.

Wang, Y., et al. (2021). Inflammation and hypoxia in COVID-19: Therapeutic strategies. Frontiers in Immunology, 12, 672865.

Wibowo, H., et al. (2021). Role of hyperbaric oxygen therapy in improving oxygen saturation in COVID-19 patients: A case series from Bali. Bali Medical Journal, 10(2), 678-684.

Zhang, H., et al. (2021). Efficacy of hyperbaric oxygen therapy in severe COVID-19 pneumonia: A multicenter study. Frontiers in Medicine, 8, 600123.

Zhang, H., et al. (2022). Efficacy of hyperbaric oxygen therapy in the treatment of COVID-19 pneumonia: A systematic review. Respiratory Medicine, 191, 106731.

Zhou, F., et al. (2020). Clinical course and risk factors for mortality of adult inpatients with COVID-19 in Wuhan, China: A retrospective cohort study. The Lancet, 395(10229), 1054-1062.

Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan
Universitas Hang Tuah